Prof
Suyanto PhD
KRjogja.com
- DI era Pembelajaran Mendalam, orangtua tidak cukup menjadi pengantar anak ke
sekolah, kemudian merasa tugas pendidikan telah selesai. Sekolah memiliki
mandat, guru memiliki tanggung jawab, dan kepala sekolah memimpin ekosistem
pembelajaran. Anak-anak tidak hidup hanya di ruang kelas semata. Ia pulang ke
rumah, berinteraksi dengan keluarga, bermain gawai, meniru percakapan orang
dewasa, dan menyerap nilai dari kebiasaan hidup dan kehidupan sehari-hari di
rumah. Karena itu, rumah adalah ruang pedagogis kedua yang sangat penting bagi
anak.
Deep
Learning menghendaki anak belajar secara berkesadaran, bermakna, dan
menggembirakan. Tiga prinsip itu sulit tumbuh jika pengalaman anak di rumah
bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan sekolah. Di sekolah anak diajak
jujur, tetapi di rumah ia melihat orang dewasa memaklumi kebohongan kecil. Di
kelas anak dilatih menghargai proses, tetapi di rumah ia hanya ditanya nilai,
ranking, dan hasil akhir. Guru mendorong refleksi, tetapi orangtua hanya
memberi perintah, kritik, dan perbandingan. Dalam situasi seperti itu, anak
mengalami disonansi nilai: sekolah menanam, rumah mencabut.
Karena itu,
orangtua perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan penonton.
Orangtua harus memahami arah pembelajaran sekolah, berkomunikasi dengan guru,
dan ikut menciptakan suasana rumah yang mendukung tumbuhnya rasa ingin tahu,
disiplin, tanggung jawab, kemandirian, komunikasi, kesehatan, dan karakter
anak. Keterlibatan ini tidak berarti orangtua mengambil alih tugas guru,
melainkan menjadi mitra yang memperkuat pesan pendidikan.
Dalam
kerangka itu, orangtua dapat berperan sebagai feedback loop bagi sekolah.
Mereka melihat perilaku anak setelah pulang sekolah: apakah anak makin berani
bertanya, lebih suka membaca, mampu mengatur waktu, lebih santun berkomunikasi,
atau justru makin tertekan dan kehilangan minat belajar. Informasi semacam ini
berharga bagi sekolah. Umpan balik orangtua membantu guru memahami dampak
pembelajaran secara utuh, bukan hanya dari angka rapor. Sekolah bijak
menjadikan suara orangtua sebagai data sosial untuk memperbaiki pendampingan
anak.
Namun,
umpan balik harus diberikan dengan semangat kemitraan, bukan menghakimi.
Orangtua tidak perlu datang ke sekolah hanya ketika marah, protes, atau
menuntut anaknya selalu dibenarkan. Feedback loop yang sehat dibangun melalui
dialog: apa yang terjadi pada anak, apa yang sudah dicoba guru, apa yang dapat
dilakukan keluarga, dan dukungan apa yang dibutuhkan bersama. Dengan cara ini,
sekolah dan rumah menjadi dua tangan yang menguatkan dalam merajut nilai dan
karakter anak.
Yang tidak
kalah penting, orangtua harus menjaga konsistensi nilai antara sekolah dan
rumah. Jika sekolah menegakkan kedisiplinan, rumah jangan memanjakan kemalasan.
Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab digital, rumah jangan membiarkan anak
kecanduan gawai. Jika sekolah membangun budaya membaca, rumah perlu menyediakan
waktu sunyi untuk membaca, bukan terus-menerus dikuasai televisi, ponsel, dan
percakapan gaduh. Konsistensi kecil seperti ini akan membentuk karakter besar.
Orangtua
juga perlu berhati-hati agar tidak menjadi predator pedagogis di rumah.
Predator pedagogis bukan berarti orangtua jahat, melainkan orang dewasa yang
tanpa sadar merusak proses belajar anak: terlalu menekan, membandingkan,
mengejek kesalahan, memaksa les berlebihan, atau menjadikan rumah seperti ruang
interogasi akademik. Anak yang terus dikejar target dapat kehilangan
kegembiraan belajar. Ia belajar bukan karena sadar dan bermakna, tetapi karena
takut dimarahi.
Di era
Pembelajaran Mendalam, orangtua ideal bukanlah orangtua yang paling banyak
memerintah, melainkan yang paling konsisten memberi teladan. Anak perlu melihat
bahwa kejujuran dipraktikkan, tanggung jawab dijalankan, dialog dihargai, dan
belajar dipandang sebagai jalan tumbuh sepanjang hayat. Jika sekolah dan rumah
berjalan seirama, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti sebagai kebijakan,
tetapi menjadi pengalaman hidup anak setiap hari. Semoga begitu.
4 Mei 2026

0 komentar:
Posting Komentar