|
Kekasih, adalah bulan benderang yang mengajarku tentang
kasih sayang. Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti mencintai rembulan,
karena itu berarti aku tak bisa memelukmu dan memberi ciuman.
Adalah kecantikan tubuhmu yang aku rindu, sedangkan cantik ruhmu telah aku
gauli setiap waktu. Tetapi melankolia para pecinta menganggap itu dosa.
Bagiku tubuh itu yang layak kupeluk cinta, meski tak kekal dan niscaya menua.
Kekasih, kuingin mengusir rembulan karena ia telah menghuni kamar yang
seharusnya milikmu. Sedangkan aku takut tidur sendirian. Meski dengan ruhmu
aku selalu bercakap, bercengkrama, tanpa tubuhmu hanya seperti hantu rasanya.
Semalam aku bermimpi, melihat tubuhmu mengeras besi, menjelma sepahat patung
yang dingin. Begitu angkuh, begitu jauh. Aku takut mimpi itu menjadi nyata,
karena patung tak bisa naik kereta menuju kota pertemuan kita. Kalaupun bisa,
tentu tak enak dipeluknya.
Kekasih, mungkin kau akan menjadi semakin ragu pada diriku, pada dirimu
sendiri. Maka aku akan menyarankan untukmu mendengarkan detak jantungmu
sendiri, dan aku akan bersiap-siap terbakar matahari begitu fajar pecah
nanti. Kita sama tahu, cinta adalah nama lain dari keraguan. Tetapi, Sayang,
bukankah keraguan pula yang melahirkan puisi-puisi kita? Aku telah begitu
akrab dengan ruhmu yang ragu, bukankah ruh kita telah lama saling mencumbu?
Tubuhmu adalah jawaban setiap keraguanmu, keraguanku. Dialah prosa yang
selama ini belum pernah berhasil aku tuliskan. Kerinduanku padamu adalah
kerinduanku pada tubuhmu, karena sekali pernah kuacak rambutmu dan sejak itu
kutukan telah melekat di rajah telapak tangan kananku. Meski sering aku
berdamai dengan dunia, dengan jarak tempuh kereta atau sejauh dering pulsa.
Artinya, telah sekian lama aku coba mengingkari tubuhmu yang seluruhnya
tersenyum.
Suratku ini menakutkan, katamu? Apatah yang engkau takutkan, Sayang, kecuali
hantu waktu dan bayang-bayang? Keraguanmu adalah keraguanku. Engkau
bersembunyi di balik baju kerjamu, mencoba menipu waktu, sedangkan aku
bersembunyi di balik rambut panjangku: tanda penantianku pada tubuhmu. Aku
tahu, kurasakan pula detak kecemasan itu. Ketakutan akan polusi dalam aura yang
telah sekian lama menghiasi sajak-sajak kita. Tetapi tak perlu kita ingkari
jantung sendiri, karena bila ia jadi malfungsi, biaya operasi mahal sekali.
Kekasih, ini adalah suratku yang terakhir untukmu.
Mimpiku menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk. Tubuhmu benar menjelma patung
besi yang bisu, bahkan ruhmu pun tak mau lagi bercakap denganku. Meski masih
terlihat segaris senyuman dari bibirmu yang masih saja indah meski telah
mengeras-mendingin.
Angin telah mengabarkanku tentang dirimu yang berubah dan ruhmu tak lagi
datang menyapa. Maka aku telah menarik pelajaran darinya. Adalah aura kita
yang ingin kaupelihara, bukan cinta, karena kita memiliki definisi berbeda
atasnya. Sementara aku, calon penyair yang pemurung ini, kini asyik
memandangi potret wajahmu yang tersisa (karena tubuhmu telah tak mungkin lagi
kurindu) sambil membayangkan kisah asmara dalam prosa yang enak dibaca, bukan
puisi yang seringkali nirlogika. Aku mulai melirik, mencari-cari lagi di mana
kusimpan kotak harmonika.
Kekasih, akan kusimpan kutukanmu di telapak tangan kananku, dan semoga
harmonikaku akan semakin panas olehnya sehingga akan segera kutemukan nada
(meski patah-patah) bersamanya. Lalu engkau akan tetap membatu menunggu
sepotong hati yang hangat (bukan hatiku yang merindu tubuhmu) untuk
melelehkanmu kembali menjadi adonan yang cair. Mungkin pula engkau akan
menunggu bayang-bayang itu dengan setia, begitu kaupercayai sebagai belahan
jiwa.
Diriku yang jahat, akan mendoakan agar mentari cepat meninggi, agar
bayang-bayang itu menderita. Diriku yang lain akan menyerah kepada embun dini
hari. Biasa, mengadukan luka.
Luka biasanya akan memberiku puisi, tetapi aku sedang puasa, Sayang. Puisi
membuatku syahwat akan dirimu. Karena itu aku berpuasa. Puasa puisi. Tetapi
engkau tak perlu peduli, karena ini tak ada hubungannya sama sekali dengan
dirimu yang menjelma batu; kenyataan yang selalu memedihkan sudut mataku
setiap kali kuteringat itu.
Aku akn masuk kembali ke bilikku yang sumpek dengan berbagai macam bau
(sayangnya tak ada bau keringatmu). Aku akan bunuh diri, terjun ke dalam
kedalaman palung paling gelap. Mungkin di sanalah aku ditetapkan berada. Di
negeri bayang-bayang. Negeri hantu. Mungkin di situ akan kutemukan ruhmu yang
(tak lagi) ragu. Meski takkan kujumpai lagi tubuhmu (yang sudah mematung itu,
ingat?), hanya ruhmu. Hanya ruhmu.
Ya, kekasih, aku akan menunggu ruhmu di situ. Mungkin takkan pernah bertemu.
Mungkin akan kutemu ruh-ruh yang lain, bayang-bayang yang lain, hantu-hantu
yang lain. Tetapi satu hal sudah kupastikan. Akan kunyalakan terus kotak
komputerku. Siapa tahu akan kuterima emailmu. Siapa tahu?
Yogyakarta, Ramadhan 1423 H/19 November 2002 M
|
0 komentar:
Posting Komentar