Sosok Haedar Nashir niscaya dikenal sampai penjuru buana. Sebelum didapuk menjadi seorang Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kariernya dimulai dari berkecimpung menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah.
“Jadi memang saya dulu
jadi wartawan pertama tahun '84,” ujarnya.
Pergumulan menjadi
seorang wartawan, bagi diri Haedar, niscaya sarat pengalaman begitu rupa.
“Terus saya jadi redaksi lalu jadi pemred,” sambungnya, Kamis (13/8) saat
Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Jiwa kewartawanan itu
melekat kuat dalam dirinya. Pengalaman dan pengembaraan panjang yang ditempanya
kemudian meraih apresisasi berupa penghargaan Wartawan Khusus dari Dewan Pers
yang diterima hari ini di Univeritas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
“Jadi wartawan beneran
tetapi tidak punya kartu gitu. Tapi ingin banget jadi wartawan punya kartu. Dan
ternyata baru 42 tahun kartu itu saya peroleh gitu. Jadi bukan apa semata-mata
penghargaan, tetapi memang itu bagian dari jiwa kewartawanan,” tegasnya.
Dalam pada itu, Haedar
teringat dengan ungkapan René Descartes; "Aku berpikir, maka aku
ada". Ungkapan tersebut jika dikontekstualisasikan dalam dunia
jurnalistik, “Saya jurnalis karena itu saya ada.”
“Itu merupakan suatu
kekemahtaan dan kebanggaan juga dalam perjalanan yang panjang. Saya memang juga
merasa bahwa saya diberi anugerah Allah itu saja sebagai tasyakur binni’mah,”
ucapnya.
Pemimpin Redaksi Suara
Muhammadiyah tersebut berpesan kepada para wartawan muda hari ini agar membuka
ruang sensitivitas dalam membaca realitas kontemporer.
“Jangan terjebak pada
narasi-narasi yang tidak mencerdaskan masyarakat, tidak mencerdaskan bangsa,”
tegasnya.
Pada saat yang sama,
mesti memiliki jiwa dan spirit kejurnalisan yang autentik. “Yakni selalu
menulis sesuatu yang benar sampai ke titik kebenaran terbaik, kebenaran yang
tertinggi,” tandas Haedar. (Cris)
0 komentar:
Posting Komentar