Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual
yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup,
resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun, di balik semua itu,
ada perasaan yang sulit disangkal kelelahan. Bukan lelah biasa, melainkan letih
yang menumpuk, pelan tetapi dalam.
Negeri ini tampak terus bergerak, tetapi
rakyatnya berjalan dengan napas yang semakin pendek. Kelelahan itu tidak selalu
tampak di permukaan. Ia tidak selalu meledak dalam amarah atau protes besar. Ia
lebih sering hadir dalam bentuk diam, apatis, dan pasrah. Orang-orang tetap
bekerja, tetap beraktivitas, tetapi dengan daya tahan yang semakin menipis.
Sepanjang tahun, ruang publik dipenuhi oleh
kabar yang berat. Bencana datang silih berganti, harga kebutuhan pokok naik
turun tanpa kepastian, konflik politik tak kunjung reda, dan kasus-kasus
ketidakadilan terus bermunculan. Setiap hari, masyarakat disuguhi realitas yang
menuntut energi emosional besar hanya untuk dipahami, apalagi disikapi.
Berita buruk yang datang bertubi-tubi ini
menciptakan kelelahan kolektif. Banyak orang akhirnya memilih menjauh dari
berita, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak lagi sanggup menanggung
beban psikologisnya. Dalam kondisi seperti ini, harapan mudah terkikis, dan
rasa percaya perlahan menurun.
Ekonomi yang Bergerak, Hidup yang Terseok
Di atas kertas, ekonomi terus tumbuh. Angka-angka
statistik menunjukkan perbaikan, grafik bergerak naik, dan optimisme terus
disuarakan. Namun, di tingkat rumah tangga, cerita sering kali berbeda. Biaya
hidup terasa semakin berat, sementara pendapatan berjalan di tempat.
Bagi banyak keluarga, bertahan hidup menjadi
prioritas utama. Menabung adalah kemewahan, merencanakan masa depan terasa
jauh. Kelelahan ekonomi ini tidak selalu dramatis, tetapi nyata. Ia hadir dalam
keputusan-keputusan kecil: menunda pengobatan, mengurangi gizi, atau menerima pekerjaan
tambahan yang menguras tenaga.
Tahun politik selalu membawa hiruk-pikuk.
Janji dilontarkan, slogan dikumandangkan, dan perdebatan memenuhi ruang publik.
Namun, di balik keramaian itu, banyak warga merasa tidak benar-benar didengar.
Politik terasa dekat di layar, tetapi jauh dalam kehidupan nyata.
Kelelahan politik muncul ketika partisipasi
tidak berbanding lurus dengan perubahan. Ketika suara disalurkan, tetapi
kebijakan tetap berjarak dari kebutuhan rakyat. Dalam situasi seperti ini,
sinisme tumbuh subur. Demokrasi tetap berjalan secara prosedural, tetapi
kehilangan daya hidupnya.
Negara yang Terasa Jauh
Bagi sebagian warga, negara hadir terutama
dalam bentuk kewajiban: pajak, aturan, dan sanksi. Sementara dalam urusan
perlindungan dan pelayanan, kehadirannya sering terasa lambat atau tidak
merata. Ketika bencana datang, bantuan tiba setelah korban bertahan sendiri.
Ketika masalah muncul, birokrasi menjadi labirin yang melelahkan. Perasaan
ditinggalkan inilah yang memperdalam keletihan. Rakyat tidak hanya lelah secara
fisik, tetapi juga emosional lelah berharap dan berkali-kali kecewa.
Di tengah kelelahan sosial dan ekonomi, banyak
orang kembali mencari makna melalui agama. Tempat ibadah menjadi ruang
berlindung, doa menjadi cara bertahan. Agama menawarkan ketenangan di tengah
ketidakpastian, memberi makna ketika penjelasan rasional terasa buntu.
Namun, agama juga menghadapi tantangannya
sendiri. Ketika ia hanya menjadi pelarian individual tanpa daya kritis sosial,
ia berisiko menjauh dari realitas. Padahal, dalam tradisi keagamaan, iman tidak
hanya soal kesabaran, tetapi juga keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan.
Salah satu persoalan terbesar dari kelelahan
kolektif adalah ia jarang diakui. Rakyat dituntut untuk selalu tangguh, sabar,
dan beradaptasi. Keluhan mudah dicap sebagai kurang bersyukur, kritik dianggap
mengganggu stabilitas. Akibatnya, kelelahan dipendam, bukan diolah.
Padahal, kelelahan yang tidak diakui bisa
berubah menjadi apatis atau ledakan sosial. Ia menggerogoti kepercayaan, memudarkan
solidaritas, dan melemahkan daya tahan masyarakat dalam jangka panjang.
Meski lelah, negeri ini belum kehilangan
sepenuhnya daya hidupnya. Di banyak tempat, solidaritas warga tetap menyala.
Bantuan mengalir saat bencana, gotong royong tetap hidup, dan kepedulian muncul
dari bawah. Inisiatif-inisiatif kecil ini menjadi penyangga ketika sistem besar
terasa rapuh.
Solidaritas inilah yang membuat kelelahan
tidak berubah menjadi keputusasaan total. Ia menjadi pengingat bahwa harapan
tidak selalu datang dari atas, tetapi sering tumbuh dari sesama.
Akhir Tahun dan Pertanyaan yang Tertinggal
Akhir tahun seharusnya menjadi momen jeda,
bukan sekadar pergantian angka. Ia memberi ruang untuk bertanya dengan jujur:
mengapa kita begitu lelah? Apa yang perlu diubah agar hidup tidak terus-menerus
menjadi perjuangan?
Catatan akhir tahun ini bukan untuk meratap,
melainkan untuk menyadari. Negeri ini lelah karena terlalu sering dipaksa
berlari tanpa arah yang jelas. Rakyat ini letih karena terus diminta bertahan
tanpa kepastian.
Tahun boleh berganti. Tetapi tanpa keberanian
untuk memperbaiki cara mengelola negeri dan mendengar suara rakyat, kelelahan
hanya akan dibawa ke kalender berikutnya dengan beban yang semakin berat.
Sumber link: https://muhammadiyahsolo.com/20251229/catatan-akhir-tahun-negeri-ini-lelah-rakyat-ini-letih-13878

0 komentar:
Posting Komentar