Minggu, 12 Juli 2026

Published Juli 12, 2026 by with 0 comment

Spiritualitas Embun

 

oleh: Yudi Latif, Ph. D

Saudaraku, jadilah seperti embun.

Embun adalah hawa yang mendingin hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.

Demikian pula manusia. Saat panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia, melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.

Di situlah embun lahir. Ia tidak memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.

Embun tidak tinggal lama. Saat mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan bentuk yang sempat dipinjamnya.

Begitu pula kesadaran. Ketika cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang menghidupi.

Demikianlah embun menghilang: bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

      edit

0 komentar:

Posting Komentar