oleh: Yudi Latif, Ph. D
Saudaraku, jadilah seperti
embun.
Embun adalah hawa yang mendingin
hingga menjadi bening. Ia tidak jatuh dari langit atau datang dari tempat yang
jauh; ia lahir ketika panas kehilangan kehendaknya untuk menjadi lebih. Malam
tidak memadamkan apa pun, hanya memberi ruang bagi yang berlebihan untuk mereda
hingga yang mengembang belajar kembali kepada diamnya.
Demikian pula manusia. Saat
panas ego mendingin, batin dan nurani menjadi jernih, lahirlah kesadaran
spiritual yang tenang. Selama ego belum mereda, dunia hanya menjadi cermin yang
memantulkan diri sendiri. Maka jalan penjernihan bukan menjauh dari dunia,
melainkan mendinginkan jiwa agar cara memandang dunia menjadi bening.
Di situlah embun lahir. Ia tidak
memilih tempat singgah. Pada bunga maupun daun yang berdebu, ia tetap menjaga
kejernihannya. Kebeningan tidak diuji pada tempat yang bersih, melainkan pada
keberanian untuk tidak ikut menjadi keruh.
Embun tidak tinggal lama. Saat
mentari menyentuhnya, ia menguap tanpa kehilangan dirinya; hanya melepaskan
bentuk yang sempat dipinjamnya.
Begitu pula kesadaran. Ketika
cahaya pemahaman menyentuh batin, ego meluruh, batas antara diri dan semesta
perlahan memudar. Dari kelapangan itu, ia kembali mengalir sebagai
kehidupan—bukan lagi sebagai pusat yang menuntut, melainkan sebagai yang
menghidupi.
Demikianlah embun menghilang:
bukan sebagai kehilangan, melainkan perubahan rupa. Begitu pula jiwa. Ia tidak
pernah benar-benar hilang, hanya bergerak melalui bentuk-bentuk yang berbeda.
Mungkin di sanalah rahasianya: pulang bukan berarti kembali ke tempat yang
jauh, melainkan kembali menjadi suci di dalam diri sebagai fitrah kehadiran

0 komentar:
Posting Komentar