Rabu, 16 September 2026

Published September 16, 2026 by with 0 comment

Ortu di Era Deep Learning

Prof Suyanto PhD

KRjogja.com - DI era Pembelajaran Mendalam, orangtua tidak cukup menjadi pengantar anak ke sekolah, kemudian merasa tugas pendidikan telah selesai. Sekolah memiliki mandat, guru memiliki tanggung jawab, dan kepala sekolah memimpin ekosistem pembelajaran. Anak-anak tidak hidup hanya di ruang kelas semata. Ia pulang ke rumah, berinteraksi dengan keluarga, bermain gawai, meniru percakapan orang dewasa, dan menyerap nilai dari kebiasaan hidup dan kehidupan sehari-hari di rumah. Karena itu, rumah adalah ruang pedagogis kedua yang sangat penting bagi anak.

Deep Learning menghendaki anak belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Tiga prinsip itu sulit tumbuh jika pengalaman anak di rumah bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan sekolah. Di sekolah anak diajak jujur, tetapi di rumah ia melihat orang dewasa memaklumi kebohongan kecil. Di kelas anak dilatih menghargai proses, tetapi di rumah ia hanya ditanya nilai, ranking, dan hasil akhir. Guru mendorong refleksi, tetapi orangtua hanya memberi perintah, kritik, dan perbandingan. Dalam situasi seperti itu, anak mengalami disonansi nilai: sekolah menanam, rumah mencabut.

Karena itu, orangtua perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan penonton. Orangtua harus memahami arah pembelajaran sekolah, berkomunikasi dengan guru, dan ikut menciptakan suasana rumah yang mendukung tumbuhnya rasa ingin tahu, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, komunikasi, kesehatan, dan karakter anak. Keterlibatan ini tidak berarti orangtua mengambil alih tugas guru, melainkan menjadi mitra yang memperkuat pesan pendidikan.

Dalam kerangka itu, orangtua dapat berperan sebagai feedback loop bagi sekolah. Mereka melihat perilaku anak setelah pulang sekolah: apakah anak makin berani bertanya, lebih suka membaca, mampu mengatur waktu, lebih santun berkomunikasi, atau justru makin tertekan dan kehilangan minat belajar. Informasi semacam ini berharga bagi sekolah. Umpan balik orangtua membantu guru memahami dampak pembelajaran secara utuh, bukan hanya dari angka rapor. Sekolah bijak menjadikan suara orangtua sebagai data sosial untuk memperbaiki pendampingan anak.

Namun, umpan balik harus diberikan dengan semangat kemitraan, bukan menghakimi. Orangtua tidak perlu datang ke sekolah hanya ketika marah, protes, atau menuntut anaknya selalu dibenarkan. Feedback loop yang sehat dibangun melalui dialog: apa yang terjadi pada anak, apa yang sudah dicoba guru, apa yang dapat dilakukan keluarga, dan dukungan apa yang dibutuhkan bersama. Dengan cara ini, sekolah dan rumah menjadi dua tangan yang menguatkan dalam merajut nilai dan karakter anak.

Yang tidak kalah penting, orangtua harus menjaga konsistensi nilai antara sekolah dan rumah. Jika sekolah menegakkan kedisiplinan, rumah jangan memanjakan kemalasan. Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab digital, rumah jangan membiarkan anak kecanduan gawai. Jika sekolah membangun budaya membaca, rumah perlu menyediakan waktu sunyi untuk membaca, bukan terus-menerus dikuasai televisi, ponsel, dan percakapan gaduh. Konsistensi kecil seperti ini akan membentuk karakter besar.

Orangtua juga perlu berhati-hati agar tidak menjadi predator pedagogis di rumah. Predator pedagogis bukan berarti orangtua jahat, melainkan orang dewasa yang tanpa sadar merusak proses belajar anak: terlalu menekan, membandingkan, mengejek kesalahan, memaksa les berlebihan, atau menjadikan rumah seperti ruang interogasi akademik. Anak yang terus dikejar target dapat kehilangan kegembiraan belajar. Ia belajar bukan karena sadar dan bermakna, tetapi karena takut dimarahi.

Di era Pembelajaran Mendalam, orangtua ideal bukanlah orangtua yang paling banyak memerintah, melainkan yang paling konsisten memberi teladan. Anak perlu melihat bahwa kejujuran dipraktikkan, tanggung jawab dijalankan, dialog dihargai, dan belajar dipandang sebagai jalan tumbuh sepanjang hayat. Jika sekolah dan rumah berjalan seirama, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi menjadi pengalaman hidup anak setiap hari. Semoga begitu.

4 Mei 2026

      edit

0 komentar:

Posting Komentar