oleh : DR. Khoiruddin Bashori
Panik adalah respons emosional
yang berlebihan terhadap ancaman yang dirasakan, baik nyata maupun imajiner.
Panik terkait erat dengan “fight-or-flight response” (respons melawan
atau lari) yang dikendalikan oleh amigdala, bagian otak yang bertanggung
jawab terhadap emosi, terutama rasa takut. Amigdala adalah sepasang struktur kecil di dalam otak yang memiliki
bentuk menyerupai kacang almond (nama "Amigdala" berasal dari bahasa
Yunani yang berarti almond). Ia adalah bagian yang sangat penting dari
otak karena merupakan pusat pengolah emosi manusia.
Ketika seseorang mengalami panik
amigdala menjadi hiperaktif, memicu pelepasan hormon stres seperti
adrenalin dan kortisol. Prefrontal cortex, bagian otak yang mengelola
pemikiran rasional, terganggu atau bahkan terhambat fungsinya. Prefrontal
cortex bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, analisis logis, dan
berpikir kritis. Dalam kondisi ini, seseorang tidak bisa lagi melakukan
penalaran yang jernih.
Kepintaran tidak selalu menjamin
seseorang akan tetap rasional dalam situasi genting. Daniel Goleman,
seorang ahli psikologi emosional, memperkenalkan konsep “amygdala hijack”,
yaitu kondisi di mana respons emosional mengambil alih kendali sebelum pikiran
rasional bisa berfungsi.
Daniel Goleman adalah seorang psikolog, penulis, dan
jurnalis sains Amerika yang dikenal secara global karena karyanya tentang Kecerdasan
Emosional (Emotional Intelligence/EI atau EQ). Ia memperoleh gelar Ph.D.
dari Harvard University dengan fokus pada psikologi klinis. Goleman juga
pernah menjadi jurnalis sains untuk The New York Times selama lebih dari
satu dekade, meliput topik ilmu otak dan perilaku manusia.
Dari perspektif psikologi,
ketenangan bisa diperoleh melalui regulasi emosi dan pemahaman yang lebih luas
tentang makna kehidupan.
"Cahaya Ilahi" dapat dimaknai sebagai
spiritualitas dan kepercayaan yang mendalam, yang memiliki dampak besar
terhadap ketenangan psikologis.
Orang yang memiliki kepercayaan
spiritual kuat cenderung lebih mampu mengelola stres dan kecemasan. Dengan
melatih kesadaran emosional, praktik spiritual, dan reframing kognitif,
individu dapat mengubah panik menjadi ketenangan, memulihkan kemampuan otak
rasional, dan bertindak secara bijaksana bahkan dalam situasi kritis.

0 komentar:
Posting Komentar