Rabu, 14 Oktober 2026

Published Oktober 14, 2026 by with 0 comment

Berani Beda

oleh : Dr. Khoiruddin Bashori

Dengan melakukan hal yang unik atau berbeda, seseorang dapat memperoleh kepuasan psikologis yang lebih besar, karena merasa lebih bernilai atau spesial dibandingkan orang lain. Kreativitas dan inovasi muncul ketika seseorang melakukan sesuatu yang menantang dan berbeda dari kebiasaan umum.

Dengan melakukan hal yang tidak biasa, seseorang dapat mencapai keadaan "flow", yaitu kondisi di mana ia sepenuhnya terlibat dan menikmati aktivitas tersebut. Melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri yang kreatif, yang pada akhirnya dapat menghasilkan hasil yang lebih unik dan bernilai.

Skinner menjelaskan, perilaku yang diikuti oleh konsekuensi positif cenderung diulang. Jika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dan mendapatkan hasil yang lebih baik, ia akan cenderung mengulangi perilaku tersebut. Dengan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, seseorang mungkin menemukan cara baru yang lebih efektif untuk mencapai tujuan.

Untuk mencapai hasil yang lebih baik, seseorang perlu melampaui apa yang dilakukan orang lain dengan menciptakan inovasi atau strategi baru. Dengan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, seseorang dapat menciptakan model baru yang dapat diikuti oleh orang lain, sehingga ia menjadi pionir atau pemimpin dalam bidangnya.

Dengan demikian, melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain dapat dilihat sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih tinggi, mengekspresikan kreativitas, mencapai aktualisasi diri, dan menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Read More
      edit
Published Oktober 14, 2026 by with 0 comment

Persia Dulu, Iran Sekarang

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari*

Banyak orang mengira Iran adalah negara Arab, anggota Liga Arab, dan bagian dari dunia Arab. Padahal sama sekali tidak. Iran memang termasuk ke dalam kategori negara-negara Timur Tengah (Middle Eastern) bersama 22 negara Arab, ditambah dengan Turki, Afghanistan, dan last but not least tentu Israel.

Namun Iran, lengkapnya Republik Islam Iran (RII), secara antropologis (etnis, bahasa, dan kebudayaan) bukanlah Arab. Dan orang Iran juga paling tidak suka jika diidentikkan sebagai Arab. Memang bahasa Persia, nama bahasa nasional Iran, ditulis dengan huruf-huruf seperti huruf Hijaiah (huruf Arab), tetapi orang Iran mengatakan itu bukan huruf Arab Hijaiah.

Bangsa Iran, dulu lebih dikenal sebagai bangsa Persia, merasa memiliki kebudayaan dan peradaban sendiri yang jauh lebih tua dan besar daripada peradaban Arab dan Islam. Kekaisaran Persia adalah satu di antara dua kekaisaran besar dunia yang selalu bersaing dan berperang satu sama lain, yaitu kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persia.

Dua kekaisaran ini menang dan kalah silih berganti berputar berkepanjangan dan berputar tak berkesudahan. Dua kekaisaran ini sebelum Islam memang adikuasa (super power) dunia pada zamannya itu: begitu besar, penting, dan strategisnya sampai diabadikan dalam Al-Quran Surah Rum.

Islamisasi dan Arabisasi

Seperti diketahui dua kekaisaran raksasa di atas pada saatnya nanti dikalahkan dan ditaklukkan oleh Islam. Beberapa provinsi Romawi (baik Romawi Barat maupun Timur) seperti provinsi-provinsi Syam dan Aleksandria (Afrika Utara), ditaklukkan pada masa Fathu Syam melalui proyek, meminjam istilah Al-Baladzuri, Futuhul Buldan, yang mencapai puncak keberhasilannya yang paling gemilang pada masa Khalifah Umar bin Khattab (734-644).

Negeri Syam bukan hanya ditaklukkan oleh Kekhalifahan Rasyidah yang notabene adalah Arab dan Islam secara politik, melainkan juga berhasil diarabkan. Orang-orang Syam atau bangsa Syam bukan hanya berhasil secara agama diislamkan melainkan juga secara etnis dan kebudayaan diarabkan (Arabized).

Bangsa Syam yang semula adalah bukan bangsa Arab dan berbicara tidak dengan bahasa Arab mengalami proses Arabisasi yang sangat intensif dan ekstensif sehingga secara berangsur- angsur menjadi Arab dan berbicara dalam bahasa Arab.

Singkatnya, bangsa Syam mengalami proses Arabisasi sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi Arab dan terarabkan. Dalam konteks inilah mereka disebut sebagai Arab Musta’ribah (Arabized Arab): orang yang sebenarnya non-Arab, tetapi berubah menjadi Arab.

Itulah orang-orang Arab Syam dulu itu. Dan itulah orang-orang Palestina, Yordania, Lebanon, dan Suriah sekarang ini. Mereka semula non-Islam yang berhasil diislamkan dan non-Arab yang berhasil diarabkan.

Demikian juga dengan kekaisaran Persia. Penaklukan Persia juga dilakukan oleh pasukan Muslim (baca: Arab Islam) yang dimulai pada sekitar tahun 733 sampai 754. Kekaisaran Persia yang juga lebih dikenal dengan Kekaisaran Sassaniyah atau Sassanid jatuh ke tangan kekhalifahan Rasyidah juga pada masa Umar bin Khattab.

Sebagaimana Syam yang berhasil ditaklukkan, demikian juga dengan Persia. Hanya saja bedanya: Syam berhasil ditaklukkan, diislamkan, dan diarabkan, Persia tidak demikian. Persia berhasil ditaklukkan dan diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan.

Bangsa Persia atau bangsa Iran menerima kekuasan Islam dan menerima
agama Islam dengan tulus, tetapi secara kebudayaan dan bahasa menolak diarabkan.

Pasalnya, bangsa Persia merasa sudah memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri, yaitu kebudayaan dan bahasa Persia. Nasionalisme Persia menolak Arabisasi, tetapi menerima islamisasi. Walhasil, bangsa Persia berhasil diislamkan, tetapi gagal diarabkan. Bangsa Persia akhirnya menjadi bangsa Muslim, tetapi tidak mau menjadi Arab, seperti orang Syam dan Aleksandria.

Sumbangan Persia

Dalam konteks dan perspektif ini ada banyak bangsa di dunia ini yang berhasil diislamkan, tetapi tidak bisa diarabkan. Di antara bangsa-bangsa yang berhasil diislamkan, tetapi tidak berhasil diarabkan adalah bangsa Persia, bangsa Turki, dan, jangan kaget, bangsa Indonesia!

Bangsa-bangsa ini menerima Islam dan beragama Islam, tetapi tidak berbicara dengan bahasa Arab dan karena itu “selamat” tidak menjadi Arab. Bangsa-bangsa yang sekarang ini disebut bangsa Arab (kecuali orang Arab yang asli Arab yang berasal dari Jazirah Arab atau Arab Peninsula, khususnya Hejaz) adalah bangsa-bangsa yang pada aslinya dahulu bukan bangsa Arab. Bangsa-bangsa yang sebenarnya bukan Arab itu menjadi Arab karena mereka berbicara dengan bahasa Arab.

Walhasil, bahasa Arab adalah ujung tombak arabisasi sehingga akhirnya mereka menjadi Arab. Pasalnya, seperti kata Albert Hourani dalam bukunya The History of the Arab People (1990) memang demikianlah definisi dari apa yang disebut dengan bangsa Arab itu: bangsa Arab bukan hanya bangsa yang berdarah Arab, melainkan juga bangsa yang berbicara dengan bahasa Arab atau berbahasa ibu (mother tongue) bahasa Arab.

Sampai di sini sangat jelas bahwa negara Iran bukanlah negara  Arab, dan bangsa Iran bukanlah bangsa Arab. Namun, bangsa Iran adalah bangsa Persia yang notabene mayoritas absolut beragama Islam. Dan keislaman bangsa Iran adalah luar biasa kuat, berani, dan militan.

Lebih daripada itu bangsa Iran atau bangsa Persia yang sekali lagi notabene Muslim sejak abad ke-8 atau bahkan abad ke-7 ini menyumbang banyak sekali sarjana dan ulama kelas satu.

Tidak banyak yang tahu bahwa Imam Ghozali (filsuf dan sufi terkenal), Ibnu Sina (dokter), Fakhruddin Ar-Razi, Abu Faraj Al-Isfahani (seniman dan budayawan), Sibawayh (ahli bahasa), Al-Farabi (filsuf), Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi), Imam Bukhari, Imam Muslim, Al-Biruni, Abu Dawood, Al-Tirmidhi, Hakim Nishapuri, Sheikh Tusi, dan sederet nama lagi, adalah ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan asli Persia atau Iran sekarang.

Tidak banyak yang tahu bahwa pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750- 1258) yang berpusat di Baghdad yang merupakan puncak zaman keemasan Islam, yang menjadi tulang punggungnya kekhalifahan tersebut adalah orang-orang Muslim keturunan Persia.

Banyak sekali menteri, perdana menteri, sarjana, ilmuwan, ulama, yang adalah orang Persia, kelahiran Persia dan mengidentifikasikan dirinya sebagai Muslim dalam pengertian seutuhnya. Jasa Persia atau Iran sangatlah besar dalam sejarah Islam.

Walhasil, jika kini Iran tampil sebagai pembela nasib bangsa Palestina yang sangat gigih, berani dan militan, maka itu tidak mengejutkan. Hanya orang-orang yang kurang menghayati sejarah saja yang mengalami kekagetan menyaksikan fenomena ini. Pembelaan dan perjuangan bangsa Persia terhadap Islam memang memiliki presedennya sendiri yang sangat kuat. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah mantan Duta Besar RI di Beirut

Sumber: https://suaraaisyiyah.id/persia-dulu-iran-sekarang

 


Read More
      edit