Oleh: Muhammad Budi Setiawan
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Itulah kata Presiden Indonesia Ir. Soekarno yang bisa dijadikan pecutan untuk para pemuda di Indonesia saat ini. Dari kalimat itu, dapat kita artikan bahwa peran pemuda sangatlah besar bahkan mampu untuk mengubah dunia. Pemuda memiliki idealisme, semangat, dan kekuatan fisik yang masih tinggi. Ucapan Bung Karno tersebut bukan cuma omong kosong belaka. Banyak perubahan di dunia yang terjadi berasal dari tangan anak muda.
Pada masa
pra hijrah Nabi Muhammad SAW dan umat Islam ke Madinah, Islam di Kota Makkah
tidak menunjukkan perkembangan yang positif. Banyak pertentangan, penindasan, dan
tekanan yang begitu besar dari tokoh Quraisy waktu itu. Di tengah keterpurukan
umat Islam di Makkah, hadirlah 6 orang anak muda dari Yastrib yang menemuni
Nabi Muhammad SAW dan menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah SAW. Enam
pemuda itu juga menceritakan kondisi permasalahan di Yastrib. Yastrib dihuni
oleh dua suku arab yaitu Khazraj dan Aus. Kedua suku arab tersebut hidup
bersama orang-orang Yahudi. Suku Khazraj dan Aus terlibat pertikaian karena adu
domba dari orang-orang Yahudi. Hal tersebut yang mengakibatkan kondisi Yastrib
tidak kondusif. Keenam anak muda Yastrib tadi datang ke Makkah dan berharap
agar Nabi Muhammad SAW dapat mendamaikan kedua suku arab tersebut. Selain itu,
mereka juga berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk
Islam.
Pertemuan
Nabi Muhammad SAW dengan enam pemuda Yastrib yang sederhana itu sebetulnya
merupakan awal mula dari kebesaran Islam. Dari situ awal terbukanya ajaran
Islam berkembang. Ajaran Islam yang kemudian terus berkembang dan terus
menyebar hingga penjuru dunia. Siapakah keenam pemuda itu? Kita kesulitan untuk
mencari siapa saja nama-nama dari keenam pemuda itu. Meski mereka kurang
dikenal, namun berkat dari keenam pemuda itu Islam yang kala itu sulit
berkembang di Makkah malah justru sangat diterima baik oleh masyarakat Yastrib
yang kemudian kita kenal sebagai Kota Madinah.
Hal itu
juga yang terjadi pada sosok muda, Muhammad Darwis. Saat usia 15 tahun, hatinya
telah peka dan terusik dengan berbagai permasalahan sosial dan pengamalan
ajaran Islam yang tidak sesuai di tengah masyarakat. Itulah yang membuat
Muhammad Darwis kemudian memilih hijrah dan memperdalam ilmu agama Islam ke
Mekkah dan kembali ke tanah air di usia 20 tahun. Dengan nama baru, K.H. Ahmad
Dahlan berupaya memperbaiki praktik ibadah di masyarakat yang kala itu lebih
mengarah ke takhayul, bid’ah, dan khurofat. Muhammadiyah berdiri ketika K.H.
Ahmad Dahlan berusia 44 tahun. Namun, pikiran dan perjuangannya mulai dibangun
ketika beliau masih berusia 15 tahun. Lalu, apa yang kita pikirkan di usia 15
tahun?
Selain itu,
ada pula seorang anak muda yang masih berumur 21 tahun namun telah berhasil
meruntuhkan sebuah peradaban besar. Ialah Sultan Kekhalifahan Turki Ustmaniyah
Muhammad II atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih. Muhammad
Al-Fatih di usia yang masih muda telah berhasil meruntuhkan pusat Kerajaan
Byzantium yakni Kota Konstantinopel.
Merebut
Kota Konstantinopel bukan sekedar menaklukkan sebuah wilayah, namun juga
membuktikan janji Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kota
Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah
sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah
sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335).
Mau jadi
apa kita besok adalah hasil dari yang telah kita rencanakan dan lakukan hari
ini. Gagal merencanakan masa depan adalah merencanakan kegagalan. Ibnu Qayyim
rahimahullah mengatakan bahwa kenikmatan tidak bisa diraih dengan kenikmatan.
Jika seseorang mau bersenang-senang sejak di awal hidupnya, bagaimana bisa
mendapatkan kenikmatan di akhir hidupnya. Sesungguhnya kelezatan dan kenikmatan
didapat dengan seberapa besar dia berlatih sabar untuk menanggung semua
kesulitan di awal hidupnya. Tidak ada kebesaran kecuali untuk orang yang punya
tekat yang tinggi. Tidak ada kelezatan kecuali untuk orang yang bersabar, tiada
istirahat kecuali untuk orang yang lelah.
Kisah-kisah tersebut bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk terus berbuat dan berjuang di masa mudanya. Apa yang kita lakukan di masa muda adalah modal kita di masa tua. Apa yang kita raih di masa tua adalah imbas atau efek dari apa yang telah kita lakukan sejak kita masih muda. Jangan sia-siakan masa muda kita untuk sebuah kesenangan sesaat. Lebih baik kita optimalkan masa muda kita melakukan hal yang bermanfaat demi masa depan.






