Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2026

Published September 16, 2026 by with 0 comment

Ortu di Era Deep Learning

Prof Suyanto PhD

KRjogja.com - DI era Pembelajaran Mendalam, orangtua tidak cukup menjadi pengantar anak ke sekolah, kemudian merasa tugas pendidikan telah selesai. Sekolah memiliki mandat, guru memiliki tanggung jawab, dan kepala sekolah memimpin ekosistem pembelajaran. Anak-anak tidak hidup hanya di ruang kelas semata. Ia pulang ke rumah, berinteraksi dengan keluarga, bermain gawai, meniru percakapan orang dewasa, dan menyerap nilai dari kebiasaan hidup dan kehidupan sehari-hari di rumah. Karena itu, rumah adalah ruang pedagogis kedua yang sangat penting bagi anak.

Deep Learning menghendaki anak belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Tiga prinsip itu sulit tumbuh jika pengalaman anak di rumah bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan sekolah. Di sekolah anak diajak jujur, tetapi di rumah ia melihat orang dewasa memaklumi kebohongan kecil. Di kelas anak dilatih menghargai proses, tetapi di rumah ia hanya ditanya nilai, ranking, dan hasil akhir. Guru mendorong refleksi, tetapi orangtua hanya memberi perintah, kritik, dan perbandingan. Dalam situasi seperti itu, anak mengalami disonansi nilai: sekolah menanam, rumah mencabut.

Karena itu, orangtua perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan penonton. Orangtua harus memahami arah pembelajaran sekolah, berkomunikasi dengan guru, dan ikut menciptakan suasana rumah yang mendukung tumbuhnya rasa ingin tahu, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, komunikasi, kesehatan, dan karakter anak. Keterlibatan ini tidak berarti orangtua mengambil alih tugas guru, melainkan menjadi mitra yang memperkuat pesan pendidikan.

Dalam kerangka itu, orangtua dapat berperan sebagai feedback loop bagi sekolah. Mereka melihat perilaku anak setelah pulang sekolah: apakah anak makin berani bertanya, lebih suka membaca, mampu mengatur waktu, lebih santun berkomunikasi, atau justru makin tertekan dan kehilangan minat belajar. Informasi semacam ini berharga bagi sekolah. Umpan balik orangtua membantu guru memahami dampak pembelajaran secara utuh, bukan hanya dari angka rapor. Sekolah bijak menjadikan suara orangtua sebagai data sosial untuk memperbaiki pendampingan anak.

Namun, umpan balik harus diberikan dengan semangat kemitraan, bukan menghakimi. Orangtua tidak perlu datang ke sekolah hanya ketika marah, protes, atau menuntut anaknya selalu dibenarkan. Feedback loop yang sehat dibangun melalui dialog: apa yang terjadi pada anak, apa yang sudah dicoba guru, apa yang dapat dilakukan keluarga, dan dukungan apa yang dibutuhkan bersama. Dengan cara ini, sekolah dan rumah menjadi dua tangan yang menguatkan dalam merajut nilai dan karakter anak.

Yang tidak kalah penting, orangtua harus menjaga konsistensi nilai antara sekolah dan rumah. Jika sekolah menegakkan kedisiplinan, rumah jangan memanjakan kemalasan. Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab digital, rumah jangan membiarkan anak kecanduan gawai. Jika sekolah membangun budaya membaca, rumah perlu menyediakan waktu sunyi untuk membaca, bukan terus-menerus dikuasai televisi, ponsel, dan percakapan gaduh. Konsistensi kecil seperti ini akan membentuk karakter besar.

Orangtua juga perlu berhati-hati agar tidak menjadi predator pedagogis di rumah. Predator pedagogis bukan berarti orangtua jahat, melainkan orang dewasa yang tanpa sadar merusak proses belajar anak: terlalu menekan, membandingkan, mengejek kesalahan, memaksa les berlebihan, atau menjadikan rumah seperti ruang interogasi akademik. Anak yang terus dikejar target dapat kehilangan kegembiraan belajar. Ia belajar bukan karena sadar dan bermakna, tetapi karena takut dimarahi.

Di era Pembelajaran Mendalam, orangtua ideal bukanlah orangtua yang paling banyak memerintah, melainkan yang paling konsisten memberi teladan. Anak perlu melihat bahwa kejujuran dipraktikkan, tanggung jawab dijalankan, dialog dihargai, dan belajar dipandang sebagai jalan tumbuh sepanjang hayat. Jika sekolah dan rumah berjalan seirama, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi menjadi pengalaman hidup anak setiap hari. Semoga begitu.

4 Mei 2026

Read More
      edit

Selasa, 18 Agustus 2026

Published Agustus 18, 2026 by with 0 comment

Indonesia Milik Bersama


Oleh : Prof. DR. KH. Haedar Nashir 

Indonesia merdeka berusia 81 tahun. Berbagai pemerintahan silih berganti dengan dinamika dan bahkan gejolak masing-masing. Namun Indonesia tetap bertahan dan senantiasa menunggu, bangsa dan negeri tercinta ini mau dibawa ke mana oleh para pemegang mandat rakyat.

Pemegang amanat rakyat yang sah seperti eksekutif, legislatif, yudikatif, dan berbagai institusi pemerintahan lainnya tentu mengerti betul Indonesia harus dibawa ke mana. Indonesia wajib dibawa menjadi negara dan bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagai tujuan nasional yang diletakkan oleh pendiri Indonesia dan termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 secara terang benderang.

Adapun kewajiban utama Pemerintah Negara Indonesia adalah untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Diktum-diktum mendasar inilah yang penting untuk dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan oleh penyelenggara negara dan seluruh warga negara.

Di era Orde Lama perwujudan mencapai tujuan nasional dilakukan melalui Pembangunan Semesta Berencana, namun akhirnya gagal sebab perjalanan bangsa saat itu banyak dihadapkan pada berbagai gejolak politik yang tinggi dan berakhir tragis tahun 1965. Pada masa Orde Baru selama tiga dekade menuju perwujudan tujuan nasional dilaksanakan melalui Pembangunan Jangka Pendek dan Jangka Panjang yang sebagian cukup berhasil, meski banyak menyisakan masalah.

Kedua era tersebut terputus karena sistem kekuasaan Presiden yang sangat besar yang melahirkan rezim otoriter yang sarat masalah. Suatu gejolak politik dan masalah kebangsaan yang tidak boleh terjadi karena pemerintahan dikendalikan berdasarkan asas kekuasaan semata. Kemudian lahirlah reformasi membawa sistem demokrasi.

Di era reformasi terjadi demokratisasi yang sangat terbuka sebagai antitesis dari dua era sebelumnya. Namun arah Indonesia seperti kehilangan kepastian berkesinambungan karena ditumpukan pada visi-misi Presiden terpilih, yang sering terputus dari satu periode ke periode berikutnya dalam kepemimpinan yang berbeda. Sementara format kekuasaan secara substantif cenderung kembali pada executive heavy, sebab sepenuhnya mendapat mandat rakyat. Adapun check and balances sebagai topangan utama demokrasi tidak menguat karena koalisi politik di pemerintahan.

Selain itu, agenda strategis yang harus dipastikan ialah bagaimana visi-misi hasil politik elektoral melalui serangkaian program dan kebijakan nasional menjadi proses pembangunan yang berkelanjutan untuk terwujudnya tujuan nasional. Kunci utamanya ialah terwujudnya tujuan nasional melalui berbagai program dan kebijakan-kebijakan pemerintah setiap periode. Karenanya, pastikan keseluruhan program dan kebijakan itu betul-betul penting, strategis, dan mengarah secara benar dan tepat sasaran pada tujuan nasional.

Kesadaran para pemegang mandat dan jabatan dalam pemerintahan mesti bersatu-padu dan sehaluan dalam membawa Indonesia pada tujuannya. Kekuasaan yang dijalankan oleh eksekutif, legislatif, yudikatif, dan institusi pemerintahan lainnya mesti dibangun di atas azas demokrasi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” untuk terwujudnya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagaimana nilai luhur Pancasila.

Di sinilah pentingnya aspirasi, pandangan, dan suara rakyat mengawal setiap pelaksanaan kebijakan dan langkah penting eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta lembaga pemerintahan lainnya agar semakin memastikan sekaligus mengawal jalannya pemerintahan untuk menuju terwujudnya tujuan nasional.

Manakala seluruh institusi pemerintahan sehaluan sekaligus terbuka pada aspirasi publik yang mewakili suara rakyat yang jernih maka Indonesia akan memiliki kekuatan bersama menuju tujuan nasional. Sebaliknya bila terjadi kesenjangan maka akan berat membawa negeri tercinta ini menuju tujuan menjadi bangsa dan negara yang dicita-citakan.

Hal yang penting dibangun saat ini ialah kesadaran kolektif yang menyeluruh di seluruh institusi kenegaraan dan kebangsaan bahwa Indonesia itu milik bersama. Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa mesti berjalan bersamaan dalam membawa Indonesia ke tujuan nasional. Jangan sampai atas nama mandat rakyat setiap pihak berjalan sendiri-sendiri dan merasa mampu sendiri.

Agenda paling penting dan strategis untuk diwujudkan bersama setelah Indonesia merdeka 81 tahun ialah menciptakan kemakmuran untuk seluruh rakyat dalam kerangka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana sering disuarakan dan menjadi kehendak politik Presiden Prabowo Subianto saat ini. Karenanya mereka yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang kuat mesti mau mengkhidmatkan diri sepenuhnya untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran rakyat tersebut.

Dalam rangka merenungkan kembali makna kemerdekaan bagi hajat hidup rakyat, alangkah baiknya dihayati pandangan pendiri Indonesia. Antara lain dikatakan Soekarno dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), bahwa “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara „semua buat semua", “satu buat semua, semua buat satu". Maka, jangan sampai ada kekuatan apa pun yang dominan dan menguasai Indonesia, sehingga negara dan bangsa tercinta ini kehilangan jiwa utamanya yakni Indonesia milik bersama


Read More
      edit

Kamis, 13 Agustus 2026

Published Agustus 13, 2026 by with 0 comment

Haedar Nashir: Saya Jurnalis, karena Itu Saya Ada,

Sosok Haedar Nashir niscaya dikenal sampai penjuru buana. Sebelum didapuk menjadi seorang Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kariernya dimulai dari berkecimpung menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah.

“Jadi memang saya dulu jadi wartawan pertama tahun '84,” ujarnya.

Pergumulan menjadi seorang wartawan, bagi diri Haedar, niscaya sarat pengalaman begitu rupa. “Terus saya jadi redaksi lalu jadi pemred,” sambungnya, Kamis (13/8) saat Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.

Jiwa kewartawanan itu melekat kuat dalam dirinya. Pengalaman dan pengembaraan panjang yang ditempanya kemudian meraih apresisasi berupa penghargaan Wartawan Khusus dari Dewan Pers yang diterima hari ini di Univeritas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

“Jadi wartawan beneran tetapi tidak punya kartu gitu. Tapi ingin banget jadi wartawan punya kartu. Dan ternyata baru 42 tahun kartu itu saya peroleh gitu. Jadi bukan apa semata-mata penghargaan, tetapi memang itu bagian dari jiwa kewartawanan,” tegasnya.

Dalam pada itu, Haedar teringat dengan ungkapan René Descartes; "Aku berpikir, maka aku ada". Ungkapan tersebut jika dikontekstualisasikan dalam dunia jurnalistik, “Saya jurnalis karena itu saya ada.”

“Itu merupakan suatu kekemahtaan dan kebanggaan juga dalam perjalanan yang panjang. Saya memang juga merasa bahwa saya diberi anugerah Allah itu saja sebagai tasyakur binni’mah,” ucapnya.

Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah tersebut berpesan kepada para wartawan muda hari ini agar membuka ruang sensitivitas dalam membaca realitas kontemporer.

“Jangan terjebak pada narasi-narasi yang tidak mencerdaskan masyarakat, tidak mencerdaskan bangsa,” tegasnya.

Pada saat yang sama, mesti memiliki jiwa dan spirit kejurnalisan yang autentik. “Yakni selalu menulis sesuatu yang benar sampai ke titik kebenaran terbaik, kebenaran yang tertinggi,” tandas Haedar. (Cris)

Sumber Bacaan https://suaramuhammadiyah.id/read/42-tahun-bergulat-di-dunia-jurnalistik-haedar-nashir-saya-jurnalis-karena-itu-saya-ada

Read More
      edit

Senin, 27 Juli 2026

Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Lambaian dari Balik Ruang Isolasi

 

Oleh: Nanang S. Diyanto

"Saya capek... jengkel... saya mau pulang."

Kalimat itu meluncur lirih dari balik masker oksigen. Bukan teriakan, bukan pula amarah yang meledak. Hanya suara seorang laki-laki yang seolah telah kehabisan tenaga untuk melawan keadaan.

Saya menoleh. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Infus yang baru beberapa saat terpasang kembali tercabut. Sprei putih berubah merah. Tisu-tisu penuh bercak darah berserakan di lantai ruang isolasi.

Saya menarik napas panjang.

"Kalau bapak capek, saya lebih capek," kata saya, berusaha menahan emosi.

"Kalau bapak jengkel, saya juga lebih jengkel. Ini sudah empat kali sejak kemarin sore bapak mencabut infus."

Pandemi mengajarkan satu hal yang tidak pernah kami pelajari di bangku kuliah. Bahwa kelelahan ternyata bukan hanya milik tenaga kesehatan. Pasien pun bisa kehabisan harapan.

Di ranjang sebelah, istrinya yang sama-sama terpapar Covid-19 ikut bersuara. Dengan logat Jawa yang kental, kemarahan yang lama dipendam akhirnya tumpah.

"Kurang ajar, Mas. Sudah dibilangi jangan keluyuran, tetap saja keluyuran. Orang di rumah yang hati-hati malah ikut ketularan. Wis ben, wong ora iso diatur..."

Barangkali itu bukan sekadar kemarahan seorang istri kepada suaminya. Di dalamnya ada rasa takut, cemas, kecewa, bahkan penyesalan yang selama berhari-hari dipendam dalam ruang isolasi yang sunyi.

Saat itu, ruang perawatan bukan hanya dipenuhi suara monitor dan desis oksigen. Ia juga menjadi tempat bertemunya rasa bersalah, saling menyalahkan, dan ketidakberdayaan.

Saya kembali menyiapkan infus.

"Pak, ini saya pasang untuk terakhir kalinya. Kalau nanti dicabut lagi, saya benar-benar tidak mau memasangnya lagi. Di luar sana masih banyak orang yang menunggu kamar ini. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan dirawat."

Ucapan itu keluar begitu saja. Mungkin terdengar keras. Namun saat gelombang Covid-19 mencapai puncaknya, setiap tempat tidur adalah harapan yang diperebutkan. Di luar rumah sakit, ambulans datang silih berganti. Di dalam, kami menghitung oksigen, obat, tenaga, bahkan waktu.

Laki-laki itu menundukkan kepala.

Beberapa saat kemudian ia berbisik pelan.

"Maaf, Mas... saya salah."

Saya menghentikan pekerjaan sejenak.

"Saya jengkel. Di rumah dimarahi istri. Di rumah sakit juga dimarahi. Makanya infus saya cabut... biar semuanya selesai."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Saat itulah saya sadar, yang sedang saya hadapi bukan sekadar pasien dengan saturasi oksigen yang menurun. Di hadapan saya ada seseorang yang sedang kehilangan kendali atas hidupnya. Tubuhnya diserang virus, pikirannya dipenuhi ketakutan, sementara harga dirinya perlahan runtuh oleh rasa bersalah kepada orang-orang yang ia cintai.

Saya mengusap pelan dadanya.

"Sudah, Pak. Sekarang tugas bapak cuma satu: sembuh."

Tak ada lagi kata-kata. Hanya tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pandemi memang memperlihatkan wajah manusia yang paling rapuh. Virus itu menyerang paru-paru, tetapi juga merambat ke ruang-ruang batin. Banyak orang sesungguhnya tidak kalah oleh penyakit, melainkan oleh kesepian, rasa takut, dan putus asa.

Sebagai tenaga kesehatan, kami memang memasang infus, memberikan obat, mengatur oksigen, dan memantau tanda-tanda vital. Namun sering kali, pekerjaan yang paling berat justru tidak tercatat dalam rekam medis: mendengarkan, menenangkan, dan menjaga agar seseorang tetap memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Hari berganti hari. Sebagian pasien pulang dengan langkah pelan. Sebagian lagi harus kami antar dalam keheningan yang tak sanggup diceritakan.

Setiap kali giliran dinas berakhir, saya selalu berhenti sejenak di depan pintu ruang isolasi. Saya mengangkat tangan, melambaikan perpisahan kepada mereka yang masih berjuang di balik kaca.

Hampir selalu, mereka membalas lambaian itu.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua telapak tangan yang saling melambai, dipisahkan pintu, masker, dan ancaman virus yang tak kasatmata.

Namun di situlah kami belajar bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Sebuah lambaian.

Yang diam-diam berkata, "Bertahanlah. Kita akan melewati ini bersama."

 Ponorogo, 27 Juli 2021

Read More
      edit
Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Kebaikan Semu

 

sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723182345-92-1384270/4400-pekerja-jawa-timur-terancam-kena-phk

oleh : Jamil Azzaini 
Sabtu lalu saya pergi hendak “mewisuda” para calon pengusaha muda di “pesantren” wirausaha yang saya pimpin di Klaten Jawa Tengah. Pesantren wirausaha ini mendidik para calon wirausaha selama enam bulan. Setiap angkatan hanya menerima 20 calon wirausaha putra, lulusan SLTA, berusia antara 18-22 tahun. Mereka diseleksi dari seluruh Indonesia. Pendidikan yang dilakukan selain melalui transfer knowledge, pemberian skill khusus, juga mendorong perubahan attitude positif, produktif dan kontributif.
Ketika di pesawat menuju ke tempat wisuda, saya duduk bersebelahan dengan mas Bambang (29) yang baru saja terkena PHK. Dalam kesempatan itu mas Bambang bercerita, “Atasan saya sentimen dengan saya, pak. Dia katakan saya tidak bisa memenuhi standar kerja dia. Padahal target yang diberikan kepada saya selalu tercapai. Di sisi lain banyak yang kualitas kerjanya jauh di bawah saya tapi tidak di PHK. Saya nggak habis pikir, dia satu almamater dengan saya bahkan boleh dikata selama ini hubungan kami sangat baik.”
Setelah mas Bambang selesai mengungkapkan semua uneg-unegnya, saya ajukan pertanyaan sederhana kepada beliau. ‘Sejujurnya mas Bambang menyukai pekerjaan di perusahaan itu tidak?’ Dengan sedikit menarik napas, mas Bambang menjawab. ‘Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai pekerjaan itu. Saya terpaksa, dari pada ngganggur. Saya juga perlu status sosial di depan calon mertua saya.’
Tanpa menunggu mas Bambang selesai berkomentar saya langsung berkata, ”Pilihan bos anda adalah tepat. Mem-PHK anda justru menyelamatkan hidup anda dalam jangka panjang. Dia tidak ingin anda bekerja bukan pada jalur sejati anda. Dia tidak ingin memberi kebaikan semu kepada anda.”
“Kebaikan semu?” sergah mas Bambang.
‘Ya, bila bos anda membiarkan anda bekerja dengan keterpaksaan dan tetap menjadikan anda sebagai karyawan karena pertimbangan almamater dan hubungan baik, maka sesungguhnya bos anda memberi kebaikan semu kepada anda. Anda seharusnya bersyukur karena di-PHK sekarang. Bagaimana kalau anda di PHK di usia senja? Anda akan sangat sulit mencari pekerjaan di tempat lain. Sementara saat ini, usia anda masih sangat muda dan masih memiliki kesempatan luas untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.’
Kebaikan semu muncul ketika sikap dan perilaku positif yang kita tunjukkan bertentangan dengan nurani kita. Kita membiarkan staf kita yang tidak memiliki kemampuan ketika bekerja, itu adalah kebaikan semu. Kita memberi pujian dan penghargaan kepada orang lain yang tidak tepat, itu juga kebaikan semu. Kita mendukung orang untuk menjadi pimpinan padahal kita yakin bahwa dia tidak mampu, sesungguhnya kebaikan kita adalah kebaikan semu. Dalam jangka panjang, kebaikan semu akan menyesatkan orang yang menerimanya.
Kebaikan semu dari para negara donor, telah menjadikan negara berkembang terlilit hutang berkepanjangan. Kebaikan semu dari para mitra kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), telah menjadikan para petinggi KPU meringkuk di dalam jeruji besi.
Nah, berapa orang yang telah menjadi korban kebaikan semu dari anda selama ini?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Read More
      edit

Minggu, 12 Juli 2026

Published Juli 12, 2026 by with 0 comment

Spiritualitas Embun

 

oleh: Yudi Latif, Ph. D

Saudaraku, jadilah seperti embun.

Embun adalah hawa yang mendingin hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.

Demikian pula manusia. Saat panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia, melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.

Di situlah embun lahir. Ia tidak memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.

Embun tidak tinggal lama. Saat mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan bentuk yang sempat dipinjamnya.

Begitu pula kesadaran. Ketika cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang menghidupi.

Demikianlah embun menghilang: bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

Read More
      edit

Sabtu, 06 Juni 2026

Published Juni 06, 2026 by with 0 comment

Surat Calon Penyair untuk Calon Kekasihnya

Kekasih, adalah bulan benderang yang mengajarku tentang kasih sayang. Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti mencintai rembulan, karena itu berarti aku tak bisa memelukmu dan memberi ciuman.
Adalah kecantikan tubuhmu yang aku rindu, sedangkan cantik ruhmu telah aku gauli setiap waktu. Tetapi melankolia para pecinta menganggap itu dosa. Bagiku tubuh itu yang layak kupeluk cinta, meski tak kekal dan niscaya menua.
Kekasih, kuingin mengusir rembulan karena ia telah menghuni kamar yang seharusnya milikmu. Sedangkan aku takut tidur sendirian. Meski dengan ruhmu aku selalu bercakap, bercengkrama, tanpa tubuhmu hanya seperti hantu rasanya.
Semalam aku bermimpi, melihat tubuhmu mengeras besi, menjelma sepahat patung yang dingin. Begitu angkuh, begitu jauh. Aku takut mimpi itu menjadi nyata, karena patung tak bisa naik kereta menuju kota pertemuan kita. Kalaupun bisa, tentu tak enak dipeluknya.
Kekasih, mungkin kau akan menjadi semakin ragu pada diriku, pada dirimu sendiri. Maka aku akan menyarankan untukmu mendengarkan detak jantungmu sendiri, dan aku akan bersiap-siap terbakar matahari begitu fajar pecah nanti. Kita sama tahu, cinta adalah nama lain dari keraguan. Tetapi, Sayang, bukankah keraguan pula yang melahirkan puisi-puisi kita? Aku telah begitu akrab dengan ruhmu yang ragu, bukankah ruh kita telah lama saling mencumbu?
Tubuhmu adalah jawaban setiap keraguanmu, keraguanku. Dialah prosa yang selama ini belum pernah berhasil aku tuliskan. Kerinduanku padamu adalah kerinduanku pada tubuhmu, karena sekali pernah kuacak rambutmu dan sejak itu kutukan telah melekat di rajah telapak tangan kananku. Meski sering aku berdamai dengan dunia, dengan jarak tempuh kereta atau sejauh dering pulsa. Artinya, telah sekian lama aku coba mengingkari tubuhmu yang seluruhnya tersenyum.
Suratku ini menakutkan, katamu? Apatah yang engkau takutkan, Sayang, kecuali hantu waktu dan bayang-bayang? Keraguanmu adalah keraguanku. Engkau bersembunyi di balik baju kerjamu, mencoba menipu waktu, sedangkan aku bersembunyi di balik rambut panjangku: tanda penantianku pada tubuhmu. Aku tahu, kurasakan pula detak kecemasan itu. Ketakutan akan polusi dalam aura yang telah sekian lama menghiasi sajak-sajak kita. Tetapi tak perlu kita ingkari jantung sendiri, karena bila ia jadi malfungsi, biaya operasi mahal sekali.
Kekasih, ini adalah suratku yang terakhir untukmu.
Mimpiku menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk. Tubuhmu benar menjelma patung besi yang bisu, bahkan ruhmu pun tak mau lagi bercakap denganku. Meski masih terlihat segaris senyuman dari bibirmu yang masih saja indah meski telah mengeras-mendingin.
Angin telah mengabarkanku tentang dirimu yang berubah dan ruhmu tak lagi datang menyapa. Maka aku telah menarik pelajaran darinya. Adalah aura kita yang ingin kaupelihara, bukan cinta, karena kita memiliki definisi berbeda atasnya. Sementara aku, calon penyair yang pemurung ini, kini asyik memandangi potret wajahmu yang tersisa (karena tubuhmu telah tak mungkin lagi kurindu) sambil membayangkan kisah asmara dalam prosa yang enak dibaca, bukan puisi yang seringkali nirlogika. Aku mulai melirik, mencari-cari lagi di mana kusimpan kotak harmonika.
Kekasih, akan kusimpan kutukanmu di telapak tangan kananku, dan semoga harmonikaku akan semakin panas olehnya sehingga akan segera kutemukan nada (meski patah-patah) bersamanya. Lalu engkau akan tetap membatu menunggu sepotong hati yang hangat (bukan hatiku yang merindu tubuhmu) untuk melelehkanmu kembali menjadi adonan yang cair. Mungkin pula engkau akan menunggu bayang-bayang itu dengan setia, begitu kaupercayai sebagai belahan jiwa.
Diriku yang jahat, akan mendoakan agar mentari cepat meninggi, agar bayang-bayang itu menderita. Diriku yang lain akan menyerah kepada embun dini hari. Biasa, mengadukan luka.
Luka biasanya akan memberiku puisi, tetapi aku sedang puasa, Sayang. Puisi membuatku syahwat akan dirimu. Karena itu aku berpuasa. Puasa puisi. Tetapi engkau tak perlu peduli, karena ini tak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu yang menjelma batu; kenyataan yang selalu memedihkan sudut mataku setiap kali kuteringat itu.
Aku akn masuk kembali ke bilikku yang sumpek dengan berbagai macam bau (sayangnya tak ada bau keringatmu). Aku akan bunuh diri, terjun ke dalam kedalaman palung paling gelap. Mungkin di sanalah aku ditetapkan berada. Di negeri bayang-bayang. Negeri hantu. Mungkin di situ akan kutemukan ruhmu yang (tak lagi) ragu. Meski takkan kujumpai lagi tubuhmu (yang sudah mematung itu, ingat?), hanya ruhmu. Hanya ruhmu.
Ya, kekasih, aku akan menunggu ruhmu di situ. Mungkin takkan pernah bertemu. Mungkin akan kutemu ruh-ruh yang lain, bayang-bayang yang lain, hantu-hantu yang lain. Tetapi satu hal sudah kupastikan. Akan kunyalakan terus kotak komputerku. Siapa tahu akan kuterima emailmu. Siapa tahu?

Yogyakarta, Ramadhan 1423 H/19 November 2002 M


Read More
      edit
Published Juni 06, 2026 by with 0 comment

Tanah Tak Hanya Sekadar Aset Ekonomi, Tapi Juga Ruang Hidup

Oleh: Wangi Putri Ali

Konflik agraria di Indonesia tentu bukan cerita baru. Ini adalah masalah lama yang masih terus berulang hingga hari ini, mencerminkan bahwa sistem kita masih mengalami ketimpangan yang nyaris mengakar. Persoalan tanah tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat, tetapi dapat kita temukan hampir di seluruh penjuru Indonesia.

Ironisnya, konflik ini bukan muncul karena masyarakat ingin menguasai tanah milik orang lain. Justru sebaliknya, mereka berusaha mempertahankan tanah milik mereka sendiri—yang telah mereka rawat dan jaga secara turun-temurun. Contohnya bisa kita lihat di Kendeng dan Papua. Lahan-lahan produktif yang biasa digunakan masyarakat sebagai sumber kehidupan dan pelestarian alam justru diincar pemerintah untuk kepentingan tambang atau perkebunan.

Penolakan yang dilakukan masyarakat lokal sering kali dibalas dengan tekanan, intimidasi, bahkan penangkapan. Yang lebih menyakitkan, suara masyarakat kerap tidak terdengar. Media lebih banyak mengulas soal kemajuan investasi daripada memberitakan kondisi masyarakat yang terkena dampak negatifnya. Aparatur negara yang seharusnya menjadi pelindung justru lebih sigap mengamankan mesin-mesin berat daripada membela warga yang ingin bercocok tanam di tanahnya sendiri. Sangat menyedihkan, mereka yang memperjuangkan haknya justru dituduh menghambat pembangunan dan dianggap melawan negara.

Di tengah konflik agraria yang erat kaitannya dengan persoalan ekonomi pertanahan ini, kita patut mengapresiasi langkah MPM PP Muhammadiyah yang turun langsung mendampingi dan mengadvokasi warga. Pendampingan ini bukan hanya soal advokasi hukum, tetapi tentang keberpihakan pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tapi juga harus hadir di tengah masyarakat, memberi kekuatan bagi mereka yang lemah.

Yang patut kita tanyakan sekarang: sampai kapan negara akan membiarkan konflik agraria ini terus berulang? Mengapa ormas seperti Muhammadiyah justru bisa hadir dan berdiri bersama rakyat, sedangkan kehadiran negara justru sering kali tidak terlihat?

Isu konflik agraria sangat berkaitan dengan cara kita memandang tanah. Di Indonesia, tanah lebih sering dianggap sebagai aset ekonomi yang bisa diuangkan, bukan sebagai ruang hidup. Jika tanah hanya dipandang sebagai komoditas, maka nilai sosial, budaya, dan ekologisnya akan terpinggirkan. Dan inilah yang menjadi akar dari banyak konflik agraria.

Akar masalah yang belum terselesaikan ini membawa dampak berkepanjangan: investor mudah masuk, izin konsesi mudah keluar, sementara masyarakat diminta berkompromi—padahal sejak awal mereka sudah berada dalam posisi yang lemah dan tidak mampu melawan.

Tanah seharusnya kita lihat bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup yang menyatu dengan identitas, spiritualitas, dan kesejahteraan masyarakat. Tanah yang telah dikelola secara turun-temurun seharusnya menjadi hak mereka. Tugas negara semestinya menjadi pelindung rakyat, bukan justru memihak korporasi.

Muhammadiyah telah menunjukkan contoh nyata: mengelola tanah wakaf untuk pendidikan, layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ini membuktikan bahwa tanah bisa memberi manfaat besar bagi masyarakat tanpa harus dikomersialkan secara semena-mena—dan bisa menjadi model keadilan agraria yang manusiawi.

Konflik agraria sejatinya bukan sekadar soal siapa yang punya sertifikat, tetapi tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak dilindungi. Selama logika pertanahan lebih berpihak pada pasar dan modal besar, ketimpangan akan terus terjadi. Tanah bukan hanya soal batas fisik atau legalitas, tapi soal hak atas keadilan sosial yang harus kita perjuangkan bersama.

*Penulis adalah Mahasiswi Ekonomi Pembangunan, Universitas Ahmad Dahlan

sumber tulisan: https://opini.mediamu.com/tanah-tak-hanya-sekadar-aset-ekonomi-tapi-juga-ruang-hidup

Read More
      edit

Rabu, 27 Mei 2026

Published Mei 27, 2026 by with 0 comment

Meneladani Nabi Ibrahim

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Setelah seharian kemarin kita disunahkan untuk berpuasa sehari bertepatan dengan hari arofah, hari ini saatnya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Puasa arofah bukan saja melaksanakan sunah Rasulullah saw, bukan pula bersimpati kepada rekan kita yang pada hari ini berkesempatan melaksanakan ibadah Haji, puasa arofah adalah simbol ketaatan kita mengikuti perintah para nabi.

Nabi Ibrahim as. Adalah pilihan Allah. Ada empat sebutan yang ditujukan beliau. Abul Anbiya’ artinya Bapak para nabi, karena garis keturunan beliau, semua menjadi nabi. Dari putranya, Nabi Ishaq as, lahir keturunan Bani Israil seperti Nabi Yaqub, Yusuf, Musa, Dawud, Sulaiman, hingga Isa as. Dari Nabi Ismail as, lahir nabi sekaligus rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Beliau juga dijuluki Khalilullah yang artinya “kekasih Allah”. Gelar ini diberikan karena cinta, ketaatan, dan ketundukan Nabi Ibrahim yang luar biasa mutlak hanya kepada Allah SWT. Hanifan Muslimin yang berarti “Seorang yang lurus lagi berserah diri” sebutan lainnya.

Perayaan hari raya Qurban tak lepas dari peran Nabi Ibrahim as. Bahkan, sebelum diangkat menjadi nabipun, Ibrahim kecil telah diberi tugas oleh Allah untuk berhadapan dengan Raja Namrud. Ibrahim adalah putra dari Azar seorang pemahat patung kesukaan Raja Namrud. Setelah Ibrahim lahir, dan ternyata seorang laki-laki, maka Azar membuang Ibrahim yang masih bayi ke sungai. Hal ini dilakukan agar tidak terkena aturan Raja, yang mengatakan bahwa, siapapun bayi yang lahir laki-laki, maka harus dibunuh.

Ketegaran Nabi Ibrahim as dalam menghadapi cobaan yang melahirkan ritual-ritual keagamaan hingga kini. Setelah menggu begitu lama, hingga tua, tak kunjung juga diberi momongan. Setelah mendapatkan momongan dan tumbuh sebagai anak kecil, dimana orang tua baru senang-senangnya bermain, Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Betapa terpukulnya perasaanya. Namun, karena ini adalah perintah yang harus dilakukan. Ismail sendiripun yang juga digadang menjadi nabi, pasrah mendengar titah ayahnya.

Nabi Ibrahim as mendapat gelar Ulul 'Azmi (rasul yang memiliki ketabahan dan tekad yang luar biasa). Kehidupan beliau adalah samudra keteladanan yang tidak pernah kering untuk digali. Nabi Ibrahim tidak menerima begitu saja tradisi menyembah berhala yang dilakukan oleh ayah dan kaumnya. Beliau menggunakan akal sehat dan mengobservasi alam semesta (bintang, bulan, dan matahari) untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.

Nabi Ibrahim berani berdakwah menentang arus, bahkan berhadapan langsung dengan penguasa zalim. Namun, saat mendebat ayahnya, beliau tetap menggunakan tutur kata yang sangat lembut dan penuh hormat, memanggil dengan sebutan "Wahai ayahku.

Nabi Ibrahim tidak egois. Setiap kali berdoa, beliau hampir tidak pernah melupakan keturunannya. Beliau memohon agar anak cucunya menjadi orang yang mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah berhala, dan dijadikan sebagai umat yang berserah diri.


Read More
      edit

Senin, 04 Mei 2026

Published Mei 04, 2026 by with 0 comment

Muktamar

Dalam sebuah organisasi, tentu banyak gagasan bermunculan, baik secara lisan maupun tertulis. Muktamar adalah sebuah pertemuan atau konferensi besar yang diadakan oleh suatu organisasi atau kelompok untuk membahas isu-isu penting, berbagi pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mengambil keputusan penting. Biasanya, muktamar dihadiri oleh anggota atau delegasi dari organisasi tersebut, dan juga dapat melibatkan pembicara tamu, ahli industri, atau pemangku kepentingan lainnya.

Muktamar dapat diadakan oleh berbagai jenis organisasi, seperti lembaga pemerintah, badan amal, asosiasi profesi, atau perusahaan. Acara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, tergantung pada kompleksitas dan skala topik yang dibahas.

Masa awal Muktamar di Muhammadiyah semula adalah tahunan (1912 – 1923). Pada masa awal berdirinya di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, forum tertinggi ini belum memiliki nama khusus yang formal dan sistematis seperti sekarang. Pertemuan dilakukan setiap tahun di Yogyakarta untuk membahas perkembangan organisasi.

Periode kedua (1924 – 1940), dibawah kepemimpinan KH Ibrahim, Muhammadiyah mulai menggunakan istilah "Kongres". Istilah ini diserap dari bahasa Inggris (Congress) yang saat itu sangat populer di kalangan organisasi pergerakan nasional untuk menunjukkan semangat modernitas dan kemajuan.

Tahun 1944 – 1946 adalah “Masa Darurat”, akibat situasi Perang Dunia II dan Revolusi Fisik (perang kemerdekaan). Muhammadiyah tidak bisa menyelenggarakan pertemuan besar secara normal. Sebagai gantinya, diadakan pertemuan terbatas yang disebut Congress Dharurot (Kongres Darurat).

Perubahan menjadi Muktamar dimulai tahun 1950. Setelah Indonesia berdaulat sepenuhnya, Muhammadiyah menyelenggarakan forum tertinggi ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Pada momen inilah nama "Kongres" resmi diganti menjadi "Muktamar".

Muktamar merupakan agenda tertinggi dalam organisasi Muhammadiyah. Ibarat sebuah negara, Muktamar adalah "sidang paripurna" di mana arah masa depan organisasi ditentukan. Adapun tujuan dari muktamar adalah:

Forum Tertinggi. Muhammadiyah adalah organisasi yang dikelola secara demokratis dan kolektif-kolegial. Muktamar menjadi wadah bagi seluruh perwakilan wilayah dan daerah di Indonesia (bahkan cabang istimewa di luar negeri) untuk menggunakan hak suaranya. Di sinilah legitimasi kepemimpinan dibangun.

Regenerasi. Salah satu agenda paling krusial adalah pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode berikutnya. Muhammadiyah dikenal memiliki sistem pemilihan yang unik. Peserta memilih 13 nama dari sekian banyak calon. 13 orang terpilih tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum.

Laporan Pertanggungjawaban dan Evaluasi. Muktamar menjadi ajang bagi pimpinan periode berjalan untuk melaporkan apa saja yang sudah dicapai, kendala yang dihadapi, dan bagaimana pengelolaan keuangan serta aset organisasi (seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan) selama 5 tahun terakhir.

Program Kerja. Dunia terus berubah, dan Muhammadiyah perlu menyesuaikan langkahnya. Dalam Muktamar, disusun Program Kerja dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah untuk menghadapi isu-isu kontemporer, baik di level nasional maupun global (seperti perubahan iklim, ekonomi digital, hingga politik).

Silaturahmi dan Syiar. Selain urusan formal administrasi, Muktamar adalah ajang konsolidasi akbar. Ribuan hingga jutaan penggembira biasanya hadir untuk merayakan semangat pembaruan. Ini berfungsi untuk memperkuat ikatan batin antarkader (ukhwah) agar tetap solid dalam menjalankan misi dakwah.

Read More
      edit

Sabtu, 02 Mei 2026

Published Mei 02, 2026 by with 0 comment

Aktualisasi Diri

 

oleh : DR. HM. Khoiruddin Bashori

Aktualisasi diri adalah sebuah konsep psikologi yang merujuk pada keinginan seseorang untuk mengembangkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya hingga mencapai titik maksimal. Secara sederhana, ini adalah proses menjadi "versi terbaik dari diri sendiri."Maslow menjelaskan, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur), keamanan, sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah perasaan terpenuhi ketika mereka mampu mengembangkan potensi diri sepenuhnya dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Menurut Maslow, kebahagiaan sejati tidak datang dari kepemilikan materi (koleksi barang), tetapi dari pencapaian potensi diri. Koleksi materi mungkin memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan penghargaan, tetapi tidak memberikan kepuasan jangka panjang seperti yang diberikan oleh aktualisasi diri.

Setiap individu memiliki dorongan bawaan untuk mencapai aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Kebahagiaan sejati datang ketika seseorang hidup selaras dengan "diri sejati" (true self) dan tidak terhambat oleh tekanan sosial atau harapan orang lain.

Eudaimonia, konsep yang berasal dari filsafat Aristoteles menjelaskan, kebahagiaan berasal dari hidup yang bermakna dan mengembangkan potensi diri. Aktualisasi potensi diri adalah bentuk eudaimonia, di mana kebahagiaan tidak bergantung pada kepemilikan materi, tetapi pada pencapaian tujuan yang bermakna dan pengembangan diri.

Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana seseorang dapat mengaktualisasikan potensi dirinya. Aktualisasi diri dan eudaimonia adalah konsep-konsep kunci yang menjelaskan mengapa dengan fokus pada aktualisasi diri, seseorang dapat mencapai kebahagiaan yang lebih autentik dan tahan lama.

Ciri-Ciri Orang yang Mencapai Aktualisasi Diri

  • Penerimaan Diri: Mereka menerima kekurangan diri sendiri, orang lain, dan kodrat alam tanpa rasa mengeluh yang berlebihan.
  • Spontanitas: Bertindak secara alami dan jujur pada perasaan sendiri, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.
  • Fokus pada Masalah: Lebih peduli pada pemecahan masalah di luar diri mereka (misi hidup) daripada sekadar ego pribadi.
  • Kemandirian (Otonomi): Tidak terlalu bergantung pada pujian atau opini orang lain untuk merasa bahagia.
  • Apresiasi yang Terus Menerus: Mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana di kehidupan sehari-hari (seperti matahari terbenam atau bunga yang mekar) berulang kali dengan rasa syukur.


Read More
      edit

Senin, 02 Maret 2026

Published Maret 02, 2026 by with 0 comment

Kapan Muhammadiyah Menggunakan Hisab

 

oleh : Ismail Fahmi, Ph.D

Tanya: saya mau tanya TARJIH sejak tahun berapa Muhammadiyah mengusung hisab dan sudah berapa kali ganti rumus sepanjang seabad pertama itu

Pertanyaan yang sangat menarik dan substantif!

Dokumen Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) 06/2014 (Pedoman Hisab Muhammadiyah) dan BRM 05/2025 (KHGT) memuat informasi yang cukup lengkap untuk menjawab ini secara terverifikasi.

Pertanyaan: Sejak kapan Muhammadiyah mengusung hisab, dan sudah berapa kali berganti metode/kriteria sepanjang seabad pertama?

Jawaban:

Sejak awal berdirinya — dimulai oleh K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923 M)

Dokumen Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) 06/2014 secara eksplisit menyatakan:

"Dalam lingkungan Muhammadiyah, kajian ilmu falak syar'i dipelopori oleh Ahmad Dahlan (w. 1923 M)."

Artinya, sejak Muhammadiyah berdiri pada 1912 M, tradisi hisab sudah menjadi bagian dari identitasnya. Bahkan salah satu tindakan pertama K.H. Ahmad Dahlan yang fenomenal adalah mengoreksi arah kiblat Masjid Besar Kauman Yogyakarta menggunakan ilmu hisab/falak — sebuah langkah yang pada zamannya dianggap sangat kontroversial.

Perkembangan Metode/Kriteria Hisab — Tiga Fase Utama

BRM 05/2025 (dokumen KHGT) secara gamblang mencatat perjalanan kriteria hisab Muhammadiyah sebagai berikut:

Fase 1 — Ijtimak Qablal Gurub (Konjungsi sebelum terbenam matahari)

Kriteria paling awal yang digunakan Muhammadiyah

Berfungsi sebagai "antitesa sempurna dari rukyat"▪️ Tujuannya: membangun kesadaran kuat tentang keharusan menggunakan hisab

Kriteria ini masih sangat sederhana — hanya mensyaratkan ijtimak (konjungsi Bulan-Matahari) terjadi sebelum matahari terbenam

Fase 2 — Imkanur Rukyah (Kemungkinan hilal bisa dilihat)

Digunakan sebagai "jalan tengah antara rukyat dan hisab"

Muhammadiyah sempat menggunakan kriteria ini dalam perjalanannya

Namun dinilai masih mengandung unsur ketidakpastian karena tetap terikat pada kondisi visibilitas hilal

Fase 3 — Hisab Hakiki Wujudul Hilal (kriteria paling lama dipakai)

Dipelopori oleh K.H. Wardan Diponingrat (1911–1991), Ketua Majelis Tarjih selama enam periode (1963–1985)

Menetapkan tiga kriteria kumulatif:

Telah terjadi ijtimak (konjungsi)

Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam

Saat matahari terbenam, piringan atas Bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud)

Kriteria ini memberikan kepastian ilmiah dan syar'i yang lebih kokoh

Digunakan Muhammadiyah dalam jangka panjang hingga era KHGT

Fase 4 — Kalender Hijriah Global Tunggal / KHGT (berlaku sejak BRM 05/2025)

Merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari wujudul hilal, bukan penggantian total

BRM 05/2025 menegaskan: "KHGT merupakan kelanjutan dari tajdid dengan ijtihad penggunaan hisab hakiki dalam Muhammadiyah yang telah berlangsung lama"

Perbedaan utama: wujudul hilal menggunakan prinsip lokal (wilayatul-hukmi), sedangkan KHGT menggunakan prinsip global

Sumber referensi:

BRM 06/2014 — Tanfidz Munas Tarjih XXVII, Pedoman Hisab Muhammadiyah, hlm. 180–182 & 247–248

BRM 05/2025 — Tanfidz KHGT, hlm. 22–23


Catatan Tambahan:

Dokumen juga mencatat tokoh-tokoh penting dalam rantai perkembangan hisab Muhammadiyah:

1. K.H. Ahmad Badawi (1902–1969) — menulis Hisab Haqiqi dan Gerhana Bulan

2. Sa'doeddin Djambek (1911–1977) — "banyak membawa pembaruan hisab di Indonesia", menulis Hisab Awal Bulan Qamariyah (1976)

3. K.H. Wardan Diponingrat (1911–1991) — peletak kriteria wujudul hilal

4. H.M. Bidran Hadie, Ir. H. Basith Wahid, Drs. H. Abdur Rachim — generasi penerus

5. Prof. Susiknan Azhari, Drs. Oman Fathurohman, Drs. Sriyatin Shodiq — generasi modern

Jika dihitung secara garis besar, sepanjang abad pertama Muhammadiyah (1912–2012), terdapat setidaknya 3 kali pergeseran kriteria hisab yang signifikan: dari ijtimak qablal gurub → imkanur rukyah → wujudul hilal. Dan kini pada abad kedua ditambah satu lagi dengan KHGT.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya konsisten pada jalur hisab — yang terus disempurnakan seiring perkembangan ilmu astronomi dan kebutuhan umat Islam global. 

Read More
      edit

Minggu, 15 Februari 2026

Published Februari 15, 2026 by with 0 comment

Harga Politik Sangat Mahal

 

Sebagian elit politik nasional menggelindingkan isu “kembali ke UUD 1945”. Alasannya tampak rasional. Sistem politik Indonesia setelah empat kali amandemen menimbulkan sejumlah problem pelik, antara lain posisi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang tidak jelas statusnya, yakni sekadar menjadi Lembaga Tinggi Negara. Padahal di UUD 1945 yang asli posisi MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara, yang antara lain mengangkat dan memberhentikan Presiden. Anggotanya terdiri atas utusan partai politik, utusan daerah, dan utusan golongan.

Memang krusial, setelah empat kali amandemen di era reformasi terjadi kerancuan sistem ketatanegaraan Indonesia, di antaranya tidak jelasnya status MPR. Sistem politik Indonesia menjadi rancu dengan praktik parlementer atau presidensial serasa parlementer. Otonomi daerah serasa federal. Masih banyak problem politik lainnya yang sampai sekarang seperti benang kusut atau buah simalakama.

Menghadapi isu sebagian elite politik tersebut mestinya semua pihak perlu menahan diri untuk tidak gegabah menerimanya begitu saja. Jangan sampai terjadi lagi politik coba-coba tanpa rancang-bangun yang matang dengan kajian mendalam dan luas dalam tempo yang panjang. Hal yang paling dikhawatirkan justru terjadi politisasi untuk kepentingan elite dan kelompok tertentu yang akan menjadi “penumpang gelap” di balik amendemen UUD 1945 tersebut.

Jangan menambah berat beban reformasi, sekaligus beban rakyat. Apakah tidak merasakan betapa dilema dan banyak mafsadat atau dampak buruk dari reformasi? Apa mau ditambah lagi? Diakui secara faktual tahun 1998 Indonesia memilih jalan reformasi demi keluar dari rezim otoritarian. Tapi tidak terbayangkan, ternyata reformasi bukan tanpa masalah besar.

Di era reformasi sistem politik, ekonomi, budaya, keagamaan, dan bidang kehidupan lain makin liberal dan sekuler. KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) makin meluas dalam beragam wujud. Oligarki politik dan ekonomi mengganas dan menguasai segala bidang, termasuk penguasaan atas kekayaan alam dengan dampak kerusakan lingkungan.

Politik uang dan politik transaksional makin bebas. Berbagai Undang-Undang bermasalah. Penyimpangan politik terjadi di banyak struktur dan aktivitas bernegara. Konflik sosial-horizontal dan vertikal terjadi luas. Kerusuhan Mei di Jakarta, Poso dan Ambon, serta Papua menjadi goresan peristiwa kelam. Ribuan korban jiwa manusia tak berdosa tumpah menjadi tragedi getir di Republik ini. Belum terhitung trauma sosial-politiknya di masyarakat setempat.

Pemilu tidak melahirkan pemimpin ideal, di tengah kubangan karut marut pelaksanaan. Pemilu 2019 dan 2024 bahkan memakan korban nyawa 894 dan 181 anggota PPK-KPPS. Pembelahan politik mengeras. Kebebasan orang makin terbuka hingga kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) menuntut hak hidup secara konstitusional di negeri yang beragama dan ber-Pancasila ini. Kelompok yang mengaku agnostik (anti agama) dan anti tuhan (atheis) mulai mengemuka. Dunia media sosial makin menggila niretika. Media masa mengabdi pada para pemilik modal. Apakah jarum jam reformasi dan sistem ketatanegaraan Indonesia harus berhenti atau surut ke belakang? Siapa yang harus bertanggung jawab atas tragedi nasional itu?

Semua pihak secara objektif dapat menimbang mafsadat dan maslahat dari reformasi 1998. Politik itu selain maslahatnya besar seringkali besar pula mafsadatnya. Tidak jarang tipis batasnya antara maslahat dan mafsadatnya. Pikiran awam lebih mudah melihat mafsadat bencana fisik ketimbang bencana politik. Padahal mafsadat politik itu sering masif dan destruktif. Karenanya jangan terus dilakukan percobaan politik sarat spekulasi, sebelum segalanya dikaji seksama. Sungguh kasihan nasib mayoritas rakyat yang sering menjadi korban, serta tidak makin sejahtera hidup di era reformasi!• (hns)

https://suaramuhammadiyah.id/read/harga-politik-sangat-maha

Read More
      edit

Kamis, 22 Januari 2026

Published Januari 22, 2026 by with 0 comment

Keluarga Bahagia


Kebahagiaan sebuah keluarga tidak diukur melalui materi atau ukuran fisik, seperti ukuran rumah, melainkan lebih kepada kualitas hubungan dan sikap saling memberikan yang terbaik di antara anggotanya. Keluarga yang mengedepankan komunikasi terbuka dan jujur seringkali menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

Dalam hubungan keluarga, empati — kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain — adalah kunci. Ketika anggota keluarga saling berempati, mereka lebih mampu memberikan dukungan emosional dan melakukan tindakan yang memperkuat ikatan mereka.

Kebahagiaan dalam keluarga ditopang oleh sikap saling berkorban dan pengabdian. Ketika anggota keluarga bersedia memberikan yang terbaik satu sama lain, hal itu menciptakan atmosfer positif dan memungkinkan pertumbuhan bersama.

Penelitian psikologi menunjukkan, kesejahteraan psikologis individu sangat terkait dengan kualitas hubungan interpersonal mereka. Keluarga yang saling mendukung dan nurturing dapat berfungsi sebagai sumber dukungan yang kuat, membantu setiap anggota untuk mengatasi tantangan dan stres.

Keluarga yang mendukung satu sama lain untuk mencapai potensi terbaiknya cenderung memberikan ruang bagi perkembangan individu. Ini berarti menghargai perbedaan, memberikan dukungan dalam mengejar mimpi, dan mendorong individu untuk berkembang secara mandiri.

Read More
      edit