Senin, 27 Juli 2026

Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Lambaian dari Balik Ruang Isolasi

 

Oleh: Nanang S. Diyanto

"Saya capek... jengkel... saya mau pulang."

Kalimat itu meluncur lirih dari balik masker oksigen. Bukan teriakan, bukan pula amarah yang meledak. Hanya suara seorang laki-laki yang seolah telah kehabisan tenaga untuk melawan keadaan.

Saya menoleh. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Infus yang baru beberapa saat terpasang kembali tercabut. Sprei putih berubah merah. Tisu-tisu penuh bercak darah berserakan di lantai ruang isolasi.

Saya menarik napas panjang.

"Kalau bapak capek, saya lebih capek," kata saya, berusaha menahan emosi.

"Kalau bapak jengkel, saya juga lebih jengkel. Ini sudah empat kali sejak kemarin sore bapak mencabut infus."

Pandemi mengajarkan satu hal yang tidak pernah kami pelajari di bangku kuliah. Bahwa kelelahan ternyata bukan hanya milik tenaga kesehatan. Pasien pun bisa kehabisan harapan.

Di ranjang sebelah, istrinya yang sama-sama terpapar Covid-19 ikut bersuara. Dengan logat Jawa yang kental, kemarahan yang lama dipendam akhirnya tumpah.

"Kurang ajar, Mas. Sudah dibilangi jangan keluyuran, tetap saja keluyuran. Orang di rumah yang hati-hati malah ikut ketularan. Wis ben, wong ora iso diatur..."

Barangkali itu bukan sekadar kemarahan seorang istri kepada suaminya. Di dalamnya ada rasa takut, cemas, kecewa, bahkan penyesalan yang selama berhari-hari dipendam dalam ruang isolasi yang sunyi.

Saat itu, ruang perawatan bukan hanya dipenuhi suara monitor dan desis oksigen. Ia juga menjadi tempat bertemunya rasa bersalah, saling menyalahkan, dan ketidakberdayaan.

Saya kembali menyiapkan infus.

"Pak, ini saya pasang untuk terakhir kalinya. Kalau nanti dicabut lagi, saya benar-benar tidak mau memasangnya lagi. Di luar sana masih banyak orang yang menunggu kamar ini. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan dirawat."

Ucapan itu keluar begitu saja. Mungkin terdengar keras. Namun saat gelombang Covid-19 mencapai puncaknya, setiap tempat tidur adalah harapan yang diperebutkan. Di luar rumah sakit, ambulans datang silih berganti. Di dalam, kami menghitung oksigen, obat, tenaga, bahkan waktu.

Laki-laki itu menundukkan kepala.

Beberapa saat kemudian ia berbisik pelan.

"Maaf, Mas... saya salah."

Saya menghentikan pekerjaan sejenak.

"Saya jengkel. Di rumah dimarahi istri. Di rumah sakit juga dimarahi. Makanya infus saya cabut... biar semuanya selesai."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Saat itulah saya sadar, yang sedang saya hadapi bukan sekadar pasien dengan saturasi oksigen yang menurun. Di hadapan saya ada seseorang yang sedang kehilangan kendali atas hidupnya. Tubuhnya diserang virus, pikirannya dipenuhi ketakutan, sementara harga dirinya perlahan runtuh oleh rasa bersalah kepada orang-orang yang ia cintai.

Saya mengusap pelan dadanya.

"Sudah, Pak. Sekarang tugas bapak cuma satu: sembuh."

Tak ada lagi kata-kata. Hanya tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pandemi memang memperlihatkan wajah manusia yang paling rapuh. Virus itu menyerang paru-paru, tetapi juga merambat ke ruang-ruang batin. Banyak orang sesungguhnya tidak kalah oleh penyakit, melainkan oleh kesepian, rasa takut, dan putus asa.

Sebagai tenaga kesehatan, kami memang memasang infus, memberikan obat, mengatur oksigen, dan memantau tanda-tanda vital. Namun sering kali, pekerjaan yang paling berat justru tidak tercatat dalam rekam medis: mendengarkan, menenangkan, dan menjaga agar seseorang tetap memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Hari berganti hari. Sebagian pasien pulang dengan langkah pelan. Sebagian lagi harus kami antar dalam keheningan yang tak sanggup diceritakan.

Setiap kali giliran dinas berakhir, saya selalu berhenti sejenak di depan pintu ruang isolasi. Saya mengangkat tangan, melambaikan perpisahan kepada mereka yang masih berjuang di balik kaca.

Hampir selalu, mereka membalas lambaian itu.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua telapak tangan yang saling melambai, dipisahkan pintu, masker, dan ancaman virus yang tak kasatmata.

Namun di situlah kami belajar bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Sebuah lambaian.

Yang diam-diam berkata, "Bertahanlah. Kita akan melewati ini bersama."

 Ponorogo, 27 Juli 2021

Read More
      edit
Published Juli 27, 2026 by with 0 comment

Kebaikan Semu

 

sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723182345-92-1384270/4400-pekerja-jawa-timur-terancam-kena-phk

oleh : Jamil Azzaini 
Sabtu lalu saya pergi hendak “mewisuda” para calon pengusaha muda di “pesantren” wirausaha yang saya pimpin di Klaten Jawa Tengah. Pesantren wirausaha ini mendidik para calon wirausaha selama enam bulan. Setiap angkatan hanya menerima 20 calon wirausaha putra, lulusan SLTA, berusia antara 18-22 tahun. Mereka diseleksi dari seluruh Indonesia. Pendidikan yang dilakukan selain melalui transfer knowledge, pemberian skill khusus, juga mendorong perubahan attitude positif, produktif dan kontributif.
Ketika di pesawat menuju ke tempat wisuda, saya duduk bersebelahan dengan mas Bambang (29) yang baru saja terkena PHK. Dalam kesempatan itu mas Bambang bercerita, “Atasan saya sentimen dengan saya, pak. Dia katakan saya tidak bisa memenuhi standar kerja dia. Padahal target yang diberikan kepada saya selalu tercapai. Di sisi lain banyak yang kualitas kerjanya jauh di bawah saya tapi tidak di PHK. Saya nggak habis pikir, dia satu almamater dengan saya bahkan boleh dikata selama ini hubungan kami sangat baik.”
Setelah mas Bambang selesai mengungkapkan semua uneg-unegnya, saya ajukan pertanyaan sederhana kepada beliau. ‘Sejujurnya mas Bambang menyukai pekerjaan di perusahaan itu tidak?’ Dengan sedikit menarik napas, mas Bambang menjawab. ‘Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai pekerjaan itu. Saya terpaksa, dari pada ngganggur. Saya juga perlu status sosial di depan calon mertua saya.’
Tanpa menunggu mas Bambang selesai berkomentar saya langsung berkata, ”Pilihan bos anda adalah tepat. Mem-PHK anda justru menyelamatkan hidup anda dalam jangka panjang. Dia tidak ingin anda bekerja bukan pada jalur sejati anda. Dia tidak ingin memberi kebaikan semu kepada anda.”
“Kebaikan semu?” sergah mas Bambang.
‘Ya, bila bos anda membiarkan anda bekerja dengan keterpaksaan dan tetap menjadikan anda sebagai karyawan karena pertimbangan almamater dan hubungan baik, maka sesungguhnya bos anda memberi kebaikan semu kepada anda. Anda seharusnya bersyukur karena di-PHK sekarang. Bagaimana kalau anda di PHK di usia senja? Anda akan sangat sulit mencari pekerjaan di tempat lain. Sementara saat ini, usia anda masih sangat muda dan masih memiliki kesempatan luas untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.’
Kebaikan semu muncul ketika sikap dan perilaku positif yang kita tunjukkan bertentangan dengan nurani kita. Kita membiarkan staf kita yang tidak memiliki kemampuan ketika bekerja, itu adalah kebaikan semu. Kita memberi pujian dan penghargaan kepada orang lain yang tidak tepat, itu juga kebaikan semu. Kita mendukung orang untuk menjadi pimpinan padahal kita yakin bahwa dia tidak mampu, sesungguhnya kebaikan kita adalah kebaikan semu. Dalam jangka panjang, kebaikan semu akan menyesatkan orang yang menerimanya.
Kebaikan semu dari para negara donor, telah menjadikan negara berkembang terlilit hutang berkepanjangan. Kebaikan semu dari para mitra kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), telah menjadikan para petinggi KPU meringkuk di dalam jeruji besi.
Nah, berapa orang yang telah menjadi korban kebaikan semu dari anda selama ini?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Read More
      edit

Minggu, 12 Juli 2026

Published Juli 12, 2026 by with 0 comment

Spiritualitas Embun

 

oleh: Yudi Latif, Ph. D

Saudaraku, jadilah seperti embun.

Embun adalah hawa yang mendingin hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.

Demikian pula manusia. Saat panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia, melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.

Di situlah embun lahir. Ia tidak memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.

Embun tidak tinggal lama. Saat mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan bentuk yang sempat dipinjamnya.

Begitu pula kesadaran. Ketika cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang menghidupi.

Demikianlah embun menghilang: bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

Read More
      edit

Sabtu, 06 Juni 2026

Published Juni 06, 2026 by with 0 comment

Fatwa Pengalihan Dam Haji Dikaji Empat Tahun, Ini Penjelasan Muhammadiyah

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asep Sholahudin, menjelaskan bahwa fatwa tentang kebolehan pengalihan dam haji ke tanah air lahir melalui proses kajian panjang selama sekitar empat tahun.

Penjelasan itu disampaikan Asep dalam acara yang diselenggarakan TVMu pada Selasa (12/5). Ia mengatakan, sejak 2022 Majelis Tarjih menerima banyak pertanyaan dari warga Muhammadiyah, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, hingga Kementerian Agama terkait hukum pengalihan dam ke Indonesia.

“Perjalanan fatwa ini memakan waktu sekitar empat tahun. Banyak pertanyaan yang masuk kepada Majelis Tarjih mengenai bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang pengalihan dam ke tanah air,” ujar Asep.

Dalam penjelasannya, Asep menerangkan bahwa dam dalam fikih Islam merupakan penyembelihan hewan seperti kambing, sapi, atau unta yang diwajibkan kepada jemaah haji karena sebab tertentu. Ia menyebut dam terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya dam ihsar, dam fidyah, dam jaza, serta dam yang berkaitan dengan pelaksanaan haji tamattu’ dan qiran.

Menurutnya, hukum asal penyembelihan dam memang dilakukan di tanah haram. Namun, Majelis Tarjih mempertimbangkan sejumlah kondisi kontemporer yang dinilai membuka ruang pengalihan dam ke tanah air.

Pertimbangan pertama berkaitan dengan persoalan lingkungan akibat tingginya jumlah penyembelihan hewan dam setiap musim haji. Banyaknya limbah darah dan kotoran hewan dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

“Kondisi ini menjadi pertimbangan kemungkinan adanya pergeseran dari hukum asal yang harusnya dilakukan di tanah haram menjadi bisa dialihkan ke tanah air,” katanya.

Selain itu, Muhammadiyah juga mempertimbangkan aspek kemanfaatan daging dam. Asep menilai, dalam beberapa kasus, daging hasil penyembelihan tidak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, dalam Al-Qur’an dam disebut memiliki fungsi untuk menopang kehidupan manusia dan membantu kebutuhan pangan masyarakat.

Pertimbangan lain adalah masih banyaknya masyarakat miskin di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang membutuhkan bantuan pangan dan protein hewani. Menurut Asep, kebutuhan masyarakat miskin di tanah haram relatif lebih terpenuhi dibandingkan sebagian masyarakat di negara lain.

“Nah, karena sebagian kebutuhan di tanah haram sudah terpenuhi, maka bisa dialihkan ke tempat lain. Artinya jemaah dari Indonesia bisa menyembelih hewan dam itu di tanah airnya,” jelasnya.

Asep menegaskan bahwa dari sisi hukum, Majelis Tarjih telah menyelesaikan kajian mengenai kebolehan pengalihan dam. Tantangan berikutnya berada pada aspek teknis pelaksanaan dan distribusi agar berjalan tepat sasaran.

Ia juga menyinggung peran Lazismu dalam pengelolaan dam agar proses pengumpulan hingga distribusi dapat dilakukan secara amanah dan profesional.

“Ini menjadi tantangan bagi Lazismu, bagaimana bisa mengumpulkan dan mendistribusikan secara baik sehingga apa yang dilakukan jemaah haji warga Muhammadiyah dapat terselesaikan dengan baik,” tandasnya.

Sumber berita: https://tarjih.mediamu.com/fatwa-pengalihan-dam-haji-dikaji-empat-tahun-ini-penjelasan-muhammadiyah
Read More
      edit
Published Juni 06, 2026 by with 0 comment

Surat Calon Penyair untuk Calon Kekasihnya

Kekasih, adalah bulan benderang yang mengajarku tentang kasih sayang. Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti mencintai rembulan, karena itu berarti aku tak bisa memelukmu dan memberi ciuman.
Adalah kecantikan tubuhmu yang aku rindu, sedangkan cantik ruhmu telah aku gauli setiap waktu. Tetapi melankolia para pecinta menganggap itu dosa. Bagiku tubuh itu yang layak kupeluk cinta, meski tak kekal dan niscaya menua.
Kekasih, kuingin mengusir rembulan karena ia telah menghuni kamar yang seharusnya milikmu. Sedangkan aku takut tidur sendirian. Meski dengan ruhmu aku selalu bercakap, bercengkrama, tanpa tubuhmu hanya seperti hantu rasanya.
Semalam aku bermimpi, melihat tubuhmu mengeras besi, menjelma sepahat patung yang dingin. Begitu angkuh, begitu jauh. Aku takut mimpi itu menjadi nyata, karena patung tak bisa naik kereta menuju kota pertemuan kita. Kalaupun bisa, tentu tak enak dipeluknya.
Kekasih, mungkin kau akan menjadi semakin ragu pada diriku, pada dirimu sendiri. Maka aku akan menyarankan untukmu mendengarkan detak jantungmu sendiri, dan aku akan bersiap-siap terbakar matahari begitu fajar pecah nanti. Kita sama tahu, cinta adalah nama lain dari keraguan. Tetapi, Sayang, bukankah keraguan pula yang melahirkan puisi-puisi kita? Aku telah begitu akrab dengan ruhmu yang ragu, bukankah ruh kita telah lama saling mencumbu?
Tubuhmu adalah jawaban setiap keraguanmu, keraguanku. Dialah prosa yang selama ini belum pernah berhasil aku tuliskan. Kerinduanku padamu adalah kerinduanku pada tubuhmu, karena sekali pernah kuacak rambutmu dan sejak itu kutukan telah melekat di rajah telapak tangan kananku. Meski sering aku berdamai dengan dunia, dengan jarak tempuh kereta atau sejauh dering pulsa. Artinya, telah sekian lama aku coba mengingkari tubuhmu yang seluruhnya tersenyum.
Suratku ini menakutkan, katamu? Apatah yang engkau takutkan, Sayang, kecuali hantu waktu dan bayang-bayang? Keraguanmu adalah keraguanku. Engkau bersembunyi di balik baju kerjamu, mencoba menipu waktu, sedangkan aku bersembunyi di balik rambut panjangku: tanda penantianku pada tubuhmu. Aku tahu, kurasakan pula detak kecemasan itu. Ketakutan akan polusi dalam aura yang telah sekian lama menghiasi sajak-sajak kita. Tetapi tak perlu kita ingkari jantung sendiri, karena bila ia jadi malfungsi, biaya operasi mahal sekali.
Kekasih, ini adalah suratku yang terakhir untukmu.
Mimpiku menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk. Tubuhmu benar menjelma patung besi yang bisu, bahkan ruhmu pun tak mau lagi bercakap denganku. Meski masih terlihat segaris senyuman dari bibirmu yang masih saja indah meski telah mengeras-mendingin.
Angin telah mengabarkanku tentang dirimu yang berubah dan ruhmu tak lagi datang menyapa. Maka aku telah menarik pelajaran darinya. Adalah aura kita yang ingin kaupelihara, bukan cinta, karena kita memiliki definisi berbeda atasnya. Sementara aku, calon penyair yang pemurung ini, kini asyik memandangi potret wajahmu yang tersisa (karena tubuhmu telah tak mungkin lagi kurindu) sambil membayangkan kisah asmara dalam prosa yang enak dibaca, bukan puisi yang seringkali nirlogika. Aku mulai melirik, mencari-cari lagi di mana kusimpan kotak harmonika.
Kekasih, akan kusimpan kutukanmu di telapak tangan kananku, dan semoga harmonikaku akan semakin panas olehnya sehingga akan segera kutemukan nada (meski patah-patah) bersamanya. Lalu engkau akan tetap membatu menunggu sepotong hati yang hangat (bukan hatiku yang merindu tubuhmu) untuk melelehkanmu kembali menjadi adonan yang cair. Mungkin pula engkau akan menunggu bayang-bayang itu dengan setia, begitu kaupercayai sebagai belahan jiwa.
Diriku yang jahat, akan mendoakan agar mentari cepat meninggi, agar bayang-bayang itu menderita. Diriku yang lain akan menyerah kepada embun dini hari. Biasa, mengadukan luka.
Luka biasanya akan memberiku puisi, tetapi aku sedang puasa, Sayang. Puisi membuatku syahwat akan dirimu. Karena itu aku berpuasa. Puasa puisi. Tetapi engkau tak perlu peduli, karena ini tak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu yang menjelma batu; kenyataan yang selalu memedihkan sudut mataku setiap kali kuteringat itu.
Aku akn masuk kembali ke bilikku yang sumpek dengan berbagai macam bau (sayangnya tak ada bau keringatmu). Aku akan bunuh diri, terjun ke dalam kedalaman palung paling gelap. Mungkin di sanalah aku ditetapkan berada. Di negeri bayang-bayang. Negeri hantu. Mungkin di situ akan kutemukan ruhmu yang (tak lagi) ragu. Meski takkan kujumpai lagi tubuhmu (yang sudah mematung itu, ingat?), hanya ruhmu. Hanya ruhmu.
Ya, kekasih, aku akan menunggu ruhmu di situ. Mungkin takkan pernah bertemu. Mungkin akan kutemu ruh-ruh yang lain, bayang-bayang yang lain, hantu-hantu yang lain. Tetapi satu hal sudah kupastikan. Akan kunyalakan terus kotak komputerku. Siapa tahu akan kuterima emailmu. Siapa tahu?

Yogyakarta, Ramadhan 1423 H/19 November 2002 M


Read More
      edit
Published Juni 06, 2026 by with 0 comment

Tanah Tak Hanya Sekadar Aset Ekonomi, Tapi Juga Ruang Hidup

Oleh: Wangi Putri Ali

Konflik agraria di Indonesia tentu bukan cerita baru. Ini adalah masalah lama yang masih terus berulang hingga hari ini, mencerminkan bahwa sistem kita masih mengalami ketimpangan yang nyaris mengakar. Persoalan tanah tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat, tetapi dapat kita temukan hampir di seluruh penjuru Indonesia.

Ironisnya, konflik ini bukan muncul karena masyarakat ingin menguasai tanah milik orang lain. Justru sebaliknya, mereka berusaha mempertahankan tanah milik mereka sendiri—yang telah mereka rawat dan jaga secara turun-temurun. Contohnya bisa kita lihat di Kendeng dan Papua. Lahan-lahan produktif yang biasa digunakan masyarakat sebagai sumber kehidupan dan pelestarian alam justru diincar pemerintah untuk kepentingan tambang atau perkebunan.

Penolakan yang dilakukan masyarakat lokal sering kali dibalas dengan tekanan, intimidasi, bahkan penangkapan. Yang lebih menyakitkan, suara masyarakat kerap tidak terdengar. Media lebih banyak mengulas soal kemajuan investasi daripada memberitakan kondisi masyarakat yang terkena dampak negatifnya. Aparatur negara yang seharusnya menjadi pelindung justru lebih sigap mengamankan mesin-mesin berat daripada membela warga yang ingin bercocok tanam di tanahnya sendiri. Sangat menyedihkan, mereka yang memperjuangkan haknya justru dituduh menghambat pembangunan dan dianggap melawan negara.

Di tengah konflik agraria yang erat kaitannya dengan persoalan ekonomi pertanahan ini, kita patut mengapresiasi langkah MPM PP Muhammadiyah yang turun langsung mendampingi dan mengadvokasi warga. Pendampingan ini bukan hanya soal advokasi hukum, tetapi tentang keberpihakan pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tapi juga harus hadir di tengah masyarakat, memberi kekuatan bagi mereka yang lemah.

Yang patut kita tanyakan sekarang: sampai kapan negara akan membiarkan konflik agraria ini terus berulang? Mengapa ormas seperti Muhammadiyah justru bisa hadir dan berdiri bersama rakyat, sedangkan kehadiran negara justru sering kali tidak terlihat?

Isu konflik agraria sangat berkaitan dengan cara kita memandang tanah. Di Indonesia, tanah lebih sering dianggap sebagai aset ekonomi yang bisa diuangkan, bukan sebagai ruang hidup. Jika tanah hanya dipandang sebagai komoditas, maka nilai sosial, budaya, dan ekologisnya akan terpinggirkan. Dan inilah yang menjadi akar dari banyak konflik agraria.

Akar masalah yang belum terselesaikan ini membawa dampak berkepanjangan: investor mudah masuk, izin konsesi mudah keluar, sementara masyarakat diminta berkompromi—padahal sejak awal mereka sudah berada dalam posisi yang lemah dan tidak mampu melawan.

Tanah seharusnya kita lihat bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup yang menyatu dengan identitas, spiritualitas, dan kesejahteraan masyarakat. Tanah yang telah dikelola secara turun-temurun seharusnya menjadi hak mereka. Tugas negara semestinya menjadi pelindung rakyat, bukan justru memihak korporasi.

Muhammadiyah telah menunjukkan contoh nyata: mengelola tanah wakaf untuk pendidikan, layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ini membuktikan bahwa tanah bisa memberi manfaat besar bagi masyarakat tanpa harus dikomersialkan secara semena-mena—dan bisa menjadi model keadilan agraria yang manusiawi.

Konflik agraria sejatinya bukan sekadar soal siapa yang punya sertifikat, tetapi tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak dilindungi. Selama logika pertanahan lebih berpihak pada pasar dan modal besar, ketimpangan akan terus terjadi. Tanah bukan hanya soal batas fisik atau legalitas, tapi soal hak atas keadilan sosial yang harus kita perjuangkan bersama.

*Penulis adalah Mahasiswi Ekonomi Pembangunan, Universitas Ahmad Dahlan

sumber tulisan: https://opini.mediamu.com/tanah-tak-hanya-sekadar-aset-ekonomi-tapi-juga-ruang-hidup

Read More
      edit

Rabu, 27 Mei 2026

Published Mei 27, 2026 by with 0 comment

Meneladani Nabi Ibrahim

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Setelah seharian kemarin kita disunahkan untuk berpuasa sehari bertepatan dengan hari arofah, hari ini saatnya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Puasa arofah bukan saja melaksanakan sunah Rasulullah saw, bukan pula bersimpati kepada rekan kita yang pada hari ini berkesempatan melaksanakan ibadah Haji, puasa arofah adalah simbol ketaatan kita mengikuti perintah para nabi.

Nabi Ibrahim as. Adalah pilihan Allah. Ada empat sebutan yang ditujukan beliau. Abul Anbiya’ artinya Bapak para nabi, karena garis keturunan beliau, semua menjadi nabi. Dari putranya, Nabi Ishaq as, lahir keturunan Bani Israil seperti Nabi Yaqub, Yusuf, Musa, Dawud, Sulaiman, hingga Isa as. Dari Nabi Ismail as, lahir nabi sekaligus rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Beliau juga dijuluki Khalilullah yang artinya “kekasih Allah”. Gelar ini diberikan karena cinta, ketaatan, dan ketundukan Nabi Ibrahim yang luar biasa mutlak hanya kepada Allah SWT. Hanifan Muslimin yang berarti “Seorang yang lurus lagi berserah diri” sebutan lainnya.

Perayaan hari raya Qurban tak lepas dari peran Nabi Ibrahim as. Bahkan, sebelum diangkat menjadi nabipun, Ibrahim kecil telah diberi tugas oleh Allah untuk berhadapan dengan Raja Namrud. Ibrahim adalah putra dari Azar seorang pemahat patung kesukaan Raja Namrud. Setelah Ibrahim lahir, dan ternyata seorang laki-laki, maka Azar membuang Ibrahim yang masih bayi ke sungai. Hal ini dilakukan agar tidak terkena aturan Raja, yang mengatakan bahwa, siapapun bayi yang lahir laki-laki, maka harus dibunuh.

Ketegaran Nabi Ibrahim as dalam menghadapi cobaan yang melahirkan ritual-ritual keagamaan hingga kini. Setelah menggu begitu lama, hingga tua, tak kunjung juga diberi momongan. Setelah mendapatkan momongan dan tumbuh sebagai anak kecil, dimana orang tua baru senang-senangnya bermain, Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Betapa terpukulnya perasaanya. Namun, karena ini adalah perintah yang harus dilakukan. Ismail sendiripun yang juga digadang menjadi nabi, pasrah mendengar titah ayahnya.

Nabi Ibrahim as mendapat gelar Ulul 'Azmi (rasul yang memiliki ketabahan dan tekad yang luar biasa). Kehidupan beliau adalah samudra keteladanan yang tidak pernah kering untuk digali. Nabi Ibrahim tidak menerima begitu saja tradisi menyembah berhala yang dilakukan oleh ayah dan kaumnya. Beliau menggunakan akal sehat dan mengobservasi alam semesta (bintang, bulan, dan matahari) untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.

Nabi Ibrahim berani berdakwah menentang arus, bahkan berhadapan langsung dengan penguasa zalim. Namun, saat mendebat ayahnya, beliau tetap menggunakan tutur kata yang sangat lembut dan penuh hormat, memanggil dengan sebutan "Wahai ayahku.

Nabi Ibrahim tidak egois. Setiap kali berdoa, beliau hampir tidak pernah melupakan keturunannya. Beliau memohon agar anak cucunya menjadi orang yang mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah berhala, dan dijadikan sebagai umat yang berserah diri.


Read More
      edit