|
Kekasih, adalah bulan benderang yang mengajarku tentang
kasih sayang. Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti mencintai rembulan,
karena itu berarti aku tak bisa memelukmu dan memberi ciuman. |
Sabtu, 06 Juni 2026
Oleh: Wangi Putri Ali
Konflik
agraria di Indonesia tentu bukan cerita baru. Ini adalah masalah lama yang
masih terus berulang hingga hari ini, mencerminkan bahwa sistem kita masih
mengalami ketimpangan yang nyaris mengakar. Persoalan tanah tidak hanya terjadi
di satu atau dua tempat, tetapi dapat kita temukan hampir di seluruh penjuru
Indonesia.
Ironisnya,
konflik ini bukan muncul karena masyarakat ingin menguasai tanah milik orang
lain. Justru sebaliknya, mereka berusaha mempertahankan tanah milik mereka
sendiri—yang telah mereka rawat dan jaga secara turun-temurun. Contohnya bisa
kita lihat di Kendeng dan Papua. Lahan-lahan produktif yang biasa digunakan
masyarakat sebagai sumber kehidupan dan pelestarian alam justru diincar
pemerintah untuk kepentingan tambang atau perkebunan.
Penolakan
yang dilakukan masyarakat lokal sering kali dibalas dengan tekanan, intimidasi,
bahkan penangkapan. Yang lebih menyakitkan, suara masyarakat kerap tidak
terdengar. Media lebih banyak mengulas soal kemajuan investasi daripada
memberitakan kondisi masyarakat yang terkena dampak negatifnya. Aparatur negara
yang seharusnya menjadi pelindung justru lebih sigap mengamankan mesin-mesin
berat daripada membela warga yang ingin bercocok tanam di tanahnya sendiri.
Sangat menyedihkan, mereka yang memperjuangkan haknya justru dituduh menghambat
pembangunan dan dianggap melawan negara.
Di tengah
konflik agraria yang erat kaitannya dengan persoalan ekonomi pertanahan ini,
kita patut mengapresiasi langkah MPM PP Muhammadiyah yang turun langsung
mendampingi dan mengadvokasi warga. Pendampingan ini bukan hanya soal advokasi
hukum, tetapi tentang keberpihakan pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tapi juga
harus hadir di tengah masyarakat, memberi kekuatan bagi mereka yang lemah.
Yang patut
kita tanyakan sekarang: sampai kapan negara akan membiarkan konflik agraria ini
terus berulang? Mengapa ormas seperti Muhammadiyah justru bisa hadir dan
berdiri bersama rakyat, sedangkan kehadiran negara justru sering kali tidak
terlihat?
Isu konflik
agraria sangat berkaitan dengan cara kita memandang tanah. Di Indonesia, tanah
lebih sering dianggap sebagai aset ekonomi yang bisa diuangkan, bukan sebagai
ruang hidup. Jika tanah hanya dipandang sebagai komoditas, maka nilai sosial,
budaya, dan ekologisnya akan terpinggirkan. Dan inilah yang menjadi akar dari
banyak konflik agraria.
Akar
masalah yang belum terselesaikan ini membawa dampak berkepanjangan: investor
mudah masuk, izin konsesi mudah keluar, sementara masyarakat diminta
berkompromi—padahal sejak awal mereka sudah berada dalam posisi yang lemah dan
tidak mampu melawan.
Tanah
seharusnya kita lihat bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai ruang
hidup yang menyatu dengan identitas, spiritualitas, dan kesejahteraan
masyarakat. Tanah yang telah dikelola secara turun-temurun seharusnya menjadi
hak mereka. Tugas negara semestinya menjadi pelindung rakyat, bukan justru
memihak korporasi.
Muhammadiyah
telah menunjukkan contoh nyata: mengelola tanah wakaf untuk pendidikan, layanan
kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ini membuktikan bahwa tanah bisa memberi
manfaat besar bagi masyarakat tanpa harus dikomersialkan secara semena-mena—dan
bisa menjadi model keadilan agraria yang manusiawi.
Konflik
agraria sejatinya bukan sekadar soal siapa yang punya sertifikat, tetapi
tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak dilindungi. Selama logika
pertanahan lebih berpihak pada pasar dan modal besar, ketimpangan akan terus
terjadi. Tanah bukan hanya soal batas fisik atau legalitas, tapi soal hak atas
keadilan sosial yang harus kita perjuangkan bersama.
*Penulis
adalah Mahasiswi Ekonomi Pembangunan, Universitas Ahmad
Dahlan
sumber tulisan: https://opini.mediamu.com/tanah-tak-hanya-sekadar-aset-ekonomi-tapi-juga-ruang-hidup
Rabu, 27 Mei 2026
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
(3)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Setelah seharian kemarin
kita disunahkan untuk berpuasa sehari bertepatan dengan hari arofah,
hari ini saatnya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Puasa arofah
bukan saja melaksanakan sunah Rasulullah saw, bukan pula bersimpati kepada
rekan kita yang pada hari ini berkesempatan melaksanakan ibadah Haji, puasa
arofah adalah simbol ketaatan kita mengikuti perintah para nabi.
Nabi Ibrahim as. Adalah pilihan Allah. Ada
empat sebutan yang ditujukan beliau. Abul Anbiya’ artinya Bapak para
nabi, karena garis keturunan beliau, semua menjadi nabi. Dari putranya, Nabi Ishaq as, lahir
keturunan Bani Israil seperti Nabi Yaqub, Yusuf, Musa, Dawud, Sulaiman, hingga
Isa as. Dari Nabi Ismail as, lahir nabi sekaligus rasul terakhir, yaitu Nabi
Muhammad SAW.
Beliau juga dijuluki Khalilullah yang
artinya “kekasih Allah”. Gelar ini diberikan karena cinta, ketaatan, dan
ketundukan Nabi Ibrahim yang luar biasa mutlak hanya kepada Allah SWT. Hanifan
Muslimin yang berarti “Seorang yang lurus lagi berserah diri” sebutan
lainnya.
Perayaan hari raya Qurban tak lepas dari peran
Nabi Ibrahim as. Bahkan, sebelum diangkat menjadi nabipun, Ibrahim kecil telah diberi
tugas oleh Allah untuk berhadapan dengan Raja Namrud. Ibrahim adalah
putra dari Azar seorang pemahat patung kesukaan Raja Namrud. Setelah
Ibrahim lahir, dan ternyata seorang laki-laki, maka Azar membuang Ibrahim yang
masih bayi ke sungai. Hal ini dilakukan agar tidak terkena aturan Raja, yang
mengatakan bahwa, siapapun bayi yang lahir laki-laki, maka harus dibunuh.
Ketegaran Nabi Ibrahim as dalam menghadapi
cobaan yang melahirkan ritual-ritual keagamaan hingga kini. Setelah menggu
begitu lama, hingga tua, tak kunjung juga diberi momongan. Setelah mendapatkan
momongan dan tumbuh sebagai anak kecil, dimana orang tua baru senang-senangnya
bermain, Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Betapa terpukulnya
perasaanya. Namun, karena ini adalah perintah yang harus dilakukan. Ismail
sendiripun yang juga digadang menjadi nabi, pasrah mendengar titah ayahnya.
Nabi Ibrahim as mendapat gelar Ulul
'Azmi (rasul yang memiliki ketabahan dan tekad yang luar biasa). Kehidupan
beliau adalah samudra keteladanan yang tidak pernah kering untuk digali. Nabi
Ibrahim tidak menerima begitu saja tradisi menyembah berhala yang dilakukan
oleh ayah dan kaumnya. Beliau menggunakan akal sehat dan mengobservasi alam
semesta (bintang, bulan, dan matahari) untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.
Nabi Ibrahim berani berdakwah menentang
arus, bahkan berhadapan langsung dengan penguasa zalim. Namun, saat mendebat
ayahnya, beliau tetap menggunakan tutur kata yang sangat lembut dan penuh
hormat, memanggil dengan sebutan "Wahai
ayahku.
Nabi Ibrahim tidak egois. Setiap kali
berdoa, beliau hampir tidak pernah melupakan keturunannya. Beliau memohon agar
anak cucunya menjadi orang yang mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah
berhala, dan dijadikan sebagai umat yang berserah diri.
Senin, 04 Mei 2026
Dalam sebuah organisasi, tentu banyak gagasan bermunculan, baik secara lisan maupun tertulis. Muktamar adalah sebuah pertemuan atau konferensi besar yang diadakan oleh suatu organisasi atau kelompok untuk membahas isu-isu penting, berbagi pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mengambil keputusan penting. Biasanya, muktamar dihadiri oleh anggota atau delegasi dari organisasi tersebut, dan juga dapat melibatkan pembicara tamu, ahli industri, atau pemangku kepentingan lainnya.
Muktamar dapat diadakan oleh berbagai jenis organisasi, seperti lembaga pemerintah, badan amal, asosiasi profesi, atau perusahaan. Acara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, tergantung pada kompleksitas dan skala topik yang dibahas.
Masa awal Muktamar di Muhammadiyah semula adalah
tahunan (1912 – 1923). Pada masa awal berdirinya di bawah kepemimpinan KH.
Ahmad Dahlan, forum tertinggi ini belum memiliki nama khusus yang formal dan
sistematis seperti sekarang. Pertemuan dilakukan setiap tahun di Yogyakarta
untuk membahas perkembangan organisasi.
Periode kedua (1924 – 1940), dibawah kepemimpinan
KH Ibrahim, Muhammadiyah mulai menggunakan istilah "Kongres". Istilah
ini diserap dari bahasa Inggris (Congress)
yang saat itu sangat populer di kalangan organisasi pergerakan nasional untuk
menunjukkan semangat modernitas dan kemajuan.
Tahun 1944 – 1946 adalah “Masa Darurat”, akibat
situasi Perang Dunia II dan Revolusi Fisik (perang kemerdekaan). Muhammadiyah
tidak bisa menyelenggarakan pertemuan besar secara normal. Sebagai gantinya,
diadakan pertemuan terbatas yang disebut Congress Dharurot (Kongres Darurat).
Perubahan menjadi Muktamar dimulai tahun 1950. Setelah
Indonesia berdaulat sepenuhnya, Muhammadiyah menyelenggarakan forum tertinggi
ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Pada momen inilah nama "Kongres"
resmi diganti menjadi "Muktamar".
Muktamar
merupakan agenda tertinggi dalam organisasi Muhammadiyah. Ibarat sebuah negara,
Muktamar adalah "sidang paripurna" di mana arah masa depan organisasi
ditentukan. Adapun tujuan dari muktamar adalah:
Forum
Tertinggi. Muhammadiyah adalah organisasi yang dikelola secara demokratis dan
kolektif-kolegial. Muktamar menjadi wadah bagi seluruh perwakilan wilayah dan
daerah di Indonesia (bahkan cabang istimewa di luar negeri) untuk menggunakan
hak suaranya. Di sinilah legitimasi kepemimpinan dibangun.
Regenerasi.
Salah satu agenda paling krusial adalah pemilihan Anggota Pimpinan Pusat
Muhammadiyah untuk periode berikutnya. Muhammadiyah dikenal memiliki sistem
pemilihan yang unik. Peserta memilih 13 nama dari sekian banyak calon. 13 orang
terpilih tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan
menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum.
Laporan
Pertanggungjawaban dan Evaluasi. Muktamar menjadi ajang bagi pimpinan periode
berjalan untuk melaporkan apa saja yang sudah dicapai, kendala yang dihadapi,
dan bagaimana pengelolaan keuangan serta aset organisasi (seperti sekolah,
rumah sakit, dan panti asuhan) selama 5 tahun terakhir.
Program
Kerja. Dunia terus berubah, dan Muhammadiyah perlu menyesuaikan langkahnya. Dalam
Muktamar, disusun Program Kerja dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah untuk
menghadapi isu-isu kontemporer, baik di level nasional maupun global (seperti
perubahan iklim, ekonomi digital, hingga politik).
Silaturahmi
dan Syiar. Selain urusan formal administrasi, Muktamar adalah ajang konsolidasi
akbar. Ribuan hingga jutaan penggembira biasanya hadir untuk merayakan semangat
pembaruan. Ini berfungsi untuk memperkuat ikatan batin antarkader (ukhwah) agar
tetap solid dalam menjalankan misi dakwah.
Sabtu, 02 Mei 2026
oleh : DR. HM. Khoiruddin Bashori
Aktualisasi diri adalah sebuah konsep
psikologi yang merujuk pada keinginan seseorang untuk mengembangkan seluruh
potensi, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya hingga mencapai titik maksimal. Secara
sederhana, ini adalah proses menjadi "versi terbaik dari diri
sendiri."Maslow menjelaskan, manusia memiliki
lima tingkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur),
keamanan, sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah
perasaan terpenuhi ketika mereka mampu mengembangkan potensi diri sepenuhnya
dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Menurut Maslow, kebahagiaan
sejati tidak datang dari kepemilikan materi (koleksi barang), tetapi dari
pencapaian potensi diri. Koleksi materi mungkin memenuhi kebutuhan dasar atau
kebutuhan penghargaan, tetapi tidak memberikan kepuasan jangka panjang seperti
yang diberikan oleh aktualisasi diri.
Setiap individu memiliki
dorongan bawaan untuk mencapai aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk menjadi
diri sendiri sepenuhnya dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Kebahagiaan
sejati datang ketika seseorang hidup selaras dengan "diri sejati"
(true self) dan tidak terhambat oleh tekanan sosial atau harapan orang lain.
Eudaimonia, konsep yang berasal
dari filsafat Aristoteles menjelaskan, kebahagiaan berasal dari hidup yang
bermakna dan mengembangkan potensi diri. Aktualisasi potensi diri adalah bentuk
eudaimonia, di mana kebahagiaan tidak bergantung pada kepemilikan materi,
tetapi pada pencapaian tujuan yang bermakna dan pengembangan diri.
Kebahagiaan sejati tidak
ditentukan oleh banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana
seseorang dapat mengaktualisasikan potensi dirinya. Aktualisasi diri dan
eudaimonia adalah konsep-konsep kunci yang menjelaskan mengapa dengan fokus
pada aktualisasi diri, seseorang dapat mencapai kebahagiaan yang lebih autentik
dan tahan lama.
Ciri-Ciri Orang yang Mencapai Aktualisasi
Diri
- Penerimaan Diri: Mereka menerima kekurangan diri sendiri, orang lain, dan kodrat alam tanpa rasa mengeluh yang berlebihan.
- Spontanitas: Bertindak secara alami dan jujur pada perasaan sendiri, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.
- Fokus pada Masalah: Lebih peduli pada pemecahan masalah di luar diri mereka (misi hidup) daripada sekadar ego pribadi.
- Kemandirian (Otonomi): Tidak terlalu bergantung pada pujian atau opini orang lain untuk merasa bahagia.
- Apresiasi yang Terus Menerus: Mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana di kehidupan sehari-hari (seperti matahari terbenam atau bunga yang mekar) berulang kali dengan rasa syukur.
Minggu, 12 April 2026
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Candirejo, pada hari Ahad, 12 April 2026 berkesempatan menyelanggarakan kegiatan rutin, berupa pengajian triwulan. Berlangsung di Masjid Ash Shodiqul Wa’di, Kalongan, Candirejo Ngawen, Klaten. Aktivitas ini menyuburkan pengajian rutin yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu.
Sebagai
tuan, Bapak H. Mudzakir mengucapkan terima kasih atas kehadiran jama’ah
sekaligus memohon maaf apabila dalam menerima tamu kurang berkenan. Sekaligus
melaporkan bahwa masjid-masjid di lingkungan Candirejo, dibawah asuhan PRM terus
aktif menyelenggarakan pengajian atau kajian. Karena hidupnya Muhammadiyah dari
pengajian yang dilaksanakan secara terus-menerus.
Sementara
itu, Bapak Agung Widodo, S.Pd, M.Pd juga memohon ijinkan teman-teman,
karena beberapa Pimpinan belum dapat begabung, karena berbarengan dengan acara
lain. Baik Pimpinan maupun Warga Muhammadiyah, meski ada perbedaan tetap kompak
sebagai ujud ukhuwah Islamiyah.
Bapak
H. Rusmanto, MP., sebagai nara sumber menekankan pentingnya
penanaman karakter sejak dini. Karena karakter sebagai pondasi kehidupan anak
seperti: kejujuan, kedisiplinan, empati dan hormat kepada orang lain. Hal ini
sejalan dengan prinsip dakwah, yaitu “permudahkanlah, jangan dipersulit”.
Apalagi
bila penanaman karakter tersebut diimplementasikan dalam surat al fatihah, akan
semakin jelas anak membedakan mana yang benar dan salah, memiliki sikap sopan
dan beretika, dan mampu mengontrol emosi dan perilaku.
Menanamkan karakter Al-Fatihah sejak dini
berarti membantu anak memahami dan mempraktikkan nilai-nilai utama yang
terkandung dalam Surah Al-Fatihah, bukan sekadar menghafalnya, tapi mampu
mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Al-Fatihah Penting untuk Pendidikan
Karakter Anak? Karena Al-Fatihah merupakan Ummul Kitab (induk Al-Qur’an),
yang di dalamnya terdapat fondasi akidah, ibadah, dan akhlak. Jika ditanamkan
sejak dini, anak akan tumbuh dengan: kesadaran bertuhan, sikap syukur, rendah
hati, disiplin beribadah, dan perilaku yang lurus.
Ciri utama bahwa dakwah berhasil, yaitu bila
semua ajarannya diamalkan. Indikator lainnya diantaranya: lebih memahami ajaran
Islam dengan benar, Tidak mudah terpengaruh paham yang keliru. Perubahan
pemahaman ini akan menimbulkan perubahan sikap dan perilaku nyata.
Selasa, 07 April 2026
Selasa,
7 April 2026 bertempat di Masjid Ash Shodiqul Wa’di Kalongan, Candirejo Ngawen
Klaten telah berlangsung pertemuan rutin Pimpinan Ranting Muhammadiyah
Candirejo, dengan topik utama sosialisasi e-KTAM melalui MASA. Sebagai naras
umber adalah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten.
Muhammadiyah terus berinovasi di tengah
perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Dalam Rapat Koordinasi
Nasional (Rakornas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Ismail Fahmi,
menyampaikan langkah besar organisasi itu untuk memperkuat transformasi digital
melalui sebuah inisiatif bernama Muhammadiyah Digital Universe (MDU).
MDU adalah
sebuah ekosistem digital terintegrasi yang dikembangkan oleh Muhammadiyah
untuk memperkuat langkah menuju era digital dan memperkuat tata kelola
organisasi berbasis data. Inisiatif ini menyatukan berbagai layanan digital
dalam satu ekosistem terpadu untuk memudahkan anggota mengakses aktivitas
persyarikatan.
Berikut adalah komponen utama dan tujuan dari Muhammadiyah Digital Universe:
- Ekosistem Terintegrasi: MDU menyatukan berbagai platform digital, termasuk MASA (Muhammadiyah Aksi Satu Aplikasi), Muhammadiyah ID, dan SatuMu dalam satu fondasi transformasi digital.
- Identitas Digital Tunggal (Muhammadiyah ID): Platform ini menghadirkan sistem identitas digital tunggal (Muhammadiyah ID) yang memungkinkan anggota untuk mengakses seluruh layanan MDU secara aman dan terintegrasi.
- MASA (Muhammadiyah Aksi Satu Aplikasi): Berfungsi sebagai pusat layanan yang menghubungkan anggota dengan fitur dan aktivitas persyarikatan.
- Kemudahan Pendaftaran KTAM: MDU terhubung dengan sistem pendaftaran Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM), yang memudahkan keluarga besar Muhammadiyah untuk mendaftar.
- Tujuan Transformasi: Langkah ini bertujuan meningkatkan digitalisasi organisasi agar lebih efisien dan modern, sejalan dengan prinsip gerakan modernis.









