Sabtu, 18 Oktober 2025

Published Oktober 18, 2025 by with 0 comment

Bahaya Panik


oleh : DR. Khoiruddin Bashori

Panik adalah respons emosional yang berlebihan terhadap ancaman yang dirasakan, baik nyata maupun imajiner. Panik terkait erat dengan “fight-or-flight response” (respons melawan atau lari) yang dikendalikan oleh amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab terhadap emosi, terutama rasa takut. Amigdala adalah sepasang struktur kecil di dalam otak yang memiliki bentuk menyerupai kacang almond (nama "Amigdala" berasal dari bahasa Yunani yang berarti almond). Ia adalah bagian yang sangat penting dari otak karena merupakan pusat pengolah emosi manusia.

Ketika seseorang mengalami panik amigdala menjadi hiperaktif, memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Prefrontal cortex, bagian otak yang mengelola pemikiran rasional, terganggu atau bahkan terhambat fungsinya. Prefrontal cortex bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, analisis logis, dan berpikir kritis. Dalam kondisi ini, seseorang tidak bisa lagi melakukan penalaran yang jernih.

Kepintaran tidak selalu menjamin seseorang akan tetap rasional dalam situasi genting. Daniel Goleman, seorang ahli psikologi emosional, memperkenalkan konsep “amygdala hijack”, yaitu kondisi di mana respons emosional mengambil alih kendali sebelum pikiran rasional bisa berfungsi.

Daniel Goleman adalah seorang psikolog, penulis, dan jurnalis sains Amerika yang dikenal secara global karena karyanya tentang Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence/EI atau EQ). Ia memperoleh gelar Ph.D. dari Harvard University dengan fokus pada psikologi klinis. Goleman juga pernah menjadi jurnalis sains untuk The New York Times selama lebih dari satu dekade, meliput topik ilmu otak dan perilaku manusia.

Dari perspektif psikologi, ketenangan bisa diperoleh melalui regulasi emosi dan pemahaman yang lebih luas tentang makna kehidupan.

"Cahaya Ilahi" dapat dimaknai sebagai spiritualitas dan kepercayaan yang mendalam, yang memiliki dampak besar terhadap ketenangan psikologis.

Orang yang memiliki kepercayaan spiritual kuat cenderung lebih mampu mengelola stres dan kecemasan. Dengan melatih kesadaran emosional, praktik spiritual, dan reframing kognitif, individu dapat mengubah panik menjadi ketenangan, memulihkan kemampuan otak rasional, dan bertindak secara bijaksana bahkan dalam situasi kritis.

      edit

0 komentar:

Posting Komentar