Senin, 29 Desember 2025

Published Desember 29, 2025 by with 0 comment

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Oleh: Rivaldi Tamapedung

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun, di balik semua itu, ada perasaan yang sulit disangkal kelelahan. Bukan lelah biasa, melainkan letih yang menumpuk, pelan tetapi dalam.

Negeri ini tampak terus bergerak, tetapi rakyatnya berjalan dengan napas yang semakin pendek. Kelelahan itu tidak selalu tampak di permukaan. Ia tidak selalu meledak dalam amarah atau protes besar. Ia lebih sering hadir dalam bentuk diam, apatis, dan pasrah. Orang-orang tetap bekerja, tetap beraktivitas, tetapi dengan daya tahan yang semakin menipis.

Sepanjang tahun, ruang publik dipenuhi oleh kabar yang berat. Bencana datang silih berganti, harga kebutuhan pokok naik turun tanpa kepastian, konflik politik tak kunjung reda, dan kasus-kasus ketidakadilan terus bermunculan. Setiap hari, masyarakat disuguhi realitas yang menuntut energi emosional besar hanya untuk dipahami, apalagi disikapi.

Berita buruk yang datang bertubi-tubi ini menciptakan kelelahan kolektif. Banyak orang akhirnya memilih menjauh dari berita, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak lagi sanggup menanggung beban psikologisnya. Dalam kondisi seperti ini, harapan mudah terkikis, dan rasa percaya perlahan menurun.

Ekonomi yang Bergerak, Hidup yang Terseok

Di atas kertas, ekonomi terus tumbuh. Angka-angka statistik menunjukkan perbaikan, grafik bergerak naik, dan optimisme terus disuarakan. Namun, di tingkat rumah tangga, cerita sering kali berbeda. Biaya hidup terasa semakin berat, sementara pendapatan berjalan di tempat.

Bagi banyak keluarga, bertahan hidup menjadi prioritas utama. Menabung adalah kemewahan, merencanakan masa depan terasa jauh. Kelelahan ekonomi ini tidak selalu dramatis, tetapi nyata. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil: menunda pengobatan, mengurangi gizi, atau menerima pekerjaan tambahan yang menguras tenaga.

Tahun politik selalu membawa hiruk-pikuk. Janji dilontarkan, slogan dikumandangkan, dan perdebatan memenuhi ruang publik. Namun, di balik keramaian itu, banyak warga merasa tidak benar-benar didengar. Politik terasa dekat di layar, tetapi jauh dalam kehidupan nyata.

Kelelahan politik muncul ketika partisipasi tidak berbanding lurus dengan perubahan. Ketika suara disalurkan, tetapi kebijakan tetap berjarak dari kebutuhan rakyat. Dalam situasi seperti ini, sinisme tumbuh subur. Demokrasi tetap berjalan secara prosedural, tetapi kehilangan daya hidupnya.

Negara yang Terasa Jauh

Bagi sebagian warga, negara hadir terutama dalam bentuk kewajiban: pajak, aturan, dan sanksi. Sementara dalam urusan perlindungan dan pelayanan, kehadirannya sering terasa lambat atau tidak merata. Ketika bencana datang, bantuan tiba setelah korban bertahan sendiri. Ketika masalah muncul, birokrasi menjadi labirin yang melelahkan. Perasaan ditinggalkan inilah yang memperdalam keletihan. Rakyat tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga emosional lelah berharap dan berkali-kali kecewa.

Di tengah kelelahan sosial dan ekonomi, banyak orang kembali mencari makna melalui agama. Tempat ibadah menjadi ruang berlindung, doa menjadi cara bertahan. Agama menawarkan ketenangan di tengah ketidakpastian, memberi makna ketika penjelasan rasional terasa buntu.

Namun, agama juga menghadapi tantangannya sendiri. Ketika ia hanya menjadi pelarian individual tanpa daya kritis sosial, ia berisiko menjauh dari realitas. Padahal, dalam tradisi keagamaan, iman tidak hanya soal kesabaran, tetapi juga keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan.

Salah satu persoalan terbesar dari kelelahan kolektif adalah ia jarang diakui. Rakyat dituntut untuk selalu tangguh, sabar, dan beradaptasi. Keluhan mudah dicap sebagai kurang bersyukur, kritik dianggap mengganggu stabilitas. Akibatnya, kelelahan dipendam, bukan diolah.

Padahal, kelelahan yang tidak diakui bisa berubah menjadi apatis atau ledakan sosial. Ia menggerogoti kepercayaan, memudarkan solidaritas, dan melemahkan daya tahan masyarakat dalam jangka panjang.

Meski lelah, negeri ini belum kehilangan sepenuhnya daya hidupnya. Di banyak tempat, solidaritas warga tetap menyala. Bantuan mengalir saat bencana, gotong royong tetap hidup, dan kepedulian muncul dari bawah. Inisiatif-inisiatif kecil ini menjadi penyangga ketika sistem besar terasa rapuh.

Solidaritas inilah yang membuat kelelahan tidak berubah menjadi keputusasaan total. Ia menjadi pengingat bahwa harapan tidak selalu datang dari atas, tetapi sering tumbuh dari sesama.

Akhir Tahun dan Pertanyaan yang Tertinggal

Akhir tahun seharusnya menjadi momen jeda, bukan sekadar pergantian angka. Ia memberi ruang untuk bertanya dengan jujur: mengapa kita begitu lelah? Apa yang perlu diubah agar hidup tidak terus-menerus menjadi perjuangan?

Catatan akhir tahun ini bukan untuk meratap, melainkan untuk menyadari. Negeri ini lelah karena terlalu sering dipaksa berlari tanpa arah yang jelas. Rakyat ini letih karena terus diminta bertahan tanpa kepastian.

Tahun boleh berganti. Tetapi tanpa keberanian untuk memperbaiki cara mengelola negeri dan mendengar suara rakyat, kelelahan hanya akan dibawa ke kalender berikutnya dengan beban yang semakin berat.

Sumber link: https://muhammadiyahsolo.com/20251229/catatan-akhir-tahun-negeri-ini-lelah-rakyat-ini-letih-13878

 

Read More
      edit

Selasa, 16 Desember 2025

Published Desember 16, 2025 by with 0 comment

Sumbangsih Muhammadiyah

 

Prof. Syafi'i Ma'arif menulis

"Tidak diragukan lagi, bahwa Muhammadiyah telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam kerja mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Amalannya di bidang sosial dan kemanusiaan sudah semakin membengkak. Tapi mampukah Muhammadiyah membingkai masa depan dengan bingkai Islam?”

Jawabannya akan banyak tergantung pada kualitas yang dimiliki gerakan ini. Untuk tujuan ini kita berpendapat bahwa Muhammadiyah harus tampil sebagai gerakan lmu di samping gerakan sosial dan amal kemanusiaan. Klaimnya sebagai gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar, barulah akan punya makna strategis manakala ditopang oleh kemampuan yang tinggi di bidang ilmu. Tanpa itu, hanya mukjizat sajalah yang akan membawa Muhammadiyah kepada capaian tujuannya.

Sepanjang sejarah, Muhammadiyah lebih mengesankan gerakan amal kemanusiaan tinimbang gerakan ilmu, sekalipun kiprahnya di bidang pendidikan luar biasa hebatnya. Kalimat pertama ini telah mengandung sebuah paradoks. Mengapa? Karena dikatakan bahwa kiprah yang begitu hebat di bidang pendidikan belum tentu selalu merupakan indikator dari sebuah gerakan ilmu yang bernilai strategis secara intelektual.

Gerakan ilmu dengan landasan iman menurut yang saya pahami dari al Qur’an pastilah akan mampu membingkai masa depan peradaban yang ramah dan kreatif. Pusat-pusat pendidikan Muhammadiyah yang ada sekarang ini tampaknya masih memerlukan pembenahan-pembenahan yang mendasar, terutama yang menyangkut masalah orientasi keislaman dan kemanusiaan di dalamnya.

Produk-produk perumusan Islam formal yang diajarkan pada pusat-pusat pendidikan itu memang mengandung gagasan-gagasan besar, tapi ditampilkan dalam kemiskinan nuansa dan dalam kualitas Bahasa yang masih perlu perbaikan.


Read More
      edit