Senin, 04 Mei 2026

Published Mei 04, 2026 by with 0 comment

Muktamar

Dalam sebuah organisasi, tentu banyak gagasan bermunculan, baik secara lisan maupun tertulis. Muktamar adalah sebuah pertemuan atau konferensi besar yang diadakan oleh suatu organisasi atau kelompok untuk membahas isu-isu penting, berbagi pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mengambil keputusan penting. Biasanya, muktamar dihadiri oleh anggota atau delegasi dari organisasi tersebut, dan juga dapat melibatkan pembicara tamu, ahli industri, atau pemangku kepentingan lainnya.

Muktamar dapat diadakan oleh berbagai jenis organisasi, seperti lembaga pemerintah, badan amal, asosiasi profesi, atau perusahaan. Acara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, tergantung pada kompleksitas dan skala topik yang dibahas.

Masa awal Muktamar di Muhammadiyah semula adalah tahunan (1912 – 1923). Pada masa awal berdirinya di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, forum tertinggi ini belum memiliki nama khusus yang formal dan sistematis seperti sekarang. Pertemuan dilakukan setiap tahun di Yogyakarta untuk membahas perkembangan organisasi.

Periode kedua (1924 – 1940), dibawah kepemimpinan KH Ibrahim, Muhammadiyah mulai menggunakan istilah "Kongres". Istilah ini diserap dari bahasa Inggris (Congress) yang saat itu sangat populer di kalangan organisasi pergerakan nasional untuk menunjukkan semangat modernitas dan kemajuan.

Tahun 1944 – 1946 adalah “Masa Darurat”, akibat situasi Perang Dunia II dan Revolusi Fisik (perang kemerdekaan). Muhammadiyah tidak bisa menyelenggarakan pertemuan besar secara normal. Sebagai gantinya, diadakan pertemuan terbatas yang disebut Congress Dharurot (Kongres Darurat).

Perubahan menjadi Muktamar dimulai tahun 1950. Setelah Indonesia berdaulat sepenuhnya, Muhammadiyah menyelenggarakan forum tertinggi ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Pada momen inilah nama "Kongres" resmi diganti menjadi "Muktamar".

Muktamar merupakan agenda tertinggi dalam organisasi Muhammadiyah. Ibarat sebuah negara, Muktamar adalah "sidang paripurna" di mana arah masa depan organisasi ditentukan. Adapun tujuan dari muktamar adalah:

Forum Tertinggi. Muhammadiyah adalah organisasi yang dikelola secara demokratis dan kolektif-kolegial. Muktamar menjadi wadah bagi seluruh perwakilan wilayah dan daerah di Indonesia (bahkan cabang istimewa di luar negeri) untuk menggunakan hak suaranya. Di sinilah legitimasi kepemimpinan dibangun.

Regenerasi. Salah satu agenda paling krusial adalah pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode berikutnya. Muhammadiyah dikenal memiliki sistem pemilihan yang unik. Peserta memilih 13 nama dari sekian banyak calon. 13 orang terpilih tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum.

Laporan Pertanggungjawaban dan Evaluasi. Muktamar menjadi ajang bagi pimpinan periode berjalan untuk melaporkan apa saja yang sudah dicapai, kendala yang dihadapi, dan bagaimana pengelolaan keuangan serta aset organisasi (seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan) selama 5 tahun terakhir.

Program Kerja. Dunia terus berubah, dan Muhammadiyah perlu menyesuaikan langkahnya. Dalam Muktamar, disusun Program Kerja dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah untuk menghadapi isu-isu kontemporer, baik di level nasional maupun global (seperti perubahan iklim, ekonomi digital, hingga politik).

Silaturahmi dan Syiar. Selain urusan formal administrasi, Muktamar adalah ajang konsolidasi akbar. Ribuan hingga jutaan penggembira biasanya hadir untuk merayakan semangat pembaruan. Ini berfungsi untuk memperkuat ikatan batin antarkader (ukhwah) agar tetap solid dalam menjalankan misi dakwah.

Read More
      edit

Sabtu, 02 Mei 2026

Published Mei 02, 2026 by with 0 comment

Aktualisasi Diri

 

oleh : DR. HM. Khoiruddin Bashori

Aktualisasi diri adalah sebuah konsep psikologi yang merujuk pada keinginan seseorang untuk mengembangkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya hingga mencapai titik maksimal. Secara sederhana, ini adalah proses menjadi "versi terbaik dari diri sendiri."Maslow menjelaskan, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur), keamanan, sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah perasaan terpenuhi ketika mereka mampu mengembangkan potensi diri sepenuhnya dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Menurut Maslow, kebahagiaan sejati tidak datang dari kepemilikan materi (koleksi barang), tetapi dari pencapaian potensi diri. Koleksi materi mungkin memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan penghargaan, tetapi tidak memberikan kepuasan jangka panjang seperti yang diberikan oleh aktualisasi diri.

Setiap individu memiliki dorongan bawaan untuk mencapai aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Kebahagiaan sejati datang ketika seseorang hidup selaras dengan "diri sejati" (true self) dan tidak terhambat oleh tekanan sosial atau harapan orang lain.

Eudaimonia, konsep yang berasal dari filsafat Aristoteles menjelaskan, kebahagiaan berasal dari hidup yang bermakna dan mengembangkan potensi diri. Aktualisasi potensi diri adalah bentuk eudaimonia, di mana kebahagiaan tidak bergantung pada kepemilikan materi, tetapi pada pencapaian tujuan yang bermakna dan pengembangan diri.

Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana seseorang dapat mengaktualisasikan potensi dirinya. Aktualisasi diri dan eudaimonia adalah konsep-konsep kunci yang menjelaskan mengapa dengan fokus pada aktualisasi diri, seseorang dapat mencapai kebahagiaan yang lebih autentik dan tahan lama.

Ciri-Ciri Orang yang Mencapai Aktualisasi Diri

  • Penerimaan Diri: Mereka menerima kekurangan diri sendiri, orang lain, dan kodrat alam tanpa rasa mengeluh yang berlebihan.
  • Spontanitas: Bertindak secara alami dan jujur pada perasaan sendiri, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.
  • Fokus pada Masalah: Lebih peduli pada pemecahan masalah di luar diri mereka (misi hidup) daripada sekadar ego pribadi.
  • Kemandirian (Otonomi): Tidak terlalu bergantung pada pujian atau opini orang lain untuk merasa bahagia.
  • Apresiasi yang Terus Menerus: Mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana di kehidupan sehari-hari (seperti matahari terbenam atau bunga yang mekar) berulang kali dengan rasa syukur.


Read More
      edit

Minggu, 12 April 2026

Published April 12, 2026 by with 0 comment

Pengajian Triwulan

 

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Candirejo, pada hari Ahad, 12 April 2026 berkesempatan menyelanggarakan kegiatan rutin, berupa pengajian triwulan. Berlangsung di Masjid Ash Shodiqul Wa’di, Kalongan, Candirejo Ngawen, Klaten. Aktivitas ini menyuburkan pengajian rutin yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu.

Sebagai tuan, Bapak H. Mudzakir mengucapkan terima kasih atas kehadiran jama’ah sekaligus memohon maaf apabila dalam menerima tamu kurang berkenan. Sekaligus melaporkan bahwa masjid-masjid di lingkungan Candirejo, dibawah asuhan PRM terus aktif menyelenggarakan pengajian atau kajian. Karena hidupnya Muhammadiyah dari pengajian yang dilaksanakan secara terus-menerus.

Sementara itu, Bapak Agung Widodo, S.Pd, M.Pd juga memohon ijinkan teman-teman, karena beberapa Pimpinan belum dapat begabung, karena berbarengan dengan acara lain. Baik Pimpinan maupun Warga Muhammadiyah, meski ada perbedaan tetap kompak sebagai ujud ukhuwah Islamiyah.

Bapak H. Rusmanto, MP., sebagai nara sumber menekankan pentingnya penanaman karakter sejak dini. Karena karakter sebagai pondasi kehidupan anak seperti: kejujuan, kedisiplinan, empati dan hormat kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan prinsip dakwah, yaitu “permudahkanlah, jangan dipersulit”.

Apalagi bila penanaman karakter tersebut diimplementasikan dalam surat al fatihah, akan semakin jelas anak membedakan mana yang benar dan salah, memiliki sikap sopan dan beretika, dan mampu mengontrol emosi dan perilaku.

Menanamkan karakter Al-Fatihah sejak dini berarti membantu anak memahami dan mempraktikkan nilai-nilai utama yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah, bukan sekadar menghafalnya, tapi mampu mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Al-Fatihah Penting untuk Pendidikan Karakter Anak? Karena Al-Fatihah merupakan Ummul Kitab (induk Al-Qur’an), yang di dalamnya terdapat fondasi akidah, ibadah, dan akhlak. Jika ditanamkan sejak dini, anak akan tumbuh dengan: kesadaran bertuhan, sikap syukur, rendah hati, disiplin beribadah, dan perilaku yang lurus.

Ciri utama bahwa dakwah berhasil, yaitu bila semua ajarannya diamalkan. Indikator lainnya diantaranya: lebih memahami ajaran Islam dengan benar, Tidak mudah terpengaruh paham yang keliru. Perubahan pemahaman ini akan menimbulkan perubahan sikap dan perilaku nyata.



Read More
      edit

Selasa, 07 April 2026

Published April 07, 2026 by with 0 comment

Sosialisasi e-KTAM

 

Selasa, 7 April 2026 bertempat di Masjid Ash Shodiqul Wa’di Kalongan, Candirejo Ngawen Klaten telah berlangsung pertemuan rutin Pimpinan Ranting Muhammadiyah Candirejo, dengan topik utama sosialisasi e-KTAM melalui MASA. Sebagai naras umber adalah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten.

Muhammadiyah terus berinovasi di tengah perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Ismail Fahmi, menyampaikan langkah besar organisasi itu untuk memperkuat transformasi digital melalui sebuah inisiatif bernama Muhammadiyah Digital Universe (MDU).

MDU adalah sebuah ekosistem digital terintegrasi yang dikembangkan oleh Muhammadiyah untuk memperkuat langkah menuju era digital dan memperkuat tata kelola organisasi berbasis data. Inisiatif ini menyatukan berbagai layanan digital dalam satu ekosistem terpadu untuk memudahkan anggota mengakses aktivitas persyarikatan. 

Berikut adalah komponen utama dan tujuan dari Muhammadiyah Digital Universe:

  • Ekosistem Terintegrasi: MDU menyatukan berbagai platform digital, termasuk MASA (Muhammadiyah Aksi Satu Aplikasi)Muhammadiyah ID, dan SatuMu dalam satu fondasi transformasi digital.
  • Identitas Digital Tunggal (Muhammadiyah ID): Platform ini menghadirkan sistem identitas digital tunggal (Muhammadiyah ID) yang memungkinkan anggota untuk mengakses seluruh layanan MDU secara aman dan terintegrasi.
  • MASA (Muhammadiyah Aksi Satu Aplikasi): Berfungsi sebagai pusat layanan yang menghubungkan anggota dengan fitur dan aktivitas persyarikatan.
  • Kemudahan Pendaftaran KTAM: MDU terhubung dengan sistem pendaftaran Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM), yang memudahkan keluarga besar Muhammadiyah untuk mendaftar.
  • Tujuan Transformasi: Langkah ini bertujuan meningkatkan digitalisasi organisasi agar lebih efisien dan modern, sejalan dengan prinsip gerakan modernis. 


Read More
      edit

Kamis, 19 Maret 2026

Published Maret 19, 2026 by with 0 comment

Puasa dan Pengendalian Lisan serta Anggota Tubuh

Bertempat di Lapangan Candirejo, pelaksanaan sholat ‘Iedul Fitri 1447 H berlangsung dengan hikmad dan lancar. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Candirejo mengucapkan terima kasih kepada Bapak Imam dan Khotib, Ustadz Ahmad Alexander, S.Pd. dari Ma’had An Najm Sorobayan, Pedan, Klaten. Demikian pula unacapan terima kasih tertuju kepada Jamaah, segenap panitia dan semua warga Candirejo yang telah mendukung acara ini.

Dalam khotbahnya, ustadz menjelaskan bahwa:

Pertama, mengingatkan kepada hadirin jamah sholat ‘Ied untuk senantiasa bersyukur setelah sebulan penuh, berhasil melalui berbagai macam ujian hawa nafsu dalam bulan Ramadhan.  Menyalakan kepada jamaah untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa dengan sebenar-benarnya. Yaitu dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan larangannya. Selalu mengucapkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, semoga kelak mendapat syafaatnya.

Kedua, menyitir pendapat dari Ibnu Hajar al-Haitami yang merupakan salah satu ulama besar mazhab Syafi‘i. Mendapat gelar: Syaikh al-Islam. Lahir: Tahun 909 H (±1503 M) di Mesir dan Wafat Tahun 974 H (±1567 M) di Makkah Bidang keilmuan: Fikih, hadis, ushul fikih, akidah, tasawuf.

Ibnu Hajar al-Haitami memandang puasa sebagai ibadah agung yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga latihan pengendalian diri, penyucian jiwa, dan pembentukan akhlak. Berpuasa juga tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tetapi di hari-hari lainpun seyogyanya berpuasa. Karena pada intinya, berpuasa adalah “menahan diri”.  

Puasa yang sah secara fikih belum tentu sempurna pahalanya. Puasa harus lepas dari rasa: Ghibah, dusta, adu domba dan melihat yang haram. Beliau juga berpendapat bahwa “sejelek-jelek manusia adalah mengenal Allah hanya dalam bulan Ramadhan saja”.

Perbandingan pendekatan karakter orang berpuasa menurut Imam al Ghazali, Imam an Nawawi dan Ibnu Hajar al Haitami.

Ulama

Sumber Utama

Karakter Pendekatan

Imam al‑Ghazali

Iḥyā’ ‘Ulūm ad‑Dīn

Tasawuf & tazkiyatun nafs

Imam an‑Nawawi

Syarḥ Shahih Muslim, Al‑Majmū‘

Hadis & fikih-akhlak

Ibnu Hajar al‑Haitami

Az‑Zawājir, Tuḥfat al‑Muḥtāj

Fikih Syafi‘i + akhlak

Ketiga, Harapan orang berupuasa

1.     Berdoa kepada Allah agar, hatinya tetap teguh

2.     Beribadah yang continue

3.     Hari raya hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman





Read More
      edit

Senin, 02 Maret 2026

Published Maret 02, 2026 by with 0 comment

Kapan Muhammadiyah Menggunakan Hisab

 

oleh : Ismail Fahmi, Ph.D

Tanya: saya mau tanya TARJIH sejak tahun berapa Muhammadiyah mengusung hisab dan sudah berapa kali ganti rumus sepanjang seabad pertama itu

Pertanyaan yang sangat menarik dan substantif!

Dokumen Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) 06/2014 (Pedoman Hisab Muhammadiyah) dan BRM 05/2025 (KHGT) memuat informasi yang cukup lengkap untuk menjawab ini secara terverifikasi.

Pertanyaan: Sejak kapan Muhammadiyah mengusung hisab, dan sudah berapa kali berganti metode/kriteria sepanjang seabad pertama?

Jawaban:

Sejak awal berdirinya — dimulai oleh K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923 M)

Dokumen Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) 06/2014 secara eksplisit menyatakan:

"Dalam lingkungan Muhammadiyah, kajian ilmu falak syar'i dipelopori oleh Ahmad Dahlan (w. 1923 M)."

Artinya, sejak Muhammadiyah berdiri pada 1912 M, tradisi hisab sudah menjadi bagian dari identitasnya. Bahkan salah satu tindakan pertama K.H. Ahmad Dahlan yang fenomenal adalah mengoreksi arah kiblat Masjid Besar Kauman Yogyakarta menggunakan ilmu hisab/falak — sebuah langkah yang pada zamannya dianggap sangat kontroversial.

Perkembangan Metode/Kriteria Hisab — Tiga Fase Utama

BRM 05/2025 (dokumen KHGT) secara gamblang mencatat perjalanan kriteria hisab Muhammadiyah sebagai berikut:

Fase 1 — Ijtimak Qablal Gurub (Konjungsi sebelum terbenam matahari)

Kriteria paling awal yang digunakan Muhammadiyah

Berfungsi sebagai "antitesa sempurna dari rukyat"▪️ Tujuannya: membangun kesadaran kuat tentang keharusan menggunakan hisab

Kriteria ini masih sangat sederhana — hanya mensyaratkan ijtimak (konjungsi Bulan-Matahari) terjadi sebelum matahari terbenam

Fase 2 — Imkanur Rukyah (Kemungkinan hilal bisa dilihat)

Digunakan sebagai "jalan tengah antara rukyat dan hisab"

Muhammadiyah sempat menggunakan kriteria ini dalam perjalanannya

Namun dinilai masih mengandung unsur ketidakpastian karena tetap terikat pada kondisi visibilitas hilal

Fase 3 — Hisab Hakiki Wujudul Hilal (kriteria paling lama dipakai)

Dipelopori oleh K.H. Wardan Diponingrat (1911–1991), Ketua Majelis Tarjih selama enam periode (1963–1985)

Menetapkan tiga kriteria kumulatif:

Telah terjadi ijtimak (konjungsi)

Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam

Saat matahari terbenam, piringan atas Bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud)

Kriteria ini memberikan kepastian ilmiah dan syar'i yang lebih kokoh

Digunakan Muhammadiyah dalam jangka panjang hingga era KHGT

Fase 4 — Kalender Hijriah Global Tunggal / KHGT (berlaku sejak BRM 05/2025)

Merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari wujudul hilal, bukan penggantian total

BRM 05/2025 menegaskan: "KHGT merupakan kelanjutan dari tajdid dengan ijtihad penggunaan hisab hakiki dalam Muhammadiyah yang telah berlangsung lama"

Perbedaan utama: wujudul hilal menggunakan prinsip lokal (wilayatul-hukmi), sedangkan KHGT menggunakan prinsip global

Sumber referensi:

BRM 06/2014 — Tanfidz Munas Tarjih XXVII, Pedoman Hisab Muhammadiyah, hlm. 180–182 & 247–248

BRM 05/2025 — Tanfidz KHGT, hlm. 22–23


Catatan Tambahan:

Dokumen juga mencatat tokoh-tokoh penting dalam rantai perkembangan hisab Muhammadiyah:

1. K.H. Ahmad Badawi (1902–1969) — menulis Hisab Haqiqi dan Gerhana Bulan

2. Sa'doeddin Djambek (1911–1977) — "banyak membawa pembaruan hisab di Indonesia", menulis Hisab Awal Bulan Qamariyah (1976)

3. K.H. Wardan Diponingrat (1911–1991) — peletak kriteria wujudul hilal

4. H.M. Bidran Hadie, Ir. H. Basith Wahid, Drs. H. Abdur Rachim — generasi penerus

5. Prof. Susiknan Azhari, Drs. Oman Fathurohman, Drs. Sriyatin Shodiq — generasi modern

Jika dihitung secara garis besar, sepanjang abad pertama Muhammadiyah (1912–2012), terdapat setidaknya 3 kali pergeseran kriteria hisab yang signifikan: dari ijtimak qablal gurub → imkanur rukyah → wujudul hilal. Dan kini pada abad kedua ditambah satu lagi dengan KHGT.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya konsisten pada jalur hisab — yang terus disempurnakan seiring perkembangan ilmu astronomi dan kebutuhan umat Islam global. 

Read More
      edit

Minggu, 15 Februari 2026

Published Februari 15, 2026 by with 0 comment

Harga Politik Sangat Mahal

 

Sebagian elit politik nasional menggelindingkan isu “kembali ke UUD 1945”. Alasannya tampak rasional. Sistem politik Indonesia setelah empat kali amandemen menimbulkan sejumlah problem pelik, antara lain posisi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang tidak jelas statusnya, yakni sekadar menjadi Lembaga Tinggi Negara. Padahal di UUD 1945 yang asli posisi MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara, yang antara lain mengangkat dan memberhentikan Presiden. Anggotanya terdiri atas utusan partai politik, utusan daerah, dan utusan golongan.

Memang krusial, setelah empat kali amandemen di era reformasi terjadi kerancuan sistem ketatanegaraan Indonesia, di antaranya tidak jelasnya status MPR. Sistem politik Indonesia menjadi rancu dengan praktik parlementer atau presidensial serasa parlementer. Otonomi daerah serasa federal. Masih banyak problem politik lainnya yang sampai sekarang seperti benang kusut atau buah simalakama.

Menghadapi isu sebagian elite politik tersebut mestinya semua pihak perlu menahan diri untuk tidak gegabah menerimanya begitu saja. Jangan sampai terjadi lagi politik coba-coba tanpa rancang-bangun yang matang dengan kajian mendalam dan luas dalam tempo yang panjang. Hal yang paling dikhawatirkan justru terjadi politisasi untuk kepentingan elite dan kelompok tertentu yang akan menjadi “penumpang gelap” di balik amendemen UUD 1945 tersebut.

Jangan menambah berat beban reformasi, sekaligus beban rakyat. Apakah tidak merasakan betapa dilema dan banyak mafsadat atau dampak buruk dari reformasi? Apa mau ditambah lagi? Diakui secara faktual tahun 1998 Indonesia memilih jalan reformasi demi keluar dari rezim otoritarian. Tapi tidak terbayangkan, ternyata reformasi bukan tanpa masalah besar.

Di era reformasi sistem politik, ekonomi, budaya, keagamaan, dan bidang kehidupan lain makin liberal dan sekuler. KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) makin meluas dalam beragam wujud. Oligarki politik dan ekonomi mengganas dan menguasai segala bidang, termasuk penguasaan atas kekayaan alam dengan dampak kerusakan lingkungan.

Politik uang dan politik transaksional makin bebas. Berbagai Undang-Undang bermasalah. Penyimpangan politik terjadi di banyak struktur dan aktivitas bernegara. Konflik sosial-horizontal dan vertikal terjadi luas. Kerusuhan Mei di Jakarta, Poso dan Ambon, serta Papua menjadi goresan peristiwa kelam. Ribuan korban jiwa manusia tak berdosa tumpah menjadi tragedi getir di Republik ini. Belum terhitung trauma sosial-politiknya di masyarakat setempat.

Pemilu tidak melahirkan pemimpin ideal, di tengah kubangan karut marut pelaksanaan. Pemilu 2019 dan 2024 bahkan memakan korban nyawa 894 dan 181 anggota PPK-KPPS. Pembelahan politik mengeras. Kebebasan orang makin terbuka hingga kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) menuntut hak hidup secara konstitusional di negeri yang beragama dan ber-Pancasila ini. Kelompok yang mengaku agnostik (anti agama) dan anti tuhan (atheis) mulai mengemuka. Dunia media sosial makin menggila niretika. Media masa mengabdi pada para pemilik modal. Apakah jarum jam reformasi dan sistem ketatanegaraan Indonesia harus berhenti atau surut ke belakang? Siapa yang harus bertanggung jawab atas tragedi nasional itu?

Semua pihak secara objektif dapat menimbang mafsadat dan maslahat dari reformasi 1998. Politik itu selain maslahatnya besar seringkali besar pula mafsadatnya. Tidak jarang tipis batasnya antara maslahat dan mafsadatnya. Pikiran awam lebih mudah melihat mafsadat bencana fisik ketimbang bencana politik. Padahal mafsadat politik itu sering masif dan destruktif. Karenanya jangan terus dilakukan percobaan politik sarat spekulasi, sebelum segalanya dikaji seksama. Sungguh kasihan nasib mayoritas rakyat yang sering menjadi korban, serta tidak makin sejahtera hidup di era reformasi!• (hns)

https://suaramuhammadiyah.id/read/harga-politik-sangat-maha

Read More
      edit