Senin, 27 Juli 2026

Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Lambaian dari Balik Ruang Isolasi

 

Oleh: Nanang S. Diyanto

"Saya capek... jengkel... saya mau pulang."

Kalimat itu meluncur lirih dari balik masker oksigen. Bukan teriakan, bukan pula amarah yang meledak. Hanya suara seorang laki-laki yang seolah telah kehabisan tenaga untuk melawan keadaan.

Saya menoleh. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Infus yang baru beberapa saat terpasang kembali tercabut. Sprei putih berubah merah. Tisu-tisu penuh bercak darah berserakan di lantai ruang isolasi.

Saya menarik napas panjang.

"Kalau bapak capek, saya lebih capek," kata saya, berusaha menahan emosi.

"Kalau bapak jengkel, saya juga lebih jengkel. Ini sudah empat kali sejak kemarin sore bapak mencabut infus."

Pandemi mengajarkan satu hal yang tidak pernah kami pelajari di bangku kuliah. Bahwa kelelahan ternyata bukan hanya milik tenaga kesehatan. Pasien pun bisa kehabisan harapan.

Di ranjang sebelah, istrinya yang sama-sama terpapar Covid-19 ikut bersuara. Dengan logat Jawa yang kental, kemarahan yang lama dipendam akhirnya tumpah.

"Kurang ajar, Mas. Sudah dibilangi jangan keluyuran, tetap saja keluyuran. Orang di rumah yang hati-hati malah ikut ketularan. Wis ben, wong ora iso diatur..."

Barangkali itu bukan sekadar kemarahan seorang istri kepada suaminya. Di dalamnya ada rasa takut, cemas, kecewa, bahkan penyesalan yang selama berhari-hari dipendam dalam ruang isolasi yang sunyi.

Saat itu, ruang perawatan bukan hanya dipenuhi suara monitor dan desis oksigen. Ia juga menjadi tempat bertemunya rasa bersalah, saling menyalahkan, dan ketidakberdayaan.

Saya kembali menyiapkan infus.

"Pak, ini saya pasang untuk terakhir kalinya. Kalau nanti dicabut lagi, saya benar-benar tidak mau memasangnya lagi. Di luar sana masih banyak orang yang menunggu kamar ini. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan dirawat."

Ucapan itu keluar begitu saja. Mungkin terdengar keras. Namun saat gelombang Covid-19 mencapai puncaknya, setiap tempat tidur adalah harapan yang diperebutkan. Di luar rumah sakit, ambulans datang silih berganti. Di dalam, kami menghitung oksigen, obat, tenaga, bahkan waktu.

Laki-laki itu menundukkan kepala.

Beberapa saat kemudian ia berbisik pelan.

"Maaf, Mas... saya salah."

Saya menghentikan pekerjaan sejenak.

"Saya jengkel. Di rumah dimarahi istri. Di rumah sakit juga dimarahi. Makanya infus saya cabut... biar semuanya selesai."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Saat itulah saya sadar, yang sedang saya hadapi bukan sekadar pasien dengan saturasi oksigen yang menurun. Di hadapan saya ada seseorang yang sedang kehilangan kendali atas hidupnya. Tubuhnya diserang virus, pikirannya dipenuhi ketakutan, sementara harga dirinya perlahan runtuh oleh rasa bersalah kepada orang-orang yang ia cintai.

Saya mengusap pelan dadanya.

"Sudah, Pak. Sekarang tugas bapak cuma satu: sembuh."

Tak ada lagi kata-kata. Hanya tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pandemi memang memperlihatkan wajah manusia yang paling rapuh. Virus itu menyerang paru-paru, tetapi juga merambat ke ruang-ruang batin. Banyak orang sesungguhnya tidak kalah oleh penyakit, melainkan oleh kesepian, rasa takut, dan putus asa.

Sebagai tenaga kesehatan, kami memang memasang infus, memberikan obat, mengatur oksigen, dan memantau tanda-tanda vital. Namun sering kali, pekerjaan yang paling berat justru tidak tercatat dalam rekam medis: mendengarkan, menenangkan, dan menjaga agar seseorang tetap memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Hari berganti hari. Sebagian pasien pulang dengan langkah pelan. Sebagian lagi harus kami antar dalam keheningan yang tak sanggup diceritakan.

Setiap kali giliran dinas berakhir, saya selalu berhenti sejenak di depan pintu ruang isolasi. Saya mengangkat tangan, melambaikan perpisahan kepada mereka yang masih berjuang di balik kaca.

Hampir selalu, mereka membalas lambaian itu.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua telapak tangan yang saling melambai, dipisahkan pintu, masker, dan ancaman virus yang tak kasatmata.

Namun di situlah kami belajar bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Sebuah lambaian.

Yang diam-diam berkata, "Bertahanlah. Kita akan melewati ini bersama."

 Ponorogo, 27 Juli 2021

Read More
      edit
Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Kebaikan Semu

 

sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723182345-92-1384270/4400-pekerja-jawa-timur-terancam-kena-phk

oleh : Jamil Azzaini 
Sabtu lalu saya pergi hendak “mewisuda” para calon pengusaha muda di “pesantren” wirausaha yang saya pimpin di Klaten Jawa Tengah. Pesantren wirausaha ini mendidik para calon wirausaha selama enam bulan. Setiap angkatan hanya menerima 20 calon wirausaha putra, lulusan SLTA, berusia antara 18-22 tahun. Mereka diseleksi dari seluruh Indonesia. Pendidikan yang dilakukan selain melalui transfer knowledge, pemberian skill khusus, juga mendorong perubahan attitude positif, produktif dan kontributif.
Ketika di pesawat menuju ke tempat wisuda, saya duduk bersebelahan dengan mas Bambang (29) yang baru saja terkena PHK. Dalam kesempatan itu mas Bambang bercerita, “Atasan saya sentimen dengan saya, pak. Dia katakan saya tidak bisa memenuhi standar kerja dia. Padahal target yang diberikan kepada saya selalu tercapai. Di sisi lain banyak yang kualitas kerjanya jauh di bawah saya tapi tidak di PHK. Saya nggak habis pikir, dia satu almamater dengan saya bahkan boleh dikata selama ini hubungan kami sangat baik.”
Setelah mas Bambang selesai mengungkapkan semua uneg-unegnya, saya ajukan pertanyaan sederhana kepada beliau. ‘Sejujurnya mas Bambang menyukai pekerjaan di perusahaan itu tidak?’ Dengan sedikit menarik napas, mas Bambang menjawab. ‘Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai pekerjaan itu. Saya terpaksa, dari pada ngganggur. Saya juga perlu status sosial di depan calon mertua saya.’
Tanpa menunggu mas Bambang selesai berkomentar saya langsung berkata, ”Pilihan bos anda adalah tepat. Mem-PHK anda justru menyelamatkan hidup anda dalam jangka panjang. Dia tidak ingin anda bekerja bukan pada jalur sejati anda. Dia tidak ingin memberi kebaikan semu kepada anda.”
“Kebaikan semu?” sergah mas Bambang.
‘Ya, bila bos anda membiarkan anda bekerja dengan keterpaksaan dan tetap menjadikan anda sebagai karyawan karena pertimbangan almamater dan hubungan baik, maka sesungguhnya bos anda memberi kebaikan semu kepada anda. Anda seharusnya bersyukur karena di-PHK sekarang. Bagaimana kalau anda di PHK di usia senja? Anda akan sangat sulit mencari pekerjaan di tempat lain. Sementara saat ini, usia anda masih sangat muda dan masih memiliki kesempatan luas untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.’
Kebaikan semu muncul ketika sikap dan perilaku positif yang kita tunjukkan bertentangan dengan nurani kita. Kita membiarkan staf kita yang tidak memiliki kemampuan ketika bekerja, itu adalah kebaikan semu. Kita memberi pujian dan penghargaan kepada orang lain yang tidak tepat, itu juga kebaikan semu. Kita mendukung orang untuk menjadi pimpinan padahal kita yakin bahwa dia tidak mampu, sesungguhnya kebaikan kita adalah kebaikan semu. Dalam jangka panjang, kebaikan semu akan menyesatkan orang yang menerimanya.
Kebaikan semu dari para negara donor, telah menjadikan negara berkembang terlilit hutang berkepanjangan. Kebaikan semu dari para mitra kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), telah menjadikan para petinggi KPU meringkuk di dalam jeruji besi.
Nah, berapa orang yang telah menjadi korban kebaikan semu dari anda selama ini?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Read More
      edit

Minggu, 12 Juli 2026

Published Juli 12, 2026 by with 0 comment

Spiritualitas Embun

 

oleh: Yudi Latif, Ph. D

Saudaraku, jadilah seperti embun.

Embun adalah hawa yang mendingin hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.

Demikian pula manusia. Saat panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia, melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.

Di situlah embun lahir. Ia tidak memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.

Embun tidak tinggal lama. Saat mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan bentuk yang sempat dipinjamnya.

Begitu pula kesadaran. Ketika cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang menghidupi.

Demikianlah embun menghilang: bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

Read More
      edit