Oleh: Satria Dharma
Menurut Anda apa bumbu paling sedap di dunia…?!
Bumbu rendang…?! Bumbu rica-rica…?! Bumbu rawon…?!
Bukan. Saya tidak sedang membicarakan bumbu dapur atau bumbu masakan.
Saya sedang membicarakan sebuah bumbu yang bisa benar-benar mampu
MEMBIUS manusia. Dengan bumbu ini maka manusia bisa benar-benar sakau dan lupa
diri. Dengan bumbu ini manusia bisa membenci dan tega membunuh siapa saja.
Dengan bumbu ini manusia bisa mabuk dan terkena histeria massal. Dengan bumbu
ini apa yang batil, jahat, nista, bisa menjadi baik, halal, terpuji, dan
mendatangkan kekaguman. Dengan bumbu ini seorang penjahat yang paling kejam,
wanita yang paling nista, bisa menjadi suci dan terpuji. Seseorang yang
mulutnya kasar dan penuh sumpah serapah menyemburkan fitnah ke mana-mana akan
bisa disebut “Gus”, “Yai”, atau bahkan “Habib”. Seorang filsuf Islam yang
terkenal dengan kutipannya “Two truths cannot contradict one another.”
Sudah mengingatkan kita berabad-abad yang lalu tentang bumbu paling enak di
dunia ini.
Begini katanya, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah yang batil
dengan agama.”. Nama bekennya Averroes tapi nama aslinya Abu Walid
Muhammad bin Rusyd (Ibnu Rusyid), cendikia & ilmuwan muslim yang
lahir di Andalusia Spanyol tahun 1128 M. Sejak ratusan tahun yang lalu
Ibnu Rusyd ini sudah mengingatkan kita akan bahayanya BUMBU AGAMA ini.
Dengan bumbu agama yang semakin dibikin canggih saat ini maka bukan
hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara yang batil dan yang hak,
yang busuk dan yang harum semerbak, yang nista dan yang terpuji, yang jahat dan
yang jihad, tapi bumbu racikan terbaru ini bahkan mampu membuat ustad, ulama,
kyai, cendekiawan muslim, menjadi terbius dan kehilangan nalar dan nuraninya.
Meski dia hanya bumbu tapi jika dimasukkan ke bahan makanan yang paling
busuk, paling merusak dan meracuni, diharamkan sekali pun maka akan berubah
menjadi masakan atau makanan yang digila-gilai oleh umat yang menganutnya.
Cukup dengan memakai gamis dan surban serta mengutip sedikit istilah-istilah
bahasa Arab, apalagi kalau Anda mampu mengutip ayat-ayat suci, maka dijamin
Anda akan mampu membius umat Islam. Jika Anda sudah di atas panggung dengan
jubah putih dan surban Anda maka Anda bebas untuk memaki-maki, berteriak-teriak
seperti orang kesurupan, menyumpah-nyumpah, menista dan memfitnah, masuk
penjara karena menyiksa anak, dan tetap dianggap ulama. Seorang bintang film
porno akan tampak sangat shalihah jika Anda pakaikan jilbab padanya. Seorang
bajingan paling tengik akan bisa jadi “Gus” dengan berdandan ala Habib Syeh.
Itu baru penampilan luar lho…! Bayangkan kalau kebatilan tersebut dibungkus
dengan berlapis-lapis dalil agama dengan penuh kutipan ayat Alquran dan
hadist-hadist yang meski tidak ada hubungannya tapi kalau dibawakan oleh orang
yang dianggap ustad, ulama, kyai, cendekiawan muslim, mualaf tercerahkan, maka
korbannya bisa jutaan orang.
Anda cukup mengatakan bahwa Anda hendak ‘Menegakkan Khilafah Islam’,
‘Menjalankan Hukum Syariah’, ‘Mengibarkan Panji-panji Islam’, ‘Membela Agama
Allah’, ‘Meninggikan Marwah agama’, ‘Membela Umat yang Tertindas’, ‘Demi
Tegaknya Hukum Allah’, dan sejenisnya maka Anda bisa langsung melesat menjadi
seorang mujahid. Jangan lupa teriakkan takbir dengan muka garang siap menerkam
agar Anda semakin memukau para khalayak penikmat bumbu paling sedap di dunia
ini.
Dengan bumbu agama maka umat Islam akan bersedia untuk saling bunuh,
saling cincang, saling serang, melakukan perbuatan yang paling kejam dan nista
dan menghancurleburkan negaranya sendiri. Dengan alasan ingin menegakkan negara
khilafah yang akan melaksanakan hukum Islam secara kaffah umat Islam dari
berbagai negara datang ke Suriah untuk memerangi pemerintahnya yang sah. Mereka
tidak peduli apakah perbuatan mereka itu salah dan melawan perintah Tuhan
selama mereka menikmati bumbu ‘syariat menegakkan hukum Allah’ maka mereka
tetap menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu berada di ‘jalan Tuhan’.
Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan dan pengorbanan mereka pasti akan diganjar
dengan sorga kelak. Jangan heran kalau ada keluarga yang bahkan mengajak
anak-anaknya untuk jadi syahid dengan melakukan bom bunuh diri di gereja seolah
gereja itu adalah sumber kemaksiatan yang patut dibom dengan menyerahkan jiwa
raga mereka sekeluarga. I never understand such kind of madness and lunacy.
Tapi begitulah faktanya kalau orang sudah keracunan doktrin kebencian berbalut
agama.
Sekarang ini orang bisa teriak “Ganyang PKI…!” padahal kelakuannya lebih
PKI daripada PKI. Orang PKI dulu melakukan kebiadabannya tidak menggunakan
kedok agama dan tidak meneriakkan takbir ‘Allah Akbar’. Mereka hanya PKI biasa.
Lha sekarang ini sudah ‘PKI Berbumbu Syariah’. Mereka mau memberontak dan
melakukan makar pada pemerintah tapi alasannya adalah untuk mendirikan
‘khilafah Islam’ dan katanya itu adalah Perintah dan Hukum Allah. Mereka akan
melakukan demo berjilid-jilid, mengumandangkan takbir, tahmid, dan shalawat,
mereka akan melakukan salat di jalanan, di stadion, mengutuk dan mencacimaki
pemerintah, dan merasa telah melakukan sebuah jihadul akbar melawan kaum
kafirin musyrik munafikin. Meski pun nyata-nyata bahwa tidak ada perintah dari
Tuhan mau pun dari Nabi Muhammad untuk mendirikan kekhilafahan tapi dengan
bumbu racik ‘Khilafah Tahririyah’ toh bisa membius banyak umat Islam baik yang
bodoh mau pun yang sebenarnya cerdas.
Kalau dulu Karl Marx mengatakan bahwa ‘Agama itu candu’ maka
dengan ini saya mau katakan bahwa “Agama itu bumbu paling sedap di dunia.
Anything goes right, legit, and tasty with it.” Surabaya, 2 september 2020
https://satriadharma.com/2020/09/02/bumbu-paling-sedap-di-dunia/





