Oleh:
Nanang S. Diyanto
"Saya
capek... jengkel... saya mau pulang."
Kalimat
itu meluncur lirih dari balik masker oksigen. Bukan teriakan, bukan pula amarah
yang meledak. Hanya suara seorang laki-laki yang seolah telah kehabisan tenaga
untuk melawan keadaan.
Saya
menoleh. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Infus yang baru beberapa
saat terpasang kembali tercabut. Sprei putih berubah merah. Tisu-tisu penuh
bercak darah berserakan di lantai ruang isolasi.
Saya
menarik napas panjang.
"Kalau
bapak capek, saya lebih capek," kata saya, berusaha menahan emosi.
"Kalau
bapak jengkel, saya juga lebih jengkel. Ini sudah empat kali sejak kemarin sore
bapak mencabut infus."
Pandemi
mengajarkan satu hal yang tidak pernah kami pelajari di bangku kuliah. Bahwa
kelelahan ternyata bukan hanya milik tenaga kesehatan. Pasien pun bisa
kehabisan harapan.
Di
ranjang sebelah, istrinya yang sama-sama terpapar Covid-19 ikut bersuara.
Dengan logat Jawa yang kental, kemarahan yang lama dipendam akhirnya tumpah.
"Kurang
ajar, Mas. Sudah dibilangi jangan keluyuran, tetap saja keluyuran. Orang di
rumah yang hati-hati malah ikut ketularan. Wis ben, wong ora iso
diatur..."
Barangkali
itu bukan sekadar kemarahan seorang istri kepada suaminya. Di dalamnya ada rasa
takut, cemas, kecewa, bahkan penyesalan yang selama berhari-hari dipendam dalam
ruang isolasi yang sunyi.
Saat
itu, ruang perawatan bukan hanya dipenuhi suara monitor dan desis oksigen. Ia
juga menjadi tempat bertemunya rasa bersalah, saling menyalahkan, dan
ketidakberdayaan.
Saya
kembali menyiapkan infus.
"Pak,
ini saya pasang untuk terakhir kalinya. Kalau nanti dicabut lagi, saya
benar-benar tidak mau memasangnya lagi. Di luar sana masih banyak orang yang
menunggu kamar ini. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan dirawat."
Ucapan
itu keluar begitu saja. Mungkin terdengar keras. Namun saat gelombang Covid-19
mencapai puncaknya, setiap tempat tidur adalah harapan yang diperebutkan. Di
luar rumah sakit, ambulans datang silih berganti. Di dalam, kami menghitung
oksigen, obat, tenaga, bahkan waktu.
Laki-laki
itu menundukkan kepala.
Beberapa
saat kemudian ia berbisik pelan.
"Maaf,
Mas... saya salah."
Saya
menghentikan pekerjaan sejenak.
"Saya
jengkel. Di rumah dimarahi istri. Di rumah sakit juga dimarahi. Makanya infus
saya cabut... biar semuanya selesai."
Kalimat
itu sederhana, tetapi terasa begitu berat.
Saat
itulah saya sadar, yang sedang saya hadapi bukan sekadar pasien dengan saturasi
oksigen yang menurun. Di hadapan saya ada seseorang yang sedang kehilangan
kendali atas hidupnya. Tubuhnya diserang virus, pikirannya dipenuhi ketakutan,
sementara harga dirinya perlahan runtuh oleh rasa bersalah kepada orang-orang
yang ia cintai.
Saya
mengusap pelan dadanya.
"Sudah,
Pak. Sekarang tugas bapak cuma satu: sembuh."
Tak
ada lagi kata-kata. Hanya tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.
Pandemi
memang memperlihatkan wajah manusia yang paling rapuh. Virus itu menyerang
paru-paru, tetapi juga merambat ke ruang-ruang batin. Banyak orang sesungguhnya
tidak kalah oleh penyakit, melainkan oleh kesepian, rasa takut, dan putus asa.
Sebagai
tenaga kesehatan, kami memang memasang infus, memberikan obat, mengatur
oksigen, dan memantau tanda-tanda vital. Namun sering kali, pekerjaan yang
paling berat justru tidak tercatat dalam rekam medis: mendengarkan, menenangkan,
dan menjaga agar seseorang tetap memiliki alasan untuk bertahan hidup.
Hari
berganti hari. Sebagian pasien pulang dengan langkah pelan. Sebagian lagi harus
kami antar dalam keheningan yang tak sanggup diceritakan.
Setiap
kali giliran dinas berakhir, saya selalu berhenti sejenak di depan pintu ruang
isolasi. Saya mengangkat tangan, melambaikan perpisahan kepada mereka yang
masih berjuang di balik kaca.
Hampir
selalu, mereka membalas lambaian itu.
Tidak
ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua telapak tangan yang saling
melambai, dipisahkan pintu, masker, dan ancaman virus yang tak kasatmata.
Namun
di situlah kami belajar bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk yang paling
sederhana.
Sebuah
lambaian.
Yang
diam-diam berkata, "Bertahanlah. Kita akan melewati ini bersama."





