Rabu, 16 September 2026

Published September 16, 2026 by with 0 comment

Fikih Menunda Kehamilan dalam Bingkai Maqashid Syariah

Oleh: Aditiya Widodo Putra (Pembelajar di Bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global)

Di Indonesia, tren childfree atau pilihan untuk tidak memiliki anak memicu perdebatan yang membara. Hal ini membelah opini antara kewajiban agama dan hak atas tubuh sendiri.

Sebenarnya, Islam adalah agama yang sangat luwes dalam memandang dinamika keluarga. Jauh sebelum istilah kontemporer ini muncul, para ulama besar dalam kitab-kitab muktabar sudah mendiskusikan mekanisme pengaturan kelahiran dengan sangat mendalam dan adil.

Banyak yang salah kaprah bahwa memiliki anak adalah perintah mutlak tanpa pengecualian. Padahal, jika kita merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits, titik beratnya bukan sekadar pada jumlah kepala, melainkan pada kualitas hidup dan keselamatan jiwa para pelakunya.

Menjaga Keturunan: Kuantitas vs Kualitas

Dalam kajian Maqashid Shariah, menjaga keturunan (Hifdzun Nasl) sering disalahartikan hanya sebagai perintah memproduksi anak sebanyak mungkin.

Padahal, esensi dari tujuan ini adalah memastikan keberlanjutan manusia yang berkualitas, bukan menciptakan beban sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْۖفَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9)

Rasulullah memang bangga dengan jumlah umatnya yang banyak, namun Hadits Shahih riwayat Abu Dawud juga mengingatkan kondisi umat Islam yang banyak namun seperti buih di lautan. Artinya, kuantitas tanpa bobot seperti intelektual, ekonomi, mental bukanlah sesuatu yang ideal dalam kacamata Islam global.

Pilihan untuk menunda atau meniadakan kehamilan sering kali lahir dari kesadaran akan ketidakmampuan memberikan hak-hak anak secara sempurna.

Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalam beban yang tidak sanggup dipikul, sesuai prinsip “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya).

Maslahah: Timpangan Antara Hak dan Beban

Dalam hukum Islam global, dikenal kaidah “Ad-dararu yuzal” (kemudharatan haus dihilangkan). Jika kehadiran anak justru memicu depresi berat, keretakan rumah tangga, atau kemiskinan ekstrem, maka mencegah kemudharatan tersebut lebih diutamakan dari pada mengejar keutamaan memiliki anak.

Konsep childfree dalam konteks ini tidak bisa dipukul rata. Jika motivasinya adalah kesombongan terhadap takdir Allah, maka tentu bermasalah. Namun, jika didasari pada analisis risiko terhadap kesehatan mental dan fisik perempuan, maka hukumnya bergeser menjadi mubah bahkan dianjurkan.

Kita harus mengakui fakta medis bahwa kehamilan melibatkan risiko nyawa. Maqashid pertama, Hifdzun Nafs (Menjaga Jiwa), menduduki posisi lebih tinggi dari pada Hifdzun Nasl (Menjaga Keturunan). Jiwa ibu yang sudah ada harus diprioritaskan keselamatannya dibandingkan janin yang belum terbentuk.

Keadilan reproduksi dalam Islam memberikan hak bagi istri untuk setuju atau tidak dalam proses reproduksi. Mengingat beban biologis sepenuhnya ada pada perempuan, suara istri dalam menentukan kapan atau apakah akan hamil adalah pilar penting dalam rumah tangga yang sakinah.

Menepis Stigma, Mengedepankan Logika Syariat

Masyarakat sering menggunakan hadits tentang kesuburan wanita secara tekstual untuk memojokkan pilihan pribadi. Padahal, hadits tersebut harus dipahami dalam konteks masyarakat masa lalu yang membutuhkan kekuatan personil untuk pertahanan hidup, berbeda dengan tantangan dunia modern.

Dunia hari ini menghadapi tantangan sumber daya dan kepadatan populasi. Menjadi orang tua di abad ke-21 menuntut kesiapan finansial dan emosional yang jauh lebih kompleks. Islam, melalui prinsip Maslahah Mursalah, sangat terbuka terhadap perubahan zaman yang mempengaruhi keputusan domestik.

Jika keputusan childfree diambil karena rasa tanggung jawab agar tidak melahirkan anak yang terlantar, maka itu adalah bentuk ketakwaan. Menunda kehamilan untuk menjamin masa depan yang lebih stabil secara ekonomi juga selaras dengan prinsip Hifdzul Mal (Menjaga Harta) agar tidak jatuh dalam kefakiran.

Penting bagi kita untuk tidak menghakimi pilihan pasangan sebagai bentuk pemberontakan terhadap agama. Justru, pemikiran yang matang sebelum menghadirkan nyawa baru ke dunia adalah cerminan dari kedalaman pemahaman terhadap amanah yang diberikan Tuhan.

Oleh karena itu, jika seorang Muslim merasa belum mampu memikul tanggung jawab besar tersebut, syariat menyediakan pintu keluar melalui pengaturan kehamilan.

Mari kita tempatkan diskusi childfree ini pada koridor yang proporsional. Bukan sebagai tren gaya hidup semata, namun sebagai ijtihad manusia modern untuk menciptakan keluarga yang kuat secara kualitas, bukan sekadar ramai secara jumlah.

Disadur dari: https://suaraaisyiyah.id/fikih-menunda-kehamilan-dalam-bingkai-maqashid-syariah/

Read More
      edit
Published September 16, 2026 by with 0 comment

Ortu di Era Deep Learning

Prof Suyanto PhD

KRjogja.com - DI era Pembelajaran Mendalam, orangtua tidak cukup menjadi pengantar anak ke sekolah, kemudian merasa tugas pendidikan telah selesai. Sekolah memiliki mandat, guru memiliki tanggung jawab, dan kepala sekolah memimpin ekosistem pembelajaran. Anak-anak tidak hidup hanya di ruang kelas semata. Ia pulang ke rumah, berinteraksi dengan keluarga, bermain gawai, meniru percakapan orang dewasa, dan menyerap nilai dari kebiasaan hidup dan kehidupan sehari-hari di rumah. Karena itu, rumah adalah ruang pedagogis kedua yang sangat penting bagi anak.

Deep Learning menghendaki anak belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Tiga prinsip itu sulit tumbuh jika pengalaman anak di rumah bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan sekolah. Di sekolah anak diajak jujur, tetapi di rumah ia melihat orang dewasa memaklumi kebohongan kecil. Di kelas anak dilatih menghargai proses, tetapi di rumah ia hanya ditanya nilai, ranking, dan hasil akhir. Guru mendorong refleksi, tetapi orangtua hanya memberi perintah, kritik, dan perbandingan. Dalam situasi seperti itu, anak mengalami disonansi nilai: sekolah menanam, rumah mencabut.

Karena itu, orangtua perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan penonton. Orangtua harus memahami arah pembelajaran sekolah, berkomunikasi dengan guru, dan ikut menciptakan suasana rumah yang mendukung tumbuhnya rasa ingin tahu, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, komunikasi, kesehatan, dan karakter anak. Keterlibatan ini tidak berarti orangtua mengambil alih tugas guru, melainkan menjadi mitra yang memperkuat pesan pendidikan.

Dalam kerangka itu, orangtua dapat berperan sebagai feedback loop bagi sekolah. Mereka melihat perilaku anak setelah pulang sekolah: apakah anak makin berani bertanya, lebih suka membaca, mampu mengatur waktu, lebih santun berkomunikasi, atau justru makin tertekan dan kehilangan minat belajar. Informasi semacam ini berharga bagi sekolah. Umpan balik orangtua membantu guru memahami dampak pembelajaran secara utuh, bukan hanya dari angka rapor. Sekolah bijak menjadikan suara orangtua sebagai data sosial untuk memperbaiki pendampingan anak.

Namun, umpan balik harus diberikan dengan semangat kemitraan, bukan menghakimi. Orangtua tidak perlu datang ke sekolah hanya ketika marah, protes, atau menuntut anaknya selalu dibenarkan. Feedback loop yang sehat dibangun melalui dialog: apa yang terjadi pada anak, apa yang sudah dicoba guru, apa yang dapat dilakukan keluarga, dan dukungan apa yang dibutuhkan bersama. Dengan cara ini, sekolah dan rumah menjadi dua tangan yang menguatkan dalam merajut nilai dan karakter anak.

Yang tidak kalah penting, orangtua harus menjaga konsistensi nilai antara sekolah dan rumah. Jika sekolah menegakkan kedisiplinan, rumah jangan memanjakan kemalasan. Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab digital, rumah jangan membiarkan anak kecanduan gawai. Jika sekolah membangun budaya membaca, rumah perlu menyediakan waktu sunyi untuk membaca, bukan terus-menerus dikuasai televisi, ponsel, dan percakapan gaduh. Konsistensi kecil seperti ini akan membentuk karakter besar.

Orangtua juga perlu berhati-hati agar tidak menjadi predator pedagogis di rumah. Predator pedagogis bukan berarti orangtua jahat, melainkan orang dewasa yang tanpa sadar merusak proses belajar anak: terlalu menekan, membandingkan, mengejek kesalahan, memaksa les berlebihan, atau menjadikan rumah seperti ruang interogasi akademik. Anak yang terus dikejar target dapat kehilangan kegembiraan belajar. Ia belajar bukan karena sadar dan bermakna, tetapi karena takut dimarahi.

Di era Pembelajaran Mendalam, orangtua ideal bukanlah orangtua yang paling banyak memerintah, melainkan yang paling konsisten memberi teladan. Anak perlu melihat bahwa kejujuran dipraktikkan, tanggung jawab dijalankan, dialog dihargai, dan belajar dipandang sebagai jalan tumbuh sepanjang hayat. Jika sekolah dan rumah berjalan seirama, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi menjadi pengalaman hidup anak setiap hari. Semoga begitu.

4 Mei 2026

Read More
      edit

Selasa, 18 Agustus 2026

Published Agustus 18, 2026 by with 0 comment

Indonesia Milik Bersama


Oleh : Prof. DR. KH. Haedar Nashir 

Indonesia merdeka berusia 81 tahun. Berbagai pemerintahan silih berganti dengan dinamika dan bahkan gejolak masing-masing. Namun Indonesia tetap bertahan dan senantiasa menunggu, bangsa dan negeri tercinta ini mau dibawa ke mana oleh para pemegang mandat rakyat.

Pemegang amanat rakyat yang sah seperti eksekutif, legislatif, yudikatif, dan berbagai institusi pemerintahan lainnya tentu mengerti betul Indonesia harus dibawa ke mana. Indonesia wajib dibawa menjadi negara dan bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagai tujuan nasional yang diletakkan oleh pendiri Indonesia dan termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 secara terang benderang.

Adapun kewajiban utama Pemerintah Negara Indonesia adalah untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Diktum-diktum mendasar inilah yang penting untuk dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan oleh penyelenggara negara dan seluruh warga negara.

Di era Orde Lama perwujudan mencapai tujuan nasional dilakukan melalui Pembangunan Semesta Berencana, namun akhirnya gagal sebab perjalanan bangsa saat itu banyak dihadapkan pada berbagai gejolak politik yang tinggi dan berakhir tragis tahun 1965. Pada masa Orde Baru selama tiga dekade menuju perwujudan tujuan nasional dilaksanakan melalui Pembangunan Jangka Pendek dan Jangka Panjang yang sebagian cukup berhasil, meski banyak menyisakan masalah.

Kedua era tersebut terputus karena sistem kekuasaan Presiden yang sangat besar yang melahirkan rezim otoriter yang sarat masalah. Suatu gejolak politik dan masalah kebangsaan yang tidak boleh terjadi karena pemerintahan dikendalikan berdasarkan asas kekuasaan semata. Kemudian lahirlah reformasi membawa sistem demokrasi.

Di era reformasi terjadi demokratisasi yang sangat terbuka sebagai antitesis dari dua era sebelumnya. Namun arah Indonesia seperti kehilangan kepastian berkesinambungan karena ditumpukan pada visi-misi Presiden terpilih, yang sering terputus dari satu periode ke periode berikutnya dalam kepemimpinan yang berbeda. Sementara format kekuasaan secara substantif cenderung kembali pada executive heavy, sebab sepenuhnya mendapat mandat rakyat. Adapun check and balances sebagai topangan utama demokrasi tidak menguat karena koalisi politik di pemerintahan.

Selain itu, agenda strategis yang harus dipastikan ialah bagaimana visi-misi hasil politik elektoral melalui serangkaian program dan kebijakan nasional menjadi proses pembangunan yang berkelanjutan untuk terwujudnya tujuan nasional. Kunci utamanya ialah terwujudnya tujuan nasional melalui berbagai program dan kebijakan-kebijakan pemerintah setiap periode. Karenanya, pastikan keseluruhan program dan kebijakan itu betul-betul penting, strategis, dan mengarah secara benar dan tepat sasaran pada tujuan nasional.

Kesadaran para pemegang mandat dan jabatan dalam pemerintahan mesti bersatu-padu dan sehaluan dalam membawa Indonesia pada tujuannya. Kekuasaan yang dijalankan oleh eksekutif, legislatif, yudikatif, dan institusi pemerintahan lainnya mesti dibangun di atas azas demokrasi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” untuk terwujudnya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagaimana nilai luhur Pancasila.

Di sinilah pentingnya aspirasi, pandangan, dan suara rakyat mengawal setiap pelaksanaan kebijakan dan langkah penting eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta lembaga pemerintahan lainnya agar semakin memastikan sekaligus mengawal jalannya pemerintahan untuk menuju terwujudnya tujuan nasional.

Manakala seluruh institusi pemerintahan sehaluan sekaligus terbuka pada aspirasi publik yang mewakili suara rakyat yang jernih maka Indonesia akan memiliki kekuatan bersama menuju tujuan nasional. Sebaliknya bila terjadi kesenjangan maka akan berat membawa negeri tercinta ini menuju tujuan menjadi bangsa dan negara yang dicita-citakan.

Hal yang penting dibangun saat ini ialah kesadaran kolektif yang menyeluruh di seluruh institusi kenegaraan dan kebangsaan bahwa Indonesia itu milik bersama. Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa mesti berjalan bersamaan dalam membawa Indonesia ke tujuan nasional. Jangan sampai atas nama mandat rakyat setiap pihak berjalan sendiri-sendiri dan merasa mampu sendiri.

Agenda paling penting dan strategis untuk diwujudkan bersama setelah Indonesia merdeka 81 tahun ialah menciptakan kemakmuran untuk seluruh rakyat dalam kerangka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana sering disuarakan dan menjadi kehendak politik Presiden Prabowo Subianto saat ini. Karenanya mereka yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang kuat mesti mau mengkhidmatkan diri sepenuhnya untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran rakyat tersebut.

Dalam rangka merenungkan kembali makna kemerdekaan bagi hajat hidup rakyat, alangkah baiknya dihayati pandangan pendiri Indonesia. Antara lain dikatakan Soekarno dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), bahwa “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara „semua buat semua", “satu buat semua, semua buat satu". Maka, jangan sampai ada kekuatan apa pun yang dominan dan menguasai Indonesia, sehingga negara dan bangsa tercinta ini kehilangan jiwa utamanya yakni Indonesia milik bersama


Read More
      edit

Kamis, 13 Agustus 2026

Published Agustus 13, 2026 by with 0 comment

Haedar Nashir: Saya Jurnalis, karena Itu Saya Ada,

Sosok Haedar Nashir niscaya dikenal sampai penjuru buana. Sebelum didapuk menjadi seorang Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kariernya dimulai dari berkecimpung menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah.

“Jadi memang saya dulu jadi wartawan pertama tahun '84,” ujarnya.

Pergumulan menjadi seorang wartawan, bagi diri Haedar, niscaya sarat pengalaman begitu rupa. “Terus saya jadi redaksi lalu jadi pemred,” sambungnya, Kamis (13/8) saat Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.

Jiwa kewartawanan itu melekat kuat dalam dirinya. Pengalaman dan pengembaraan panjang yang ditempanya kemudian meraih apresisasi berupa penghargaan Wartawan Khusus dari Dewan Pers yang diterima hari ini di Univeritas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

“Jadi wartawan beneran tetapi tidak punya kartu gitu. Tapi ingin banget jadi wartawan punya kartu. Dan ternyata baru 42 tahun kartu itu saya peroleh gitu. Jadi bukan apa semata-mata penghargaan, tetapi memang itu bagian dari jiwa kewartawanan,” tegasnya.

Dalam pada itu, Haedar teringat dengan ungkapan René Descartes; "Aku berpikir, maka aku ada". Ungkapan tersebut jika dikontekstualisasikan dalam dunia jurnalistik, “Saya jurnalis karena itu saya ada.”

“Itu merupakan suatu kekemahtaan dan kebanggaan juga dalam perjalanan yang panjang. Saya memang juga merasa bahwa saya diberi anugerah Allah itu saja sebagai tasyakur binni’mah,” ucapnya.

Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah tersebut berpesan kepada para wartawan muda hari ini agar membuka ruang sensitivitas dalam membaca realitas kontemporer.

“Jangan terjebak pada narasi-narasi yang tidak mencerdaskan masyarakat, tidak mencerdaskan bangsa,” tegasnya.

Pada saat yang sama, mesti memiliki jiwa dan spirit kejurnalisan yang autentik. “Yakni selalu menulis sesuatu yang benar sampai ke titik kebenaran terbaik, kebenaran yang tertinggi,” tandas Haedar. (Cris)

Sumber Bacaan https://suaramuhammadiyah.id/read/42-tahun-bergulat-di-dunia-jurnalistik-haedar-nashir-saya-jurnalis-karena-itu-saya-ada

Read More
      edit

Senin, 27 Juli 2026

Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Lambaian dari Balik Ruang Isolasi

 

Oleh: Nanang S. Diyanto

"Saya capek... jengkel... saya mau pulang."

Kalimat itu meluncur lirih dari balik masker oksigen. Bukan teriakan, bukan pula amarah yang meledak. Hanya suara seorang laki-laki yang seolah telah kehabisan tenaga untuk melawan keadaan.

Saya menoleh. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Infus yang baru beberapa saat terpasang kembali tercabut. Sprei putih berubah merah. Tisu-tisu penuh bercak darah berserakan di lantai ruang isolasi.

Saya menarik napas panjang.

"Kalau bapak capek, saya lebih capek," kata saya, berusaha menahan emosi.

"Kalau bapak jengkel, saya juga lebih jengkel. Ini sudah empat kali sejak kemarin sore bapak mencabut infus."

Pandemi mengajarkan satu hal yang tidak pernah kami pelajari di bangku kuliah. Bahwa kelelahan ternyata bukan hanya milik tenaga kesehatan. Pasien pun bisa kehabisan harapan.

Di ranjang sebelah, istrinya yang sama-sama terpapar Covid-19 ikut bersuara. Dengan logat Jawa yang kental, kemarahan yang lama dipendam akhirnya tumpah.

"Kurang ajar, Mas. Sudah dibilangi jangan keluyuran, tetap saja keluyuran. Orang di rumah yang hati-hati malah ikut ketularan. Wis ben, wong ora iso diatur..."

Barangkali itu bukan sekadar kemarahan seorang istri kepada suaminya. Di dalamnya ada rasa takut, cemas, kecewa, bahkan penyesalan yang selama berhari-hari dipendam dalam ruang isolasi yang sunyi.

Saat itu, ruang perawatan bukan hanya dipenuhi suara monitor dan desis oksigen. Ia juga menjadi tempat bertemunya rasa bersalah, saling menyalahkan, dan ketidakberdayaan.

Saya kembali menyiapkan infus.

"Pak, ini saya pasang untuk terakhir kalinya. Kalau nanti dicabut lagi, saya benar-benar tidak mau memasangnya lagi. Di luar sana masih banyak orang yang menunggu kamar ini. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan dirawat."

Ucapan itu keluar begitu saja. Mungkin terdengar keras. Namun saat gelombang Covid-19 mencapai puncaknya, setiap tempat tidur adalah harapan yang diperebutkan. Di luar rumah sakit, ambulans datang silih berganti. Di dalam, kami menghitung oksigen, obat, tenaga, bahkan waktu.

Laki-laki itu menundukkan kepala.

Beberapa saat kemudian ia berbisik pelan.

"Maaf, Mas... saya salah."

Saya menghentikan pekerjaan sejenak.

"Saya jengkel. Di rumah dimarahi istri. Di rumah sakit juga dimarahi. Makanya infus saya cabut... biar semuanya selesai."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Saat itulah saya sadar, yang sedang saya hadapi bukan sekadar pasien dengan saturasi oksigen yang menurun. Di hadapan saya ada seseorang yang sedang kehilangan kendali atas hidupnya. Tubuhnya diserang virus, pikirannya dipenuhi ketakutan, sementara harga dirinya perlahan runtuh oleh rasa bersalah kepada orang-orang yang ia cintai.

Saya mengusap pelan dadanya.

"Sudah, Pak. Sekarang tugas bapak cuma satu: sembuh."

Tak ada lagi kata-kata. Hanya tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pandemi memang memperlihatkan wajah manusia yang paling rapuh. Virus itu menyerang paru-paru, tetapi juga merambat ke ruang-ruang batin. Banyak orang sesungguhnya tidak kalah oleh penyakit, melainkan oleh kesepian, rasa takut, dan putus asa.

Sebagai tenaga kesehatan, kami memang memasang infus, memberikan obat, mengatur oksigen, dan memantau tanda-tanda vital. Namun sering kali, pekerjaan yang paling berat justru tidak tercatat dalam rekam medis: mendengarkan, menenangkan, dan menjaga agar seseorang tetap memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Hari berganti hari. Sebagian pasien pulang dengan langkah pelan. Sebagian lagi harus kami antar dalam keheningan yang tak sanggup diceritakan.

Setiap kali giliran dinas berakhir, saya selalu berhenti sejenak di depan pintu ruang isolasi. Saya mengangkat tangan, melambaikan perpisahan kepada mereka yang masih berjuang di balik kaca.

Hampir selalu, mereka membalas lambaian itu.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua telapak tangan yang saling melambai, dipisahkan pintu, masker, dan ancaman virus yang tak kasatmata.

Namun di situlah kami belajar bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Sebuah lambaian.

Yang diam-diam berkata, "Bertahanlah. Kita akan melewati ini bersama."

 Ponorogo, 27 Juli 2021

Read More
      edit
Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Kebaikan Semu

 

sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723182345-92-1384270/4400-pekerja-jawa-timur-terancam-kena-phk

oleh : Jamil Azzaini 
Sabtu lalu saya pergi hendak “mewisuda” para calon pengusaha muda di “pesantren” wirausaha yang saya pimpin di Klaten Jawa Tengah. Pesantren wirausaha ini mendidik para calon wirausaha selama enam bulan. Setiap angkatan hanya menerima 20 calon wirausaha putra, lulusan SLTA, berusia antara 18-22 tahun. Mereka diseleksi dari seluruh Indonesia. Pendidikan yang dilakukan selain melalui transfer knowledge, pemberian skill khusus, juga mendorong perubahan attitude positif, produktif dan kontributif.
Ketika di pesawat menuju ke tempat wisuda, saya duduk bersebelahan dengan mas Bambang (29) yang baru saja terkena PHK. Dalam kesempatan itu mas Bambang bercerita, “Atasan saya sentimen dengan saya, pak. Dia katakan saya tidak bisa memenuhi standar kerja dia. Padahal target yang diberikan kepada saya selalu tercapai. Di sisi lain banyak yang kualitas kerjanya jauh di bawah saya tapi tidak di PHK. Saya nggak habis pikir, dia satu almamater dengan saya bahkan boleh dikata selama ini hubungan kami sangat baik.”
Setelah mas Bambang selesai mengungkapkan semua uneg-unegnya, saya ajukan pertanyaan sederhana kepada beliau. ‘Sejujurnya mas Bambang menyukai pekerjaan di perusahaan itu tidak?’ Dengan sedikit menarik napas, mas Bambang menjawab. ‘Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai pekerjaan itu. Saya terpaksa, dari pada ngganggur. Saya juga perlu status sosial di depan calon mertua saya.’
Tanpa menunggu mas Bambang selesai berkomentar saya langsung berkata, ”Pilihan bos anda adalah tepat. Mem-PHK anda justru menyelamatkan hidup anda dalam jangka panjang. Dia tidak ingin anda bekerja bukan pada jalur sejati anda. Dia tidak ingin memberi kebaikan semu kepada anda.”
“Kebaikan semu?” sergah mas Bambang.
‘Ya, bila bos anda membiarkan anda bekerja dengan keterpaksaan dan tetap menjadikan anda sebagai karyawan karena pertimbangan almamater dan hubungan baik, maka sesungguhnya bos anda memberi kebaikan semu kepada anda. Anda seharusnya bersyukur karena di-PHK sekarang. Bagaimana kalau anda di PHK di usia senja? Anda akan sangat sulit mencari pekerjaan di tempat lain. Sementara saat ini, usia anda masih sangat muda dan masih memiliki kesempatan luas untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.’
Kebaikan semu muncul ketika sikap dan perilaku positif yang kita tunjukkan bertentangan dengan nurani kita. Kita membiarkan staf kita yang tidak memiliki kemampuan ketika bekerja, itu adalah kebaikan semu. Kita memberi pujian dan penghargaan kepada orang lain yang tidak tepat, itu juga kebaikan semu. Kita mendukung orang untuk menjadi pimpinan padahal kita yakin bahwa dia tidak mampu, sesungguhnya kebaikan kita adalah kebaikan semu. Dalam jangka panjang, kebaikan semu akan menyesatkan orang yang menerimanya.
Kebaikan semu dari para negara donor, telah menjadikan negara berkembang terlilit hutang berkepanjangan. Kebaikan semu dari para mitra kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), telah menjadikan para petinggi KPU meringkuk di dalam jeruji besi.
Nah, berapa orang yang telah menjadi korban kebaikan semu dari anda selama ini?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Read More
      edit

Minggu, 12 Juli 2026

Published Juli 12, 2026 by with 0 comment

Spiritualitas Embun

 

oleh: Yudi Latif, Ph. D

Saudaraku, jadilah seperti embun.

Embun adalah hawa yang mendingin hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.

Demikian pula manusia. Saat panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia, melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.

Di situlah embun lahir. Ia tidak memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.

Embun tidak tinggal lama. Saat mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan bentuk yang sempat dipinjamnya.

Begitu pula kesadaran. Ketika cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang menghidupi.

Demikianlah embun menghilang: bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

Read More
      edit