Oleh: Hajriyanto Y. Thohari*
Banyak orang mengira Iran adalah negara Arab,
anggota Liga Arab, dan bagian dari dunia Arab. Padahal sama sekali tidak. Iran
memang termasuk ke dalam kategori negara-negara Timur Tengah (Middle Eastern)
bersama 22 negara Arab, ditambah dengan Turki, Afghanistan, dan last but not
least tentu Israel.
Namun Iran, lengkapnya Republik Islam Iran
(RII), secara antropologis (etnis, bahasa, dan kebudayaan) bukanlah Arab. Dan
orang Iran juga paling tidak suka jika diidentikkan sebagai Arab. Memang bahasa
Persia, nama bahasa nasional Iran, ditulis dengan huruf-huruf seperti huruf
Hijaiah (huruf Arab), tetapi orang Iran mengatakan itu bukan huruf Arab
Hijaiah.
Bangsa Iran, dulu lebih dikenal sebagai bangsa
Persia, merasa memiliki kebudayaan dan peradaban sendiri yang jauh lebih tua
dan besar daripada peradaban Arab dan Islam. Kekaisaran Persia adalah satu di
antara dua kekaisaran besar dunia yang selalu bersaing dan berperang satu sama
lain, yaitu kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persia.
Dua kekaisaran ini menang dan kalah silih
berganti berputar berkepanjangan dan berputar tak berkesudahan. Dua kekaisaran
ini sebelum Islam memang adikuasa (super power) dunia pada zamannya itu: begitu
besar, penting, dan strategisnya sampai diabadikan dalam Al-Quran Surah Rum.
Islamisasi dan Arabisasi
Seperti diketahui dua kekaisaran raksasa di
atas pada saatnya nanti dikalahkan dan ditaklukkan oleh Islam. Beberapa
provinsi Romawi (baik Romawi Barat maupun Timur) seperti provinsi-provinsi Syam
dan Aleksandria (Afrika Utara), ditaklukkan pada masa Fathu Syam melalui
proyek, meminjam istilah Al-Baladzuri, Futuhul Buldan, yang mencapai puncak
keberhasilannya yang paling gemilang pada masa Khalifah Umar bin Khattab
(734-644).
Negeri Syam bukan hanya ditaklukkan oleh
Kekhalifahan Rasyidah yang notabene adalah Arab dan Islam secara politik,
melainkan juga berhasil diarabkan. Orang-orang Syam atau bangsa Syam bukan
hanya berhasil secara agama diislamkan melainkan juga secara etnis dan
kebudayaan diarabkan (Arabized).
Bangsa Syam yang semula adalah bukan bangsa
Arab dan berbicara tidak dengan bahasa Arab mengalami proses Arabisasi yang
sangat intensif dan ekstensif sehingga secara berangsur- angsur menjadi Arab
dan berbicara dalam bahasa Arab.
Singkatnya, bangsa Syam mengalami proses
Arabisasi sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi Arab dan terarabkan. Dalam
konteks inilah mereka disebut sebagai Arab Musta’ribah (Arabized Arab):
orang yang sebenarnya non-Arab, tetapi berubah menjadi Arab.
Itulah orang-orang Arab Syam dulu itu. Dan
itulah orang-orang Palestina, Yordania, Lebanon, dan Suriah sekarang ini.
Mereka semula non-Islam yang berhasil diislamkan dan non-Arab yang berhasil
diarabkan.
Demikian juga dengan kekaisaran Persia.
Penaklukan Persia juga dilakukan oleh pasukan Muslim (baca: Arab Islam) yang
dimulai pada sekitar tahun 733 sampai 754. Kekaisaran Persia yang juga lebih dikenal
dengan Kekaisaran Sassaniyah atau Sassanid jatuh ke tangan kekhalifahan
Rasyidah juga pada masa Umar bin Khattab.
Sebagaimana Syam yang berhasil ditaklukkan,
demikian juga dengan Persia. Hanya saja bedanya: Syam berhasil ditaklukkan,
diislamkan, dan diarabkan, Persia tidak demikian. Persia berhasil ditaklukkan
dan diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan.
Bangsa Persia atau bangsa Iran menerima
kekuasan Islam dan menerima
agama Islam dengan tulus, tetapi secara kebudayaan dan bahasa menolak
diarabkan.
Pasalnya, bangsa Persia merasa sudah memiliki
kebudayaan dan bahasa sendiri, yaitu kebudayaan dan bahasa Persia. Nasionalisme
Persia menolak Arabisasi, tetapi menerima islamisasi. Walhasil, bangsa Persia
berhasil diislamkan, tetapi gagal diarabkan. Bangsa Persia akhirnya menjadi
bangsa Muslim, tetapi tidak mau menjadi Arab, seperti orang Syam dan
Aleksandria.
Sumbangan Persia
Dalam konteks dan perspektif ini ada banyak
bangsa di dunia ini yang berhasil diislamkan, tetapi tidak bisa diarabkan. Di
antara bangsa-bangsa yang berhasil diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan
adalah bangsa Persia, bangsa Turki, dan, jangan kaget, bangsa Indonesia!
Bangsa-bangsa ini menerima Islam dan beragama
Islam, tetapi tidak berbicara dengan bahasa Arab dan karena itu “selamat” tidak
menjadi Arab. Bangsa-bangsa yang sekarang ini disebut bangsa Arab (kecuali
orang Arab yang asli Arab yang berasal dari Jazirah Arab atau Arab Peninsula,
khususnya Hejaz) adalah bangsa-bangsa yang pada aslinya dahulu bukan bangsa
Arab. Bangsa-bangsa yang sebenarnya bukan Arab itu menjadi Arab karena mereka
berbicara dengan bahasa Arab.
Walhasil, bahasa Arab adalah ujung tombak
arabisasi sehingga akhirnya mereka menjadi Arab. Pasalnya, seperti kata Albert
Hourani dalam bukunya The History of the Arab People (1990) memang
demikianlah definisi dari apa yang disebut dengan bangsa Arab itu: bangsa Arab
bukan hanya bangsa yang berdarah Arab, melainkan juga bangsa yang berbicara
dengan bahasa Arab atau berbahasa ibu (mother tongue) bahasa Arab.
Sampai di sini sangat jelas bahwa negara Iran
bukanlah negara Arab, dan bangsa Iran bukanlah bangsa Arab. Namun, bangsa
Iran adalah bangsa Persia yang notabene mayoritas absolut beragama Islam. Dan
keislaman bangsa Iran adalah luar biasa kuat, berani, dan militan.
Lebih daripada itu bangsa Iran atau bangsa
Persia yang sekali lagi notabene Muslim sejak abad ke-8 atau bahkan abad ke-7
ini menyumbang banyak sekali sarjana dan ulama kelas satu.
Tidak banyak yang tahu bahwa Imam Ghozali
(filsuf dan sufi terkenal), Ibnu Sina (dokter), Fakhruddin Ar-Razi, Abu Faraj
Al-Isfahani (seniman dan budayawan), Sibawayh (ahli bahasa), Al-Farabi
(filsuf), Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi), Imam Bukhari, Imam Muslim,
Al-Biruni, Abu Dawood, Al-Tirmidhi, Hakim Nishapuri, Sheikh Tusi, dan sederet
nama lagi, adalah ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan asli Persia atau Iran
sekarang.
Tidak banyak yang tahu bahwa pada masa
kekhalifahan Abbasiyah (750- 1258) yang berpusat di Baghdad yang merupakan
puncak zaman keemasan Islam, yang menjadi tulang punggungnya kekhalifahan
tersebut adalah orang-orang Muslim keturunan Persia.
Banyak sekali menteri, perdana menteri,
sarjana, ilmuwan, ulama, yang adalah orang Persia, kelahiran Persia dan
mengidentifikasikan dirinya sebagai Muslim dalam pengertian seutuhnya. Jasa
Persia atau Iran sangatlah besar dalam sejarah Islam.
Walhasil, jika kini Iran tampil sebagai
pembela nasib bangsa Palestina yang sangat gigih, berani dan militan, maka itu
tidak mengejutkan. Hanya orang-orang yang kurang menghayati sejarah saja yang
mengalami kekagetan menyaksikan fenomena ini. Pembelaan dan perjuangan bangsa
Persia terhadap Islam memang memiliki presedennya sendiri yang sangat kuat. Wallahu
a’lam.
*Penulis adalah mantan Duta Besar RI di Beirut
Sumber: https://suaraaisyiyah.id/persia-dulu-iran-sekarang