Kamis, 05 November 2026

Published November 05, 2026 by with 0 comment

Cara Bertanya pada Chathpt


Sekarang ini menanyakan segala sesuatu tentang keagamaan dan ketarjihan bisa lewat online. Tinggal buka chrome dan tuliskan alamatnya. 

Bagaimana cara bertanya pada chathpt?

1. Buka link https://hpt.muhammadiyah.or.id

2. Sebelum bertanya, silahkan masuk dulu lewat login (sudut kanan atas)

3. Setelah masuk, silahkan bertanya. Berikut adalah contohnya

4. Setelah di kli, maka muncul jawaban seperti ini.

Jawaban di atas, setelah saya cropping/potong. Jawaban aslinya cukup panjang lengkap dengan dalil-dalilnya. 
Ini tampilan setelah mendaftar.
 --- Selamat mencoba ---


Read More
      edit
Published November 05, 2026 by with 0 comment

ChatHPT Buka Akses Putusan Tarjih untuk Semua

Oleh: Ismail Fahmi, Ph.D

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., meluncurkan ChatHPT dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026). ChatHPT adalah asisten kecerdasan buatan untuk menelusuri Himpunan Putusan Tarjih, fatwa, dan Tanya Jawab Agama Majelis Tarjih dan Tajdid. Sambutan warga langsung terasa. Sejak diluncurkan pukul 09.30 WIB hingga pukul 18.35 WIB, ChatHPT menerima lebih dari 6.400 pertanyaan baru, atau sekitar 700 pertanyaan setiap jam.

Dalam peluncuran itu, Haedar menyebut ChatHPT sebagai bentuk antisipasi dan adaptasi Muhammadiyah terhadap era revolusi digital. Menurutnya, siapa pun yang ingin mengetahui keputusan dan pandangan keagamaan Muhammadiyah kini cukup membuka platform tersebut.

 "Ini bentuk penggunaan teknologi informasi terkini untuk kepentingan beragama," ujarnya. Ia berharap ChatHPT menjadi pegangan bagi generasi Z dan generasi Alfa. Peluncuran ini menjadi bagian dari Munas Tarjih XXXIII yang berlangsung 5 sampai 7 November 2026 dengan tema "Satu Abad Tarjih: Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan".

ChatHPT dikembangkan oleh Ismail Fahmi, Ph.D., Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, dan dilanjutkan oleh Muhammadiyah Software Labs (LabMu) sejak Agustus 2026. Seluruh isi rujukannya bersumber dari Majelis Tarjih dan Tajdid. Sejak pertengahan Agustus, ChatHPT menjalani masa uji coba versi beta yang terbuka bagi warga. Masukan dari ribuan percakapan selama masa itu dipakai untuk memperbaiki ketepatan jawaban, menambah fitur, dan memperkuat keamanan sistem. Setelah masa beta selesai, layanan dipindahkan ke domain resmi https://hpt.muhammadiyah.or.id dengan identitas visual baru, lalu diluncurkan secara resmi hari ini.

ChatHPT lahir dari persoalan akses. Jawaban resmi Persyarikatan sudah tersedia sejak Majelis Tarjih berdiri pada 1927, tetapi tersebar di banyak buku dan tahun terbit. Banyak warga akhirnya bertanya kepada AI umum yang menjawab cepat, tetapi tidak mengikuti manhaj tarjih dan kadang mengarang dalil. ChatHPT menjawab hanya dari naskah resmi Majelis Tarjih. Korpusnya memuat 1.153 naskah putusan, fatwa, dan tanya jawab, 2.742 konsep fikih dan ushul fikih, serta 3.855 entitas seperti tokoh, perawi, dan kitab yang saling terhubung. Setiap jawaban wajib menyebut rujukannya, dan bila arsip tidak memuat jawabannya, ChatHPT akan mengatakannya terus terang.

Selama masa uji coba hingga awal November, ChatHPT menerima 13.840 pertanyaan. Shalat menjadi topik terbanyak, hampir seperlima dari seluruh pertanyaan. Yang menarik, pertanyaan tentang muamalah digital dan AI mencapai 336, lebih banyak daripada pertanyaan tentang puasa dan Ramadan yang berjumlah 248. Pertanyaan warga sangat beragam, mulai dari hukum shalat memakai sandal, bunga pinjaman bank, amplop serangan fajar menjelang pilkades, hingga pertanyaan dalam bahasa Sunda yang dijawab dalam bahasa yang sama. Dengan lonjakan pada hari peluncuran, total pertanyaan kini telah melampaui 20.500.

ChatHPT dapat diakses melalui situs hpt.muhammadiyah.or.id dan menu ChatHPT di superapp MASA, dengan masuk menggunakan Muhammadiyah ID yang dapat didaftarkan gratis di sso.muhammadiyah.id. Di bawah setiap jawaban tersedia tombol Sajikan dalam Format yang mengubah jawaban menjadi artikel, utas media sosial, caption, khutbah Jumat, kultum, pantun, atau grafik konsep, sehingga memudahkan mubaligh dan guru menyiapkan bahan dakwah. Meski demikian, jawaban ChatHPT adalah rangkuman, bukan fatwa. Kewenangan atas isi putusan tetap berada di Majelis Tarjih dan Tajdid, dan pengguna dianjurkan membuka naskah aslinya sebelum mengutip.

Read More
      edit

Senin, 02 November 2026

Published November 02, 2026 by with 0 comment

Dipundak Anak Muda Peradaban Dibangun

 

Oleh: Muhammad Budi Setiawan

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Itulah kata Presiden Indonesia Ir. Soekarno yang bisa dijadikan pecutan untuk para pemuda di Indonesia saat ini. Dari kalimat itu, dapat kita artikan bahwa peran pemuda sangatlah besar bahkan mampu untuk mengubah dunia. Pemuda memiliki idealisme, semangat, dan kekuatan fisik yang masih tinggi. Ucapan Bung Karno tersebut bukan cuma omong kosong belaka. Banyak perubahan di dunia yang terjadi berasal dari tangan anak muda.

Pada masa pra hijrah Nabi Muhammad SAW dan umat Islam ke Madinah, Islam di Kota Makkah tidak menunjukkan perkembangan yang positif. Banyak pertentangan, penindasan, dan tekanan yang begitu besar dari tokoh Quraisy waktu itu. Di tengah keterpurukan umat Islam di Makkah, hadirlah 6 orang anak muda dari Yastrib yang menemuni Nabi Muhammad SAW dan menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah SAW. Enam pemuda itu juga menceritakan kondisi permasalahan di Yastrib. Yastrib dihuni oleh dua suku arab yaitu Khazraj dan Aus. Kedua suku arab tersebut hidup bersama orang-orang Yahudi. Suku Khazraj dan Aus terlibat pertikaian karena adu domba dari orang-orang Yahudi. Hal tersebut yang mengakibatkan kondisi Yastrib tidak kondusif. Keenam anak muda Yastrib tadi datang ke Makkah dan berharap agar Nabi Muhammad SAW dapat mendamaikan kedua suku arab tersebut. Selain itu, mereka juga berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk Islam.

Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan enam pemuda Yastrib yang sederhana itu sebetulnya merupakan awal mula dari kebesaran Islam. Dari situ awal terbukanya ajaran Islam berkembang. Ajaran Islam yang kemudian terus berkembang dan terus menyebar hingga penjuru dunia. Siapakah keenam pemuda itu? Kita kesulitan untuk mencari siapa saja nama-nama dari keenam pemuda itu. Meski mereka kurang dikenal, namun berkat dari keenam pemuda itu Islam yang kala itu sulit berkembang di Makkah malah justru sangat diterima baik oleh masyarakat Yastrib yang kemudian kita kenal sebagai Kota Madinah.

Hal itu juga yang terjadi pada sosok muda, Muhammad Darwis. Saat usia 15 tahun, hatinya telah peka dan terusik dengan berbagai permasalahan sosial dan pengamalan ajaran Islam yang tidak sesuai di tengah masyarakat. Itulah yang membuat Muhammad Darwis kemudian memilih hijrah dan memperdalam ilmu agama Islam ke Mekkah dan kembali ke tanah air di usia 20 tahun. Dengan nama baru, K.H. Ahmad Dahlan berupaya memperbaiki praktik ibadah di masyarakat yang kala itu lebih mengarah ke takhayul, bid’ah, dan khurofat. Muhammadiyah berdiri ketika K.H. Ahmad Dahlan berusia 44 tahun. Namun, pikiran dan perjuangannya mulai dibangun ketika beliau masih berusia 15 tahun. Lalu, apa yang kita pikirkan di usia 15 tahun?

Selain itu, ada pula seorang anak muda yang masih berumur 21 tahun namun telah berhasil meruntuhkan sebuah peradaban besar. Ialah Sultan Kekhalifahan Turki Ustmaniyah Muhammad II atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih. Muhammad Al-Fatih di usia yang masih muda telah berhasil meruntuhkan pusat Kerajaan Byzantium yakni Kota Konstantinopel.

Merebut Kota Konstantinopel bukan sekedar menaklukkan sebuah wilayah, namun juga membuktikan janji Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335).

Mau jadi apa kita besok adalah hasil dari yang telah kita rencanakan dan lakukan hari ini. Gagal merencanakan masa depan adalah merencanakan kegagalan. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa kenikmatan tidak bisa diraih dengan kenikmatan. Jika seseorang mau bersenang-senang sejak di awal hidupnya, bagaimana bisa mendapatkan kenikmatan di akhir hidupnya. Sesungguhnya kelezatan dan kenikmatan didapat dengan seberapa besar dia berlatih sabar untuk menanggung semua kesulitan di awal hidupnya. Tidak ada kebesaran kecuali untuk orang yang punya tekat yang tinggi. Tidak ada kelezatan kecuali untuk orang yang bersabar, tiada istirahat kecuali untuk orang yang lelah.

Kisah-kisah tersebut bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk terus berbuat dan berjuang di masa mudanya. Apa yang kita lakukan di masa muda adalah modal kita di masa tua. Apa yang kita raih di masa tua adalah imbas atau efek dari apa yang telah kita lakukan sejak kita masih muda. Jangan sia-siakan masa muda kita untuk sebuah kesenangan sesaat. Lebih baik kita optimalkan masa muda kita melakukan hal yang bermanfaat demi masa depan.

Read More
      edit

Senin, 26 Oktober 2026

Published Oktober 26, 2026 by with 0 comment

Bumbu Paling Sedap di Dunia

Oleh: Satria Dharma

Menurut Anda apa bumbu paling sedap di dunia…?!
Bumbu rendang…?! Bumbu rica-rica…?! Bumbu rawon…?! 
Bukan. Saya tidak sedang membicarakan bumbu dapur atau bumbu masakan.

Saya sedang membicarakan sebuah bumbu yang bisa benar-benar mampu MEMBIUS manusia. Dengan bumbu ini maka manusia bisa benar-benar sakau dan lupa diri. Dengan bumbu ini manusia bisa membenci dan tega membunuh siapa saja. Dengan bumbu ini manusia bisa mabuk dan terkena histeria massal. Dengan bumbu ini apa yang batil, jahat, nista, bisa menjadi baik, halal, terpuji, dan mendatangkan kekaguman. Dengan bumbu ini seorang penjahat yang paling kejam, wanita yang paling nista, bisa menjadi suci dan terpuji. Seseorang yang mulutnya kasar dan penuh sumpah serapah menyemburkan fitnah ke mana-mana akan bisa disebut “Gus”, “Yai”, atau bahkan “Habib”. Seorang filsuf Islam yang terkenal dengan kutipannya “Two truths cannot contradict one another.” Sudah mengingatkan kita berabad-abad yang lalu tentang bumbu paling enak di dunia ini.

Begini katanya, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah yang batil dengan agama.”. Nama bekennya Averroes tapi nama aslinya Abu Walid Muhammad bin Rusyd (Ibnu Rusyid), cendikia & ilmuwan muslim yang lahir di Andalusia Spanyol tahun 1128 M. Sejak ratusan tahun yang lalu Ibnu Rusyd ini sudah mengingatkan kita akan bahayanya BUMBU AGAMA ini. 

Dengan bumbu agama yang semakin dibikin canggih saat ini maka bukan hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara yang batil dan yang hak, yang busuk dan yang harum semerbak, yang nista dan yang terpuji, yang jahat dan yang jihad, tapi bumbu racikan terbaru ini bahkan mampu membuat ustad, ulama, kyai, cendekiawan muslim, menjadi terbius dan kehilangan nalar dan nuraninya.

Meski dia hanya bumbu tapi jika dimasukkan ke bahan makanan yang paling busuk, paling merusak dan meracuni, diharamkan sekali pun maka akan berubah menjadi masakan atau makanan yang digila-gilai oleh umat yang menganutnya. Cukup dengan memakai gamis dan surban serta mengutip sedikit istilah-istilah bahasa Arab, apalagi kalau Anda mampu mengutip ayat-ayat suci, maka dijamin Anda akan mampu membius umat Islam. Jika Anda sudah di atas panggung dengan jubah putih dan surban Anda maka Anda bebas untuk memaki-maki, berteriak-teriak seperti orang kesurupan, menyumpah-nyumpah, menista dan memfitnah, masuk penjara karena menyiksa anak, dan tetap dianggap ulama. Seorang bintang film porno akan tampak sangat shalihah jika Anda pakaikan jilbab padanya. Seorang bajingan paling tengik akan bisa jadi “Gus” dengan berdandan ala Habib Syeh. Itu baru penampilan luar lho…! Bayangkan kalau kebatilan tersebut dibungkus dengan berlapis-lapis dalil agama dengan penuh kutipan ayat Alquran dan hadist-hadist yang meski tidak ada hubungannya tapi kalau dibawakan oleh orang yang dianggap ustad, ulama, kyai, cendekiawan muslim, mualaf tercerahkan, maka korbannya bisa jutaan orang. 

Anda cukup mengatakan bahwa Anda hendak ‘Menegakkan Khilafah Islam’, ‘Menjalankan Hukum Syariah’, ‘Mengibarkan Panji-panji Islam’, ‘Membela Agama Allah’, ‘Meninggikan Marwah agama’, ‘Membela Umat yang Tertindas’, ‘Demi Tegaknya Hukum Allah’, dan sejenisnya maka Anda bisa langsung melesat menjadi seorang mujahid. Jangan lupa teriakkan takbir dengan muka garang siap menerkam agar Anda semakin memukau para khalayak penikmat bumbu paling sedap di dunia ini.

Dengan bumbu agama maka umat Islam akan bersedia untuk saling bunuh, saling cincang, saling serang, melakukan perbuatan yang paling kejam dan nista dan menghancurleburkan negaranya sendiri. Dengan alasan ingin menegakkan negara khilafah yang akan melaksanakan hukum Islam secara kaffah umat Islam dari berbagai negara datang ke Suriah untuk memerangi pemerintahnya yang sah. Mereka tidak peduli apakah perbuatan mereka itu salah dan melawan perintah Tuhan selama mereka menikmati bumbu ‘syariat menegakkan hukum Allah’ maka mereka tetap menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu berada di ‘jalan Tuhan’. Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan dan pengorbanan mereka pasti akan diganjar dengan sorga kelak. Jangan heran kalau ada keluarga yang bahkan mengajak anak-anaknya untuk jadi syahid dengan melakukan bom bunuh diri di gereja seolah gereja itu adalah sumber kemaksiatan yang patut dibom dengan menyerahkan jiwa raga mereka sekeluarga. I never understand such kind of madness and lunacy. Tapi begitulah faktanya kalau orang sudah keracunan doktrin kebencian berbalut agama. 

Sekarang ini orang bisa teriak “Ganyang PKI…!” padahal kelakuannya lebih PKI daripada PKI. Orang PKI dulu melakukan kebiadabannya tidak menggunakan kedok agama dan tidak meneriakkan takbir ‘Allah Akbar’. Mereka hanya PKI biasa. Lha sekarang ini sudah ‘PKI Berbumbu Syariah’. Mereka mau memberontak dan melakukan makar pada pemerintah tapi alasannya adalah untuk mendirikan ‘khilafah Islam’ dan katanya itu adalah Perintah dan Hukum Allah. Mereka akan melakukan demo berjilid-jilid, mengumandangkan takbir, tahmid, dan shalawat, mereka akan melakukan salat di jalanan, di stadion, mengutuk dan mencacimaki pemerintah, dan merasa telah melakukan sebuah jihadul akbar melawan kaum kafirin musyrik munafikin. Meski pun nyata-nyata bahwa tidak ada perintah dari Tuhan mau pun dari Nabi Muhammad untuk mendirikan kekhilafahan tapi dengan bumbu racik ‘Khilafah Tahririyah’ toh bisa membius banyak umat Islam baik yang bodoh mau pun yang sebenarnya cerdas. 

Kalau dulu Karl Marx mengatakan bahwa ‘Agama itu candu’ maka dengan ini saya mau katakan bahwa “Agama itu bumbu paling sedap di dunia. Anything goes right, legit, and tasty with it.” Surabaya, 2 september 2020

https://satriadharma.com/2020/09/02/bumbu-paling-sedap-di-dunia/

Read More
      edit

Rabu, 14 Oktober 2026

Published Oktober 14, 2026 by with 0 comment

Berani Beda

oleh : Dr. Khoiruddin Bashori

Dengan melakukan hal yang unik atau berbeda, seseorang dapat memperoleh kepuasan psikologis yang lebih besar, karena merasa lebih bernilai atau spesial dibandingkan orang lain. Kreativitas dan inovasi muncul ketika seseorang melakukan sesuatu yang menantang dan berbeda dari kebiasaan umum.

Dengan melakukan hal yang tidak biasa, seseorang dapat mencapai keadaan "flow", yaitu kondisi di mana ia sepenuhnya terlibat dan menikmati aktivitas tersebut. Melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri yang kreatif, yang pada akhirnya dapat menghasilkan hasil yang lebih unik dan bernilai.

Skinner menjelaskan, perilaku yang diikuti oleh konsekuensi positif cenderung diulang. Jika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dan mendapatkan hasil yang lebih baik, ia akan cenderung mengulangi perilaku tersebut. Dengan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, seseorang mungkin menemukan cara baru yang lebih efektif untuk mencapai tujuan.

Untuk mencapai hasil yang lebih baik, seseorang perlu melampaui apa yang dilakukan orang lain dengan menciptakan inovasi atau strategi baru. Dengan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, seseorang dapat menciptakan model baru yang dapat diikuti oleh orang lain, sehingga ia menjadi pionir atau pemimpin dalam bidangnya.

Dengan demikian, melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain dapat dilihat sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih tinggi, mengekspresikan kreativitas, mencapai aktualisasi diri, dan menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Read More
      edit
Published Oktober 14, 2026 by with 0 comment

Persia Dulu, Iran Sekarang

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari*

Banyak orang mengira Iran adalah negara Arab, anggota Liga Arab, dan bagian dari dunia Arab. Padahal sama sekali tidak. Iran memang termasuk ke dalam kategori negara-negara Timur Tengah (Middle Eastern) bersama 22 negara Arab, ditambah dengan Turki, Afghanistan, dan last but not least tentu Israel.

Namun Iran, lengkapnya Republik Islam Iran (RII), secara antropologis (etnis, bahasa, dan kebudayaan) bukanlah Arab. Dan orang Iran juga paling tidak suka jika diidentikkan sebagai Arab. Memang bahasa Persia, nama bahasa nasional Iran, ditulis dengan huruf-huruf seperti huruf Hijaiah (huruf Arab), tetapi orang Iran mengatakan itu bukan huruf Arab Hijaiah.

Bangsa Iran, dulu lebih dikenal sebagai bangsa Persia, merasa memiliki kebudayaan dan peradaban sendiri yang jauh lebih tua dan besar daripada peradaban Arab dan Islam. Kekaisaran Persia adalah satu di antara dua kekaisaran besar dunia yang selalu bersaing dan berperang satu sama lain, yaitu kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persia.

Dua kekaisaran ini menang dan kalah silih berganti berputar berkepanjangan dan berputar tak berkesudahan. Dua kekaisaran ini sebelum Islam memang adikuasa (super power) dunia pada zamannya itu: begitu besar, penting, dan strategisnya sampai diabadikan dalam Al-Quran Surah Rum.

Islamisasi dan Arabisasi

Seperti diketahui dua kekaisaran raksasa di atas pada saatnya nanti dikalahkan dan ditaklukkan oleh Islam. Beberapa provinsi Romawi (baik Romawi Barat maupun Timur) seperti provinsi-provinsi Syam dan Aleksandria (Afrika Utara), ditaklukkan pada masa Fathu Syam melalui proyek, meminjam istilah Al-Baladzuri, Futuhul Buldan, yang mencapai puncak keberhasilannya yang paling gemilang pada masa Khalifah Umar bin Khattab (734-644).

Negeri Syam bukan hanya ditaklukkan oleh Kekhalifahan Rasyidah yang notabene adalah Arab dan Islam secara politik, melainkan juga berhasil diarabkan. Orang-orang Syam atau bangsa Syam bukan hanya berhasil secara agama diislamkan melainkan juga secara etnis dan kebudayaan diarabkan (Arabized).

Bangsa Syam yang semula adalah bukan bangsa Arab dan berbicara tidak dengan bahasa Arab mengalami proses Arabisasi yang sangat intensif dan ekstensif sehingga secara berangsur- angsur menjadi Arab dan berbicara dalam bahasa Arab.

Singkatnya, bangsa Syam mengalami proses Arabisasi sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi Arab dan terarabkan. Dalam konteks inilah mereka disebut sebagai Arab Musta’ribah (Arabized Arab): orang yang sebenarnya non-Arab, tetapi berubah menjadi Arab.

Itulah orang-orang Arab Syam dulu itu. Dan itulah orang-orang Palestina, Yordania, Lebanon, dan Suriah sekarang ini. Mereka semula non-Islam yang berhasil diislamkan dan non-Arab yang berhasil diarabkan.

Demikian juga dengan kekaisaran Persia. Penaklukan Persia juga dilakukan oleh pasukan Muslim (baca: Arab Islam) yang dimulai pada sekitar tahun 733 sampai 754. Kekaisaran Persia yang juga lebih dikenal dengan Kekaisaran Sassaniyah atau Sassanid jatuh ke tangan kekhalifahan Rasyidah juga pada masa Umar bin Khattab.

Sebagaimana Syam yang berhasil ditaklukkan, demikian juga dengan Persia. Hanya saja bedanya: Syam berhasil ditaklukkan, diislamkan, dan diarabkan, Persia tidak demikian. Persia berhasil ditaklukkan dan diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan.

Bangsa Persia atau bangsa Iran menerima kekuasan Islam dan menerima
agama Islam dengan tulus, tetapi secara kebudayaan dan bahasa menolak diarabkan.

Pasalnya, bangsa Persia merasa sudah memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri, yaitu kebudayaan dan bahasa Persia. Nasionalisme Persia menolak Arabisasi, tetapi menerima islamisasi. Walhasil, bangsa Persia berhasil diislamkan, tetapi gagal diarabkan. Bangsa Persia akhirnya menjadi bangsa Muslim, tetapi tidak mau menjadi Arab, seperti orang Syam dan Aleksandria.

Sumbangan Persia

Dalam konteks dan perspektif ini ada banyak bangsa di dunia ini yang berhasil diislamkan, tetapi tidak bisa diarabkan. Di antara bangsa-bangsa yang berhasil diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan adalah bangsa Persia, bangsa Turki, dan, jangan kaget, bangsa Indonesia!

Bangsa-bangsa ini menerima Islam dan beragama Islam, tetapi tidak berbicara dengan bahasa Arab dan karena itu “selamat” tidak menjadi Arab. Bangsa-bangsa yang sekarang ini disebut bangsa Arab (kecuali orang Arab yang asli Arab yang berasal dari Jazirah Arab atau Arab Peninsula, khususnya Hejaz) adalah bangsa-bangsa yang pada aslinya dahulu bukan bangsa Arab. Bangsa-bangsa yang sebenarnya bukan Arab itu menjadi Arab karena mereka berbicara dengan bahasa Arab.

Walhasil, bahasa Arab adalah ujung tombak arabisasi sehingga akhirnya mereka menjadi Arab. Pasalnya, seperti kata Albert Hourani dalam bukunya The History of the Arab People (1990) memang demikianlah definisi dari apa yang disebut dengan bangsa Arab itu: bangsa Arab bukan hanya bangsa yang berdarah Arab, melainkan juga bangsa yang berbicara dengan bahasa Arab atau berbahasa ibu (mother tongue) bahasa Arab.

Sampai di sini sangat jelas bahwa negara Iran bukanlah negara  Arab, dan bangsa Iran bukanlah bangsa Arab. Namun, bangsa Iran adalah bangsa Persia yang notabene mayoritas absolut beragama Islam. Dan keislaman bangsa Iran adalah luar biasa kuat, berani, dan militan.

Lebih daripada itu bangsa Iran atau bangsa Persia yang sekali lagi notabene Muslim sejak abad ke-8 atau bahkan abad ke-7 ini menyumbang banyak sekali sarjana dan ulama kelas satu.

Tidak banyak yang tahu bahwa Imam Ghozali (filsuf dan sufi terkenal), Ibnu Sina (dokter), Fakhruddin Ar-Razi, Abu Faraj Al-Isfahani (seniman dan budayawan), Sibawayh (ahli bahasa), Al-Farabi (filsuf), Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi), Imam Bukhari, Imam Muslim, Al-Biruni, Abu Dawood, Al-Tirmidhi, Hakim Nishapuri, Sheikh Tusi, dan sederet nama lagi, adalah ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan asli Persia atau Iran sekarang.

Tidak banyak yang tahu bahwa pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750- 1258) yang berpusat di Baghdad yang merupakan puncak zaman keemasan Islam, yang menjadi tulang punggungnya kekhalifahan tersebut adalah orang-orang Muslim keturunan Persia.

Banyak sekali menteri, perdana menteri, sarjana, ilmuwan, ulama, yang adalah orang Persia, kelahiran Persia dan mengidentifikasikan dirinya sebagai Muslim dalam pengertian seutuhnya. Jasa Persia atau Iran sangatlah besar dalam sejarah Islam.

Walhasil, jika kini Iran tampil sebagai pembela nasib bangsa Palestina yang sangat gigih, berani dan militan, maka itu tidak mengejutkan. Hanya orang-orang yang kurang menghayati sejarah saja yang mengalami kekagetan menyaksikan fenomena ini. Pembelaan dan perjuangan bangsa Persia terhadap Islam memang memiliki presedennya sendiri yang sangat kuat. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah mantan Duta Besar RI di Beirut

Sumber: https://suaraaisyiyah.id/persia-dulu-iran-sekarang

 


Read More
      edit

Rabu, 16 September 2026

Published September 16, 2026 by with 0 comment

Fikih Menunda Kehamilan dalam Bingkai Maqashid Syariah

Oleh: Aditiya Widodo Putra (Pembelajar di Bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global)

Di Indonesia, tren childfree atau pilihan untuk tidak memiliki anak memicu perdebatan yang membara. Hal ini membelah opini antara kewajiban agama dan hak atas tubuh sendiri.

Sebenarnya, Islam adalah agama yang sangat luwes dalam memandang dinamika keluarga. Jauh sebelum istilah kontemporer ini muncul, para ulama besar dalam kitab-kitab muktabar sudah mendiskusikan mekanisme pengaturan kelahiran dengan sangat mendalam dan adil.

Banyak yang salah kaprah bahwa memiliki anak adalah perintah mutlak tanpa pengecualian. Padahal, jika kita merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits, titik beratnya bukan sekadar pada jumlah kepala, melainkan pada kualitas hidup dan keselamatan jiwa para pelakunya.

Menjaga Keturunan: Kuantitas vs Kualitas

Dalam kajian Maqashid Shariah, menjaga keturunan (Hifdzun Nasl) sering disalahartikan hanya sebagai perintah memproduksi anak sebanyak mungkin.

Padahal, esensi dari tujuan ini adalah memastikan keberlanjutan manusia yang berkualitas, bukan menciptakan beban sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9)

Rasulullah memang bangga dengan jumlah umatnya yang banyak, namun Hadits Shahih riwayat Abu Dawud juga mengingatkan kondisi umat Islam yang banyak namun seperti buih di lautan. Artinya, kuantitas tanpa bobot seperti intelektual, ekonomi, mental bukanlah sesuatu yang ideal dalam kacamata Islam global.

Pilihan untuk menunda atau meniadakan kehamilan sering kali lahir dari kesadaran akan ketidakmampuan memberikan hak-hak anak secara sempurna.

Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalam beban yang tidak sanggup dipikul, sesuai prinsip “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya).

Maslahah: Timpangan Antara Hak dan Beban

Dalam hukum Islam global, dikenal kaidah “Ad-dararu yuzal” (kemudharatan haus dihilangkan). Jika kehadiran anak justru memicu depresi berat, keretakan rumah tangga, atau kemiskinan ekstrem, maka mencegah kemudharatan tersebut lebih diutamakan dari pada mengejar keutamaan memiliki anak.

Konsep childfree dalam konteks ini tidak bisa dipukul rata. Jika motivasinya adalah kesombongan terhadap takdir Allah, maka tentu bermasalah. Namun, jika didasari pada analisis risiko terhadap kesehatan mental dan fisik perempuan, maka hukumnya bergeser menjadi mubah bahkan dianjurkan.

Kita harus mengakui fakta medis bahwa kehamilan melibatkan risiko nyawa. Maqashid pertama, Hifdzun Nafs (Menjaga Jiwa), menduduki posisi lebih tinggi dari pada Hifdzun Nasl (Menjaga Keturunan). Jiwa ibu yang sudah ada harus diprioritaskan keselamatannya dibandingkan janin yang belum terbentuk.

Keadilan reproduksi dalam Islam memberikan hak bagi istri untuk setuju atau tidak dalam proses reproduksi. Mengingat beban biologis sepenuhnya ada pada perempuan, suara istri dalam menentukan kapan atau apakah akan hamil adalah pilar penting dalam rumah tangga yang sakinah.

Menepis Stigma, Mengedepankan Logika Syariat

Masyarakat sering menggunakan hadits tentang kesuburan wanita secara tekstual untuk memojokkan pilihan pribadi. Padahal, hadits tersebut harus dipahami dalam konteks masyarakat masa lalu yang membutuhkan kekuatan personil untuk pertahanan hidup, berbeda dengan tantangan dunia modern.

Dunia hari ini menghadapi tantangan sumber daya dan kepadatan populasi. Menjadi orang tua di abad ke-21 menuntut kesiapan finansial dan emosional yang jauh lebih kompleks. Islam, melalui prinsip Maslahah Mursalah, sangat terbuka terhadap perubahan zaman yang mempengaruhi keputusan domestik.

Jika keputusan childfree diambil karena rasa tanggung jawab agar tidak melahirkan anak yang terlantar, maka itu adalah bentuk ketakwaan. Menunda kehamilan untuk menjamin masa depan yang lebih stabil secara ekonomi juga selaras dengan prinsip Hifdzul Mal (Menjaga Harta) agar tidak jatuh dalam kefakiran.

Penting bagi kita untuk tidak menghakimi pilihan pasangan sebagai bentuk pemberontakan terhadap agama. Justru, pemikiran yang matang sebelum menghadirkan nyawa baru ke dunia adalah cerminan dari kedalaman pemahaman terhadap amanah yang diberikan Tuhan.

Oleh karena itu, jika seorang Muslim merasa belum mampu memikul tanggung jawab besar tersebut, syariat menyediakan pintu keluar melalui pengaturan kehamilan.

Mari kita tempatkan diskusi childfree ini pada koridor yang proporsional. Bukan sebagai tren gaya hidup semata, namun sebagai ijtihad manusia modern untuk menciptakan keluarga yang kuat secara kualitas, bukan sekadar ramai secara jumlah.

Disadur dari: https://suaraaisyiyah.id/fikih-menunda-kehamilan-dalam-bingkai-maqashid-syariah/

Read More
      edit