إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
(3)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Setelah seharian kemarin
kita disunahkan untuk berpuasa sehari bertepatan dengan hari arofah,
hari ini saatnya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Puasa arofah
bukan saja melaksanakan sunah Rasulullah saw, bukan pula bersimpati kepada
rekan kita yang pada hari ini berkesempatan melaksanakan ibadah Haji, puasa
arofah adalah simbol ketaatan kita mengikuti perintah para nabi.
Nabi Ibrahim as. Adalah pilihan Allah. Ada
empat sebutan yang ditujukan beliau. Abul Anbiya’ artinya Bapak para
nabi, karena garis keturunan beliau, semua menjadi nabi. Dari putranya, Nabi Ishaq as, lahir
keturunan Bani Israil seperti Nabi Yaqub, Yusuf, Musa, Dawud, Sulaiman, hingga
Isa as. Dari Nabi Ismail as, lahir nabi sekaligus rasul terakhir, yaitu Nabi
Muhammad SAW.
Beliau juga dijuluki Khalilullah yang
artinya “kekasih Allah”. Gelar ini diberikan karena cinta, ketaatan, dan
ketundukan Nabi Ibrahim yang luar biasa mutlak hanya kepada Allah SWT. Hanifan
Muslimin yang berarti “Seorang yang lurus lagi berserah diri” sebutan
lainnya.
Perayaan hari raya Qurban tak lepas dari peran
Nabi Ibrahim as. Bahkan, sebelum diangkat menjadi nabipun, Ibrahim kecil telah diberi
tugas oleh Allah untuk berhadapan dengan Raja Namrud. Ibrahim adalah
putra dari Azar seorang pemahat patung kesukaan Raja Namrud. Setelah
Ibrahim lahir, dan ternyata seorang laki-laki, maka Azar membuang Ibrahim yang
masih bayi ke sungai. Hal ini dilakukan agar tidak terkena aturan Raja, yang
mengatakan bahwa, siapapun bayi yang lahir laki-laki, maka harus dibunuh.
Ketegaran Nabi Ibrahim as dalam menghadapi
cobaan yang melahirkan ritual-ritual keagamaan hingga kini. Setelah menggu
begitu lama, hingga tua, tak kunjung juga diberi momongan. Setelah mendapatkan
momongan dan tumbuh sebagai anak kecil, dimana orang tua baru senang-senangnya
bermain, Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Betapa terpukulnya
perasaanya. Namun, karena ini adalah perintah yang harus dilakukan. Ismail
sendiripun yang juga digadang menjadi nabi, pasrah mendengar titah ayahnya.
Nabi Ibrahim as mendapat gelar Ulul
'Azmi (rasul yang memiliki ketabahan dan tekad yang luar biasa). Kehidupan
beliau adalah samudra keteladanan yang tidak pernah kering untuk digali. Nabi
Ibrahim tidak menerima begitu saja tradisi menyembah berhala yang dilakukan
oleh ayah dan kaumnya. Beliau menggunakan akal sehat dan mengobservasi alam
semesta (bintang, bulan, dan matahari) untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.
Nabi Ibrahim berani berdakwah menentang
arus, bahkan berhadapan langsung dengan penguasa zalim. Namun, saat mendebat
ayahnya, beliau tetap menggunakan tutur kata yang sangat lembut dan penuh
hormat, memanggil dengan sebutan "Wahai
ayahku.
Nabi Ibrahim tidak egois. Setiap kali
berdoa, beliau hampir tidak pernah melupakan keturunannya. Beliau memohon agar
anak cucunya menjadi orang yang mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah
berhala, dan dijadikan sebagai umat yang berserah diri.












